Share

Usai 600 Hari Lockdown, Siswa di India Tak Sabar Ingin Kembali Sekolah

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 28 Januari 2022 18:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 28 18 2539487 usai-600-hari-lockdown-siswa-di-india-tak-sabar-ingin-kembali-sekolah-YstQbS6Mj1.jpg Ilustrasi sekolah di India (Foto: Borgen Magazine)

NEW DELHI - Putra Dharini Mathur baru saja menginjak usia 4 tahun ketika ia memulai prasekolah online. Lebih dari 600 hari kemudian, dia masih duduk di belakang layar komputernya, mencoba belajar secara virtual, tanpa melakukan kontak dengan teman sekelas dan gurunya.

Dia adalah satu dari lebih dari 4 juta anak di ibu kota India, Delhi, yang dipaksa tidak ke sekolah karena pandemi virus corona.

Menurut Mathur, penutupan massal yang masih berlangsung sangat mempengaruhi kemampuan belajar mereka.

"Anak-anak kecil kami sudah putus sekolah, tidak ada interaksi teman sebaya," terangnya.

"Isolasi ini, dan kurangnya pengembangan yang menyertainya, benar-benar sangat kritis,” lanjutnya.

Pada Agustus tahun lalu, Mathur mengajukan petisi kepada pemerintah negara bagian untuk membuka kembali sekolah. Hampir enam bulan kemudian, para pejabat Delhi bertemu Kamis (27/1) untuk membahas kemungkinan pembukaan kembali.

Baca juga: Pandemi Covid-19, Begini Dampaknya pada Anak Usia Prasekolah

Dalam pertemuan itu, kepala menteri Delhi dan wakilnya mengusulkan pelonggaran pembatasan terhadap Letnan Gubernur wilayah ibu kota Anil Baijal, yang memiliki kekuatan untuk menerapkan perubahan sebagai kepala Otoritas Manajemen Bencana Delhi (DDMA).

Baijal diangkat sebagai letnan gubernur oleh Partai Bharatiya Janata Party (BJP) yang berkuasa pada Desember 2016.

Baca juga: Polisi India Tuntut Anak Usia 6 Bulan dan 2 Tahun karena Langgar Lockdown

Kini, sebagai kepala DDMA, Baijal bertanggung jawab untuk menyusun dan mengimplementasikan regulasi Covid-19. Selama hampir dua tahun, dia menutup sekolah di Delhi, dengan alasan masalah kesehatan.

Seperti diketahui, pemerintah Delhi memerintahkan sekolah ditutup pada Maret 2020 ketika kasus mulai merayap di seluruh negeri. Mereka sebagian besar tetap ditutup selama hampir dua tahun.

Ini adalah salah satu penutupan sekolah terlama di dunia. Bagi kota dengan perbedaan mencolok dalam pembangunan di antara penduduknya, kehilangan pembelajaran yang berkepanjangan telah menyebabkan kekhawatiran bahwa hal itu dapat meningkatkan kemiskinan, mengurangi kapasitas penghasilan, dan mengakibatkan tekanan mental dan fisik bagi jutaan orang.

Di Delhi saja, ratusan ribu anak-anak dari masyarakat berpenghasilan rendah -- yang tidak mampu membeli laptop dan tinggal di lingkungan yang sempit dan tidak sehat -- berisiko tidak mendapat pendidikan sama sekali.

Sementara para pejabat setuju untuk melonggarkan beberapa tindakan anti-epidemi, termasuk mencabut jam malam akhir pekan dan membuka kantor-kantor pemerintah, sekolah-sekolah akan tetap tutup.

"Kami menutup sekolah ketika itu tidak aman untuk anak-anak tetapi kehati-hatian yang berlebihan sekarang membahayakan anak-anak kami," tulis Wakil Kepala Menteri Delhi Manish Sisodia di Twitter pada Rabu (26/1).

"Satu generasi anak akan tertinggal jika kita tidak membuka sekolah kita sekarang,” ujarnya.

CNN telah menghubungi kantor Baijal untuk memberikan komentar tetapi tidak menerima tanggapan.

India adalah yang negara kedua setelah Uganda yang menutup sekolah karena Covid-19.

Menurut sebuah laporan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), India menutup sekolahnya selama 82 minggu -- atau 574 hari -- antara Maret 2020 dan Oktober 2021. Uganda menutup ruang kelas selama 83 minggu.

Tetapi penutupan sekolah di India tidak berlaku sama di seluruh negeri, karena setiap negara bagian bertanggung jawab menerapkan pembatasan mereka sendiri.

Pada Maret 2021, pemerintah India meloloskan undang-undang kontroversial yang memberikan kekuasaan besar kepada wakil gubernur Delhi yang tidak terpilih untuk menyetujui semua keputusan eksekutif di wilayah ibu kota.

Pada saat itu, Ketua Menteri terpilih Delhi Arvind Kejriwal mengkritik undang-undang tersebut sebagai "tidak konstitusional" dan "anti-demokrasi," mengklaim langkah BJP akan "secara drastis membatasi" kekuasaan pemerintah perwakilan.

Setelah penutupan pertama pada Maret 2020, sekolah-sekolah Delhi tetap tutup selama sisa tahun ini. Mereka dibuka kembali sebentar pada awal 2021 - tetapi terpaksa ditutup lagi ketika India mengalami gelombang infeksi kedua yang menghancurkan pada April tahun itu.

Sekolah dibuka kembali pada November tahun lalu ketika kasus-kasus stabil tetapi kemudian ditutup lagi pada Desember lalu karena polusi udara yang parah. Lonjakan kasus Omicron telah membuat mereka tutup pada Januari lalu.

Menurut Shaheen Mistry, pendiri organisasi nirlaba Teach for India, konsekuensi keputusan ini adalah "bencana".

"Dampaknya ada di berbagai tingkatan, yang paling jelas adalah hilangnya pembelajaran," ujarnya.

Menurut Mistry, 10% anak-anak di sekolah negeri Delhi telah putus sekolah karena pandemi dan dampak ekonominya pada keluarga miskin.

"Perkawinan anak meningkat, kekerasan terhadap anak meningkat, gizi adalah masalah besar karena banyak anak kita bergantung pada makanan sekolah," lanjutnya.

"Kenyataannya adalah kita akan memasuki dua tahun penutupan sekolah. Anak-anak baru saja kehilangan begitu banyak pembelajaran,” terangnya.

Tapi masalahnya tidak terbatas pada kota. Sebuah survei pada 2021 terhadap 1.400 rumah tangga oleh Lembaga Swadaya Manusia (LSM) lokal Road Scholarz menemukan hanya 8% anak-anak di pedesaan India yang belajar online secara teratur, sementara 37% tidak belajar sama sekali -- sebagian besar karena mereka tidak memiliki akses ke komputer dan smartphone.

Anak perempuan semakin terpinggirkan. Menurut Forum Hak untuk Pendidikan LSM, diperkirakan 10 juta gadis sekolah menengah di India dapat putus sekolah karena pandemi -- menempatkan mereka pada risiko kemiskinan, pernikahan anak, perdagangan manusia, dan kekerasan.

"Kita harus siap bahwa dampak ini akan berlangsung jangka panjang,” tambahnya.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini