Rusia Tarik Pasukan Militer Keluar dari Kazakhstan Usai Bantu Atasi Kerusuhan

Antara, · Jum'at 14 Januari 2022 11:26 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 14 18 2532096 rusia-tarik-pasukan-militer-keluar-dari-kazakhstan-usai-bantu-atasi-kerusuhan-BJNvEherBW.jpg Pasukan militer Rusia (Foto: Antara/Reuters)

ALMATY Rusia mulai menarik pasukan militernya keluar dari Kazakhstan setelah dikerahkan selama seminggu untuk mengatasi kerusuhan terburuk dalam sejarah negara Asia Tengah itu.

Diketahui, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev pekan lalu meminta bantuan dari Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) setelah protes damai, yang awalnya dipicu oleh kenaikan tajam harga bahan bakar mobil, berubah menjadi kekerasan di banyak kota besar.

“Berkat kedatangan Anda, militer Kazakhstan dan pasukan keamanan dapat melaksanakan tugas mereka untuk segera menemukan dan menahan para bandit,” kata Wakil Menteri Pertahanan Kazakhstan Mukhamedzhan Talasov kepada pasukan CSTO, dalam upacara keberangkatan di Almaty pada Kamis (13/1).

 Baca juga: Kerusuhan di Kazakhstan, 164 Orang Dilaporkan Tewas, 6.044 Ditahan

Pihak berwenang Kazakhstan mengumumkan penyelesaian dari apa yang mereka sebut "operasi antiteroris" di sebagian besar negara itu pada Rabu (12/1), meskipun mereka belum menyatakan kota terbesar, Almaty, sepenuhnya aman.

Baca juga: Dubes RI: WNI di Kazakhstan dalam Keadaan Aman

Tidak jelas berapa banyak dari sekitar 2.500 pasukan yang dikirim oleh CSTO itu yang segera meninggalkan Kazakhstan.

Aliansi tersebut mengatakan bahwa kontingen penjaga perdamaian akan membutuhkan waktu 10 hari untuk mundur sepenuhnya.

Pasukan CSTO pertama kali dikerahkan ke gedung-gedung pemerintah di Ibu Kota Nur-Sultan, yang jauh dari pusat kerusuhan. Mereka kemudian menjaga beberapa objek infrastruktur utama di Almaty, seperti pembangkit listrik besar.

Pihak berwenang telah menahan hampir 10.000 orang atas kerusuhan. Selama kekacauan itu, beberapa pengunjuk rasa menyerang pasukan keamanan, merebut dan membakar gedung-gedung pemerintah, dan menjarah toko-toko.

Pihak berwenang mengatakan beberapa penyerang adalah orang asing yang dilatih oleh kelompok militan Islam.

Tokayev tidak memerinci siapa orang asing yang dimaksud. Sementara itu, sang presiden telah memecat beberapa pejabat keamanan seniornya, yang kemudian didakwa melakukan pengkhianatan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) Antony Blinken menyatakan keprihatinannya atas pengerahan pasukan Rusia. Pernyataan ini disebut-sebut memicu kemarahan Kremlin, kantor presiden Rusia.

Sebagian masyarakat Kazakhstan setuju dengan komentar Blinken bahwa Kazakhstan mungkin akan kesulitan menyingkirkan pasukan Rusia setelah membiarkan mereka masuk.

Namun, Tokayev mengatakan tidak ada pasukan asing yang akan tetap berada di negara itu setelah 23 Januari mendatang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini