Share

Suku Inca Jadi Kerajaan Terbesar dalam Sejarah Amerika Selatan, Ini Strateginya

Agregasi BBC Indonesia, · Jum'at 21 Januari 2022 03:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 20 18 2535318 suku-inca-jadi-kerajaan-terbesar-dalam-sejarah-amerika-selatan-ini-strateginya-dQbZGFa8Io.jpg Ladang bertingkat yang disebut sebagai andenes dapat ditemukan di lereng-lereng curam di Andes tengah. (Foto: Getty)

TEKNIK pertanian bertingkat yang tampaknya sederhana, disebut andenes, membantu suku Inca menjadi kerajaan terbesar dalam sejarah Amerika Selatan.

Pada abad ke-15 hingga awal abad ke-16, sebuah pulau kecil di Danau Titicaca menjadi salah satu situs keagamaan paling penting di Amerika Selatan.

Dipuji sebagai tempat kelahiran Matahari, Bulan dan dinasti Inca, Isla del Sol ("Pulau Matahari") menarik peziarah dari seluruh Andes, pegunungan di sepanjang pantai barat Amerika Selatan.

Penjelajah Inggris Percy Harrison Fawcett yang berkunjung ke Isla del Sol mengatakan bahwa kondisi pulau itu, yang berada di ketinggian 3.182 meter di atas permukaan laut, menjadikannya sebagai satu-satunya tempat di bumi yang dapat membuat seseorang "menderita mabuk laut dan mabuk gunung secara bersamaan".

Setelah berlabuh di pantai timur laut Isla del Sol, pengunjung akan mengikuti jalur pendakian yang berusia berabad-abad. Sepanjang jalur pendakian itu akan terlihat sejumlah reruntuhan Inca dan pra-Inca - tambos (perhentian jalan), tempat suci, kuil, alun-alun, altar, dan kompleks upacara yang mencakup Titikala, sebuah lempengan batu pasir dari mana dewa pencipta Andes Viracocha dikatakan telah melahirkan Matahari dan Bulan.

Selain situs-situs kuno dan pemandangan Cordillera Real yang diselimuti salju, dari jalur pendakian itu juga terlihat ladang bertingkat yang meliuk-liuk di sepanjang lereng bukit Isla del Sol.

Teknik pertanian bertingkat, andenes

Teknik pertanian bertingkat yang tampak sederhana ini adalah kunci bagi Inca membangun kerajaan terbesar dalam sejarah Amerika Selatan.

Dikenal sebagai andenes (bahasa Spanyol untuk "platform"), ladang bertingkat ini tersebar di Andes tengah.

Teknik ini pertama kali dibangun sekira 4.500 tahun yang lalu oleh budaya kuno di wilayah sekitar.

Kemudian, suku Inca yang muncul pada abad ke-12 dan ahli dalam mengadopsi teknik, strategi, sistem kepercayaan dari masyarakat lain, menyempurnakan metode itu.

Andenes, kata Cecilia Pardo Grau, kurator saat ini di British Museum, Peru: a journey in time exhibition, adalah "cara kreatif menentang lahan... yang memungkinkan cara yang efisien untuk menanam (tanaman)".

Teknik ini memungkinkan komunitas Andes untuk mengatasi lingkungan yang menantang, termasuk lereng curam, tanah tipis, suhu yang ekstrim dan berfluktuasi tajam, dan curah hujan yang sedikit atau musiman.

Diberi makan oleh kolam buatan dan sistem irigasi yang rumit, komunitas Andes secara signifikan memperluas area lahan yang bisa ditanami.

Cara ini juga menghemat air, mengurangi erosi tanah dan - berkat dinding batu yang menyerap panas di siang hari dan kemudian melepaskannya di malam hari - melindungi tanaman dari salju yang parah.

Hal ini memungkinkan para petani menanam lusinan tanaman yang berbeda, dari jagung dan kentang hingga quinoa dan koka, yang banyak di antaranya tidak akan bertahan di wilayah tersebut.

Hasilnya adalah peningkatan dramatis jumlah makanan yang diproduksi.

Di luar kecerdikan mereka, andena juga memiliki kualitas artistik, membentuk pola geometris yang luas di lanskap Andes.

Beberapa terlihat seperti tangga hijau raksasa yang diukir di lereng gunung, sementara yang lain dibentuk dari rangkaian lingkaran konsentris, menarik perhatian seperti ilusi optik.

Situs arkeologi Moray

Salah satu yang paling mengesankan adalah situs arkeologi Peru Moray, yang menyerupai amfiteater (gelanggang terbuka) alami.

Terletak sekitar 50 kilometer di utara bekas ibu kota Inca, Cuzco dan 3.500 meter di atas permukaan laut, Moray menunjukkan bagaimana andena digunakan untuk menciptakan berbagai iklim mikro.

Berkat berbagai desain, ukuran, kedalaman, dan orientasi teras, perbedaan suhu antara yang tertinggi dan terendah adalah sekitar 15C.

Moray digambarkan sebagai "stasiun penelitian pertanian": sampel tanah dari seluruh kerajaan telah ditemukan di sini.

Para peneliti berpendapat bahwa suku Inca mungkin telah menggunakan situs Moray untuk bereksperimen dengan praktik seperti rotasi tanaman, domestikasi, dan hibridisasi.

Teknik pertanian yang canggih seperti andenes memainkan peran penting dalam perluasan kerajaan Inca, yang dikenal sebagai Tawantinsuyu.

Wilayahnya membentang di sebagian besar Peru modern, Bolivia barat, barat daya Ekuador, Kolombia barat daya, Argentina barat laut dan Chili utara pada puncaknya.

Salah satu catatan tertua yang masih ada tentang penggunaannya berasal dari Garcilaso de la Vega (1539-1616), putra seorang perempuan bangsawan Inca dan seorang penakluk Spanyol.

Setelah merebut wilayah baru, suku Inca mulai memperluas jumlah lahan pertanian dengan mendatangkan insinyur yang terampil, de la Vega mencatat dalam bukunya, Komentar Kerajaan dari Suku Inca.

"Setelah menggali saluran (irigasi), mereka meratakan dan membentuknya sehingga air irigasi dapat didistribusikan secara memadai," tulisnya.

"Mereka membangun teras di gunung dan lereng bukit, di mana pun tanahnya bagus… Dengan cara ini seluruh bukit secara bertahap ditanami, platform diratakan seperti tangga dan semua tanah yang bisa ditanami dan diairi digunakan. "

Tanah baru yang diperluas kemudian dibagi menjadi tiga bagian: satu untuk raja Inca; satu untuk tujuan keagamaan; dan satu untuk komunitas, yang potongannya kemudian dibagikan oleh para pemimpin lokal.

Meskipun mereka tidak dikenai pajak, para petani diharuskan untuk bekerja di tanah raja dan tanah keagamaan, serta tanah mereka sendiri.

Teknik seperti andene digabungkan dengan kebijakan seperti mitma, di mana orang dipindahkan ke wilayah yang baru saja ditaklukkan untuk membantu memperkuat kontrol Inca.

Ada juga aturan mit'a, pelayanan publik wajib yang digunakan untuk menyediakan tenaga kerja dalam membangun infrastruktur, termasuk jaringan jalan sepanjang puluhan ribu kilometer.

Pendekatan terhadap organisasi pertanian, komunitas, dan kerajaan ini memungkinkan suku Inca mengumpulkan surplus besar makanan untuk digunakan selama kekeringan, banjir, konflik, dan masa paceklik lainnya.

Persediaan makanan ini - termasuk chuño, kentang beku-kering yang dihasilkan oleh paparan berulang kali terhadap embun beku dan sinar matahari yang cerah - disimpan di gudang besar yang disebut qullqas.

Quipu, sistem perhitungan

Di tengah tidak adanya bahasa tertulis, suku Inca menggunakan sistem kompleks dari benang-benang yang diikat dengan warna-warni yang dikenal sebagai quipu (atau khipu) untuk memelihara inventaris, serta melacak populasi dan data astronomi.

Beberapa akademisi percaya quipu bahkan mungkin telah digunakan untuk merekam narasi seperti cerita, lagu, dan puisi.

Grau berpendapat bahwa quipu - contohnya dipajang di pameran British Museum - merupakan pusat masyarakat Inca.

"Mereka mewarisi pengetahuan ini dari Wari, masyarakat yang ada di dataran tinggi selatan, 400 tahun sebelum Inca," katanya.

"Suku Inca menggunakan sistem desimal: mereka memiliki simpul yang berbeda untuk setiap angka dari satu sampai sembilan, dan kemudian untuk puluhan, ratusan dan ribuan... quipu adalah kunci dalam cara kerajaan berfungsi dan diatur."

Pada akhirnya, teknik andenes, cadangan makanan dan metode quipu membantu suku Inca untuk terus memperluas kerajaan yang akhirnya mendominasi petak-petak besar Amerika Selatan, mencakup 12 juta orang dan menghasilkan benteng megah seperti Machu Picchu.

Tetapi kedatangan para penakluk Spanyol pada abad ke-16 memicu penggulingan suku Inca dan penurunan teknik andenes.

Kekerasan kolonial, epidemi penyakit Eropa dan pemindahan paksa menghancurkan penduduk asli Andes tengah.

Tanaman dan praktik pertanian Eropa diperkenalkan dan dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah.

Ketika banyak andenes ditinggalkan atau rusak, namun teknik ini tidak pernah hilang sama sekali.

Berdasarkan pengetahuan yang diturunkan dari generasi ke generasi, banyak petani Andes terus menggunakannya hingga hari ini.

Meskipun sering diabaikan oleh para pelancong, andena tetap menjadi pemandangan umum di tempat-tempat seperti Isla del Sol dan wilayah Titicaca yang lebih luas, Lembah Suci dekat Machu Picchu, dan Colca Canyon di Peru selatan, celah dua kali kedalaman Grand Canyon.

Dalam beberapa tahun terakhir, tumbuh minat akademis atas andena sebagai bentuk pertanian berkelanjutan yang dapat membantu dunia mengatasi krisis iklim, kelangkaan air, dan erosi tanah.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, misalnya, menggambarkan budaya tradisional Andes sebagai "salah satu contoh terbaik dari adaptasi dan pengetahuan petani terhadap lingkungan mereka".

Badan tersebut juga menyoroti pendekatan berkelanjutan teknik bertani ini terhadap penggunaan lahan, pengelolaan air, perlindungan tanah dan keanekaragaman hayati tanaman.

Empat ribu lima ratus tahun setelah pertama kali muncul, lahan bertingkat di Andes kini tampak lebih maju dan lestari. Ini bukti kejayaan suku Inca, kerajaan terbesar dalam sejarah Amerika Selatan.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini