Share

Heboh Warga Desa Miliarder Tuban Jatuh Miskin, Apa Benar?

Pipiet Wibawanto, iNews · Sabtu 29 Januari 2022 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 29 519 2539695 heboh-warga-desa-miliarder-tuban-jatuh-miskin-apa-benar-FkNu2Bjw5y.jpg Desa miliarder di Tuban, Jatim (Foto: Okezone)

TUBAN – Heboh warga desa miliarder di Tuban, Jawa Timur (Jatim) mendadak jatuh miskin. Apa benar hal ini terjadi kepada semua warga desa tersebut?

Ternyata, tidak semua warga desa miliarder tersebut jatuh miskin. Bahkan warga desa miliarder di Tuban ini terus membangun rumahnya. Deretan rumah rumah mewah berarsitektur kekinian pun kini menjadi pemandangan umum.

Di setiap sudut desa, hampir dapat dipastikan berderet rumah rumah mewah di kampung yang dulunya sangat jauh dari kesan mewah itu.

Deretan rumah mewah berarsitek modern di desa miliarder ini sudah menjadi pemandangan yang tak asing saat ini. Sejak menjadi desa miliarder setahun lalu itu, warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban ini terus melakukan pembangunan fisik rumah-rumah mereka.

Baca juga: Miliarder Tuban Menyesal Jual Tanah ke Pertamina, Ini Penyebabnya

Ratusan warga desa ini mendapat rejeki nomplok. Bahkan saat ini warga sudah berstatus miliarder akibat mendapat ganti untung dari lahan pertanian yang akan di jadikan proyek pembangunan kilang minyak grass root refinery Tuban itu.

Selain itu, deretan mobil-mobil mewah baru pun masih bertebaran di garasi-garasi rumah baru warga. Meski mayoritas warga masih menjadi petani, namun rumah-rumah warga di desa ini sangat menngesankan bahwa mereka bekerja di sebuah perusahaan di kota besar.

Baca juga: Miliarder Tuban 'Bangkrut': Saya Menyesal, Sekarang Tidak Punya Pekerjaan

“Iya, (lahan) dibeli Pertamina. Luasnya setengah hectare, dapat Rp2,5 miliar,” ungkap salah satu warga Desa Sumurgeneng, Yuatin.

Kepala Desa Sumurgeneng, Gianto juga membantah jika akhir-akhir ini warganya diberitakan jatuh miskin setelah setahun lalu menjadi miliarder dadakan setelah menerima uang penggusuran dari Pertamina.

Gianto mengatakan, kehidupan warga Desa Sumurgeneng tidak berubah, setelah menjadi miliarder. Beberapa warga ada yang memilih membeli tanah di luar desa, kehidupan warga pun sangat kondusif hingga saat ini.

Dia melanjutkan, usai menjadi miliarder sampai saat ini kehidupan warga justru berubah drastis. Dia membantah jika warganya malah jatuh miskin setelah menjadi miliarder dadakan.

Warga saat ini justru menjadi kaya raya karena tanahnya di luar desa itu lebih luas. Jika saat itu warga memiliki tanah satu hektare yang dijual, yang pertama dibelikan tanah di desa lain dua hectare. Selain itu, uangnya pun masih sisa yang digunakan untuk membangun rumah.

Gianto juga membantah jika banyak warga di Desa Sumurgeneng menjadi pengangguran usai menjual tanahnya tersebut.

“Warga Desa Sumurgeneng sampai saat ini masih kondusif. Saya harapkan seterusnya kondusif,” ucap Gianto.

Menurutnya, pemberitaan terkait warganya yang kini jatuh miskin kurang pas dengan kondisi aktual di daerahnya. Saat ini, proses penyerapan warga untuk bekerja di Pertamina masih terus berlangsung.

Sampai saat ini, setidaknya 67 warga desa yang sudah di terima bekerja di Pertamina Rosneft. Penyerapan tenaga kerja itu juga menyesuaikan porsi dan kebutuhan perusahaan.

“Untuk perekrutan tenaga kerja saya harap koordinasi dengan pemerintah desa ditingkatkan,” ungkapnya.

Sementara terkait dengan aksi demo paguyuban, ada salah paham antara warga dengan Pertamina Rosneft. Menurutnya, informasi lowongan kerja di Pertamina Rosneft itu sempat menyebar luas ke masyarakat umum.

Padahal, lowongan itu di tujukan kepada warga enam desa di Tuban yang terdampak langsung proyek pembangunan proyek kilang minyak. Enam desa yang terdampak itu di antaranya Desa Wadung, Mentoso, Rawasan, Sumurgeneng, Beji dan Kaliuntu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini