Share

Kisah Suku Karen, Dibantai Militer Myanmar hingga Rela Hidup di Kamp Pengungsian

Susi Susanti, Okezone · Kamis 03 Februari 2022 13:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 03 18 2541811 kisah-suku-karen-dibantai-militer-myanmar-hingga-rela-hidup-di-kamp-pengungsian-Ost0KwLF3t.jpg Suku Karen di Myanmar (Foto: Karen News)

MYANMAR - Suku Karen, Kayin, Kariang atau Yang merujuk kepada sejumlah kelompok etnis pemakai bahasa Tiongkok-Tibet yang utamanya tinggal di Negara Bagian Karen, selatan dan tenggara Myanmar. Karen berjumlah sekitar 7 persen dari jumlah penduduk Myanmar atau sekitar 5 juta orang.

Sebagian besar suku Karen pindah ke Thailand, yang kebanyakan mendiami perbatasan Thai–Karen. Karen sering disamakan dengan Karen Merah (Karenni), yang merupakan salah satu suku Kayah di Negara bagian Kayah, Myanmar. Dikutip Wikipedia, salah satu subkelompok Karenni, suku Padaung, paling dikenal karena wanita-wanitanya yang mengenakan cincin kuningan untuk memanjangkan leher. Beberapa orang menyebut mereka “Suku Leher Panjang”. Namun, subkelompok ini hanya terdiri dari sebagian kecil dari populasi orang Karenni. Suku tersebut mendiami wilayah perbatasan Myanmar dan Thailand.

Baca juga: Tradisi Memanjangkan Leher Wanita Suku Karen demi Pikat Pria, Dimulai Sejak Usia Dini

Orang-orang Karenni dikenal sebagai "Karen Merah" dan tinggal di daerah pegunungan kecil di utara Negara Bagian Karen dan barat Thailand. Ada lebih dari selusin subkelompok etnis Karenni, tetapi mereka semua berbicara dalam bahasa yang sama, dengan hanya sedikit variasi dialek.Mereka berbicara bahasa Karenni, juga disebut Kayah Li.  

Baca juga: Setahun Kudeta Myanmar, Militer Masih Berkuasa dan Rakyat Terus Melawan

Secara tradisional, orang Karenni adalah penganut Animisme dan Buddhis tetapi banyak yang telah memeluk agama Kristen (kebanyakan Katolik). Di Minnesota, orang Karenni kebanyakan tinggal di St. Paul dan Austin. Perayaan terpenting bagi orang Karenni adalah Kay Htoe Bo. Festival ini mencerminkan cerita tentang bagaimana bumi muncul. Selama perayaan, orang Karenni menari di sekitar tiang untuk menjaga kesehatan.

Orang-orang Karen diketahui mulai mendiami tempat yang akhirnya disebut Burma dan berubah menjadi Myanmar sekitar 2.000 tahun yang lalu. Mereka melakukan perjalanan dari Tibet dan China dan sebagian besar menetap di perbukitan yang berbatasan dengan wilayah pegunungan timur Myanmar.

Pada abad ke-8 dan ke-9, orang Burma juga mulai bermigrasi ke daerah utara yang sekarang menjadi negara bagian Karen. Kelompok etnis di sekitar wilayah ini termasuk Mon, Shan, Thai, Burma dan Karen. Ketika Inggris menjajah Burma pada 1886, semua kelompok ini menjadi bagian dari Burma.

Ketegangan antara kedua kelompok mencapai titik tertinggi selama Perang Dunia II ketika Karen memihak sekutu Inggris dan Burma berperang dengan Jepang.

Burma mencapai kemerdekaan dari Inggris pada 1948, tetapi orang-orang Karen tidak diberikan hak atas tanah mereka sendiri, dan orang Burma sekali lagi menjadi kelompok etnis yang dominan. Selama tahun 1960-an, tentara Burma memulai kampanye melawan Karen yang disebut "Four Cuts." Seluruh komunitas Karen dipaksa untuk pindah dan terputus dari semua sumber daya. Lalu gerakan gerilya Karen dihancurkan.

Rezim militer Myanmar yang didirikan pada 1962 terus menindas Karen dan kelompok etnis lainnya hingga saat ini. Dahulu kala, tentara Burma meneror desa Karen setiap musim kemarau dengan membakar desa mereka, membunuh atau menyiksa warga sipil, dan memperkosa perempuan dan anak perempuan.

Akibat konflik yang berkepanjangan itu, banyak orang Karen harus melarikan diri melintasi perbatasan ke kamp-kamp pengungsi di negara tetangga Thailand. Kehidupan di kamp-kamp pengungsi sulit dan tidak pasti. Pemerintah Thailand dapat mengurangi dana atau menutup kamp-kamp pengungsi sesuai keinginannya, sehingga para pengungsi hanya memiliki sedikit pilihan.

Pengungsi tidak diperbolehkan keluar dari kamp yang ramai, dan dapat ditangkap oleh polisi Thailand jika tertangkap. Mereka harus mencoba bekerja dan menghidupi diri mereka sendiri di dalam kamp sambil mengajukan permohonan pemukiman kembali ke negara lain, yang bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Saat ini, beberapa pengungsi Karen telah bemigrasi dan menetap di beberapa negara. Seperti Amerika Serikat (AS), Australia, Kanada, Inggris, Belanda, Norwegia, Swedia, Finlandia, Denmark, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Jepang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini