Usai kekalahannya, Wirabhumi melarikan diri. Namun ia berhasil ditangkap oleh Raden Gajah (Bhra Narapati) dan mati dipenggal.
Perang Paregreg menimbulkan banyak dampak bagi keberlangsungan Majapahit. Keraton timur bisa kembali disatukan dengan keraton barat. Akan tetapi, banyak daerah-daerah kekuasaan Majapahit yang melepaskan diri. Akibatnya, pemerintahan Majapahit benar-benar redup di tangan Wikramawardhana.
2. Perang Panjalu Kediri vs Janggala
Peristiwa Perang antara Panjalu dan Kediri dilatarbelakangi perebutan kekuasaan atas takhta Kahuripan. Pada saat itu, Raja Airlangga (1009 – 1042) yang memimpin kerajaan Kahuripan ingin mewariskan takhta pada sang putri makhota, Sanggramawijaya Tunggadewi.
Tapi, Tunggadewi lebih memilih menempa ilmu batiniah dengan bertapa ketimbang menjadi seorang ratu. Atas saran dari Mpu Bharada, Raja Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua kerajaan yakni Kerajaan Kadiri di Daha, dan Kerajaan Jenggala yang ada di Kahuripan.
Takhta dua kerajaan tersebut masing-masing diberikan kepada dua putra Airlangga, Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan. Samarawijaya berkuasa di Kadiri sedangkan Jenggala dipimpin oleh Garasakan. Namun, sejak kecil Samarawijaya dan Garasakan selalu berselisih.
Mereka saling bersaing untuk memperebutkan kekuasaan. Dan persaingan tersebut semakin memuncak saat Airlangga wafat. Seperti yang ditulis R. Moh Ali S.S. dalam buku Perdjuangan Feodal Indonesia, Daha dan Jenggala bertempur.
Perang antara Panjalu dan Jenggala diceritakan dalam Prasasti Turun Hyang (1044) oleh Raja Jenggala Mapanji Garasakan. Selain itu, ada pula Prasasti Ngantang yang bertuliskan Panjalu Jayati atau “Panjalu Menang”. Perang saudara yang berlangsung selama 60 tahun ini memang berakhir dimenangkan oleh Kerajaan Panjalu. Dari situlah, Kerajaan Panjalu atau Kadiri sepenuhnya berkuasa.
(Angkasa Yudhistira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.