NEW YORK – Akhir November 2021, publik dikagetkan dengan informasi varian baru dari Covid-19 yang diberi nama Omicron.
Varian Omicron ini pertama kali dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dari Afrika Selatan (Afsel) pada 24 November tahun lalu. Virus ini juga telah diidentifikasi di Botswana, Belgia, Hong Kong dan Israel.
Sejak saat itu, sejumlah negara yaitu Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, Jerman, Prancis, dan negara Uni Eropa (UE) lainnya telah memutuskan untuk melarang atau membatasi perjalanan ke dan dari Afrika Selatan (Afsel), Namibia, Zimbabwe, Botswana, Lesotho, Eswatini, dan lainnya.
WHO mengatakan jumlah kasus varian ini, awalnya bernama B.1.1.529, tampaknya meningkat di hampir semua provinsi Afrika Selatan. "Varian ini memiliki sejumlah besar mutasi, beberapa di antaranya mengkhawatirkan," terang WHO dalam sebuah pernyataan. WHO menyatakan infeksi B.1.1.529 pertama yang diketahui dikonfirmasi berasal dari spesimen yang dikumpulkan pada 9 November tahun lalu.
Baca juga: Varian Omicron Melonjak, 4.000 Lebih Penerbangan Dibatalkan di Seluruh Dunia
Kala itu, dibutuhkan beberapa waktu untuk memahami dampak varian baru, karena para ilmuwan bekerja untuk menentukan seberapa menularnya.
Saat ini, varian Omicron dilaporkan sudah masuk ke hampir 77 negara. Diantaranya yakni Afrika Selatan, Belgia, Botswana, Inggris, Denmark, China, Jerman, Hong Kong, Israel, Italia, Belanda, Prancis, Kanada, dan lainnya. Termasuk Indonesia.
Baca juga: Luhut Kalau Anda Lihat Tak Ada Negara di Dunia yang Telaten Tangani Covid-19 seperti Indonesia
Varian Omicron resmi masuk tanah air pada 16 Desember tahun lalu yang terdeteksi menginfeksi seorang pekerja pembersih di Wisma Atlet berinisial N. Ini didasarkan pada hasil analisa genom sekuensing yang diterima Kemenkes RI pada 15 Desember 2021.
Varian Omicron mulai dilaporkan menyebabkan kematian di beberapa negara. Seperti AS, Inggris, Jerman, dan Australia.
Tahun ini, varian Omicron disebut-sebut masih akan menjadi ancaman untuk tahun ini? Pada Desember tahun lalu, Direktur WHO di Eropa Hans Kluge telah memperingatkan lonjakan kasus Omicron akan mendorong sistem kesehatan Eropa ke jurang. Kluge mengatakan "badai lain" akan datang dan pemerintah harus bersiap untuk peningkatan kasus yang signifikan. Peringatan ini datang ketika beberapa negara memberlakukan kembali pembatasan jarak sosial.
Selain itu, WHO pusat juga mengatakan risiko akibat varian Omicron masih "sangat tinggi", setelah jumlah kasus Covid-19 terus melonjak.
WHO dalam pembaruan epidemiologi mingguan Covid-19 menyatakan Omicron berada di belakang lonjakan virus yang cepat di beberapa negara, termasuk melampaui varian Delta yang sebelumnya dominan.
Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kombinasi varian Delta dan Omicron mendorong tsunami berbahaya dari kasus Covid-19. Hal ini diungkapkan Tedros ketika AS dan negara-negara di seluruh Eropa melaporkan rekor kasus baru. Dr Tedros memperingatkan itu adalah "ancaman kembar" dari dua varian yang berada di balik beban kasus keseluruhan. "Ini dan akan terus memberikan tekanan besar pada petugas kesehatan yang kelelahan, dan sistem kesehatan di ambang kehancuran," ujarnya.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.