Share

Ngerinya Kerusuhan Berdarah di Kazakhstan, Polisi Dipenggal, Puluhan Orang Ditembak Mati

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 07 Januari 2022 06:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 07 18 2528603 ngerinya-kerusuhan-berdarah-di-kazakhstan-polisi-dipenggal-puluhan-orang-ditembak-mati-YVuwmxyyVm.jpg Polisi bersiaga di tengah kerusuhan di Almaty, Kazakhstan. 5 Januari 2022. (Foto: AP)

ALMATY – Kerusuhan berdarah yang pecah di Kazakhstan pada Kamis (6/1/2022) telah menelan puluhan korban jiwa, dengan ribuan lainnya luka-luka. Ini merupakan kerusuhan terburuk yang terjadi di negara bekas Uni Soviet itu sejak 30 tahun kemerdekaannya.

Setidaknya 18 petugas polisi dan tentara tewas dalam bentrokan yang terjadi di kota-kota utama Kazahstan. Keterangan pihak berwenang yang dilansir Reuters menyebutkan bahwa setidaknya dua petugas keamanan ditemukan dengan kondisi terpenggal.

BACA JUGA: Kerusuhan Berdarah Pecah di Kazakhstan, Rusia Kirimkan Pasukan

Hanya angka-angka yang terkait dengan korban polisi dan militer yang dipublikasikan oleh pihak berwenang.

Tidak ada informasi resmi yang tersedia tentang pengunjuk rasa, perusuh atau apa yang disebut otoritas Kazakh sebagai “geng teroris”, yang terbunuh atau terluka, demikian diwartakan RT. Namun, polisi di Almaty mengatakan telah menembak mati puluhan perusuh hingga Kamis dini hari.

Almaty, yang dikenal sebagai "ibu kota selatan" di Kazakhstan, kota metropolis terbesar di negara itu telah menjadi hotspot protes, yang kemudian meningkat menjadi kerusuhan, pembakaran dan penjarahan gedung-gedung administrasi, bisnis dan pusat perbelanjaan.

Angka yang diperbarui diterbitkan oleh kementerian dalam negeri Kazakstan pada Kamis malam. Hampir 750 penegak hukum telah menerima berbagai cedera dalam kerusuhan yang sedang berlangsung.

BACA JUGA: Kassym-Jomart Tokayev Dilantik Menjadi Presiden Baru Kazakhstan

Seorang pejabat PBB pada Kamis mengatakan bahwa korban luka-luka di pihak warga sipil hampir mencapai ribuan orang.

“Hampir 1.000 orang dilaporkan terluka dalam protes tersebut,” kata Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) dalam sebuah pernyataan pada Kamis, tanpa merinci sumber dari angka tersebut. OHCHR mendesak semua pihak di Kazakhstan untuk menahan diri dari kekerasan dan mencari resolusi damai.

Pihak berwenang Almaty merespons kerusuhan dengan operasi polisi besar-besaran pada Kamis, dan tembakan senjata berat terdengar di Republic Square pusat, di mana ratusan pengunjuk rasa sebelumnya berkumpul. Penegakan hukum mengatakan mereka berhasil mengamankan daerah itu, dengan operasi yang sedang berlangsung di bagian lain Almaty.

Kantor wali kota dan kediaman presiden di Almaty terbakar setelah konfrontasi antara pengunjuk rasa dan tentara yang berlangsung semalaman.

Personel militer mendapatkan kembali kendali atas bandara utama, yang sebelumnya direbut oleh pengunjuk rasa. Pertempuran baru antara pengunjuk rasa dan tentara kembali pecah di alun-alun utama Almaty pada Kamis malam, lokasi itu diduduki secara bergantian oleh pasukan dan ratusan pengunjuk rasa sepanjang hari.

Kementerian dalam negeri mengatakan pada Kamis malam bahwa pihaknya terus mencari perusuh, menahan pelanggar hukum di seluruh negeri. Kementerian memperingatkan bahwa mereka yang melakukan "perlawanan bersenjata" kepada polisi dan militer, akan "disingkirkan".

Kazakhstan telah menyaksikan gelombang kerusuhan, yang dimulai sebagai protes massal yang dipicu oleh kenaikan dua kali lipat harga bahan bakar gas cair pada awal tahun baru. Protes, yang dimulai di barat daya negara itu, segera meluas ke wilayah lain, tumbuh semakin politis dan penuh kekerasan.

Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev pada Rabu (5/1/2022) menyebut kerusuhan itu sebagai “serangan teroris” terhadap negara itu. Dia menyalahkan kekerasan pada kelompok-kelompok terorganisir dan terlatih asing yang diduga bertindak di antara para pengunjuk rasa.

Tokayev juga telah meminta bantuan kepada Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) yang dipimpin Rusia, dengan pasukan penjaga perdamaian pertama telah dikirim ke negara itu. CSTO adalah perjanjian keamanan antara enam negara bekas Soviet, yang menggabungkan Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgistan, Rusia, dan Tajikistan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini