NAHDLATUL Ulama (NU) dan Indonesia tidak bisa dipisahkan. Peran dan perjuangan NU dalam setiap periode sejarah Indonesia tidak perlu diragukan lagi.
Sejak perang meraih kemerdekaan, NU sudah berdiri di garis depan untuk melawan penjajahan. Organisasi yang berdiri pada 31 Januari 1926 ini berjuang dengan tangguh dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia meskipun sejarah peran kaum santri dan Kiai tidak tercatat dalam lembaran sejarah sebelum terorganisir dalam Jam’iah NU.
- NU di Masa Penjajahan Belanda
Belanda yang telah menjajah Indonesia selama 350 tahun membuat geram pribumi. Sikap kolonialismenya menumbuhkan ketidakpuasan dalam masyarakat Indonesia hingga akhirnya pemuka agama menghimpun kekuatan melalui dunia pesantren yang bernama Nahdlatul Ulama.
Baca Juga: Wapres Maruf: NU Selalu Siap Relakan Kadernya Duduk di Kursi Pemerintahan
Saat itu, NU bangkit menghimpun hizbullah untuk melawan Belanda yang dianggap kafir dan zalim. Melalui kekuatannya, NU mampu memunculkan kelompok baru yang disebut ulama dan santri.
- NU di Masa Penjajahan Jepang
Saat masa penjajahan Jepang, kaum ulama dan kiai diberi jabatan oleh Jepang. KH Hasyim Asy’ari pada saat itu ditunjuk sebagai ketua Shumubu (Kepala Kantor Urusan Agama). NU juga berperan penting dalam organisasi Masyumi bentukan Jepang.
Sebagian besar tokoh NU dijadikan pengurus, seperti KH Hasyim Asy’ari sebagai ketua pertama Masyumi dan Wahab Chasbullah sebagai penasihat dewan pelaksana. Selain itu puluhan ribu anggota NU dilatih secara militer dalam PETA (Pembela Tanah Air).
Baca Juga: Wapres Maruf: Hasil Muktamar NU Menggembirakan Pemerintah