Di ruang inilah Kiai Umar menyerahkan uang pembayaran listrik sambil berbincang-bincang dengan Mugisi. Hal seperti ini berlangsung terus menerus hingga akhirnya secara diam-diam Mugisi mengagumi seluruh keramahan, kebaikan dan nasihat-nasihat bijak Kiai Umar.
Mugisi merasakan sekali Kiai Umar sangat berbeda dengan sebagian orang Solo dalam memandang orang-orang etnis Tionghoa. Kekaguman Mugisi pada Kiai Umar dari waktu ke waktu semakin meningkat hingga akhirnya Pak Mugisi memohon Kiai Umar untuk menuntunnya membaca dua kalimat syadahat.
Mugisi pun memeluk Islam dengan disaksikan para santri dan masyarakat di masjid pondok. Kiai Umar kemudian memberikan nama baru untuk Pak Mugisi dengan nama Muhammad Salim. Mugisi pun tidak lagi memakai celana pendek ketika keluar rumah untuk bekerja.
Peristiwa tersebut terjadi pada 1960-an yang waktu itu saya (Muhammad Ishom, Dosen Fakultar Agama Islam Universitas Nadlatul Ulama, penulis) mungkin belum lahir atau masih sangat kecil. Cerita ini sendiri dirinya dengar langsung dari H Ali Marsidi, mantan ketua RT yang rumahnya di sebelah barat Pondok Pesantren Al-Muayyad.