KAZAKHSTAN - Presiden Kassym-Jomart Tokayev pada Jumat (7/1) memerintahkan pasukan keamanan untuk melepaskan tembakan tanpa peringatan untuk membubarkan kerusuhan terburuk di Kazakhstan dalam beberapa dekade.
Tokayev mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa hingga 20.000 "bandit" telah menyerang ibu kota keuangan Almaty dan menghancurkan properti negara. Dia mengatakan pasukan penjaga perdamaian yang dikirim dari Rusia dan negara-negara tetangga telah tiba atas permintaan Kazakhstan dan berada di negara itu untuk sementara guna memastikan keamanan.
Presiden juga berterima kasih kepada Presiden Rusia Vladimir Putin serta para pemimpin China, Uzbekistan dan Turki atas bantuan mereka dalam membubarkan kerusuhan.
Sebelumnya, Tokayev mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tatanan konstitusional telah "sebagian besar dipulihkan" di seluruh negeri, menambahkan bahwa operasi keamanan akan berlanjut "sampai penghancuran total para militan".
Baca juga: Ngerinya Kerusuhan Berdarah di Kazakhstan, Polisi Dipenggal, Puluhan Orang Ditembak Mati
Kementerian dalam negeri Kazakhstan mengatakan pada Jumat (7/1) bahwa 26 "penjahat bersenjata" telah "dilikuidasi" dan lebih dari 3.000 dari mereka ditahan, sementara 18 polisi dan prajurit penjaga nasional telah tewas sejak dimulainya protes minggu ini.
Koresponden Reuters melihat mobil lapis baja dan prajurit militer di alun-alun utama Almaty, tempat tentara menembaki pengunjuk rasa sehari sebelumnya.
Baca juga: Kerusuhan Berdarah Pecah di Kazakhstan, Rusia Kirimkan Pasukan
Diketahui, para pengunjuk rasa bersenjata telah bertempur dengan pasukan pemerintah di kota utama Kazakhstan, Almaty, di tempat yang telah lama dilihat sebagai salah satu yang paling stabil di antara bekas republik Soviet di Asia Tengah.
Para pejabat mengatakan lebih dari 1.000 orang terluka dalam kerusuhan itu, dengan hampir 400 dirawat di rumah sakit dan 62 dalam perawatan intensif.
Aksi demonstrasi ini telah menyebabkan banyak kekacauan, termasuk gangguan komunikasi yang meluas seperti sinyal ponsel, pemblokiran pengirim pesan online, dan penutupan internet selama berjam-jam.
Sementara itu, kementerian pertahanan Rusia mengkonfirmasi, unit pertama pasukan Rusia dari pasukan penjaga perdamaian yang dipimpin Moskow telah tiba di Kazakhstan, setelah pemerintah Kazakhstan meminta bantuan.
Pemerintahan Tokayev mengatakan pasukan penjaga perdamaian aliansi militer yang dipimpin Moskow dari negara-negara bekas Soviet tidak akan terlibat dalam pertempuran atau dalam ‘pemusnahan militan’.
Kekerasan belum pernah terjadi sebelumnya di negara yang diperintah dengan tegas sejak zaman Soviet oleh pemimpin Nursultan Nazarbayev, 81, yang memegang kendali meskipun mengundurkan diri tiga tahun lalu sebagai presiden.
Pemberontakan, yang dimulai sebagai protes terhadap kenaikan harga bahan bakar pada Hari Tahun Baru, semakin membara pada Rabu (5/1), ketika pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan menentang Nazarbayev menyerbu dan membakar gedung-gedung publik di Almaty dan kota-kota lain. Para pengunjuk rasa menuduh keluarga dan sekutu Nazarbayev mengumpulkan kekayaan besar sementara negara berpenduduk 19 juta itu tetap miskin.
Tokayev mencoba mencegah kerusuhan lebih lanjut dengan mengumumkan pengunduran diri kabinet pada Rabu (5/1) pagi, tetapi protes terus berlanjut. Ketika kerusuhan meningkat, pihak berwenang mengumumkan keadaan darurat nasional hingga 19 Januari mendatang, dengan jam malam, pembatasan pergerakan, dan larangan pertemuan massal.
Pemerintah juga tak tinggal diam dan mencoba membuat konsesi lain pada Kamis (6/1), menetapkan batas harga bahan bakar baru selama enam bulan, dengan mengatakan langkah-langkah "mendesak" diperlukan "untuk menstabilkan situasi sosial-ekonomi".
'Kelompok teroris'
Di bawah tekanan yang meningkat, Tokayev pada Rabu (5/1) mengajukan banding ke Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) yang didominasi Rusia, yang mencakup lima negara bekas Soviet lainnya, untuk memerangi apa yang disebutnya “kelompok teroris” yang telah “menerima pelatihan ekstensif di luar negeri”.
Dalam beberapa jam aliansi mengatakan pasukan pertama telah dikirim – termasuk pasukan terjun payung Rusia dan unit militer dari anggota CSTO lainnya – dalam aksi bersama besar pertama sejak didirikan pada 1999.
Menurut kepresidenan Kazakhstan, pasukan penjaga perdamaian akan memberikan perlindungan dan fungsi keamanan. Kantor berita RIA mengutip sekretaris jenderal aliansi pada Kamis (6/1) jika jumlah pasukan keamanan sekitar 2.500 dan akan tinggal di Kazakhstan selama beberapa hari atau minggu.
Kementerian luar negeri Rusia menggambarkan kerusuhan itu sebagai “upaya yang diilhami dari luar untuk merusak keamanan dan integritas” Kazakhstan.
Negara-negara Barat telah menyerukan agar semua pihak menahan diri. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price memperingatkan pasukan Rusia di Kazakhstan agar tidak mengambil kendali atas lembaga-lembaga negara.
“Amerika Serikat dan, sejujurnya, dunia akan mengawasi setiap pelanggaran hak asasi manusia,” terangnya.
Pemimpin oposisi Kazakh yang berbasis di Prancis Mukhtar Ablyazov mengatakan bahwa rezim yang berkuasa di negara itu hampir berakhir.
“Sekarang tinggal pertanyaan berapa lama,” kata mantan menteri energi itu kepada AFP dalam sebuah wawancara.
"Secara harfiah dalam tiga hari sebuah revolusi terjadi, dan itu benar-benar sebuah revolusi dalam kesadaran publik ... orang-orang mengerti bahwa mereka tidak lemah,” lanjutnya.
(Susi Susanti)