Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Anak Emas Jenderal Yani, Sarwo Edhie Malah Diragukan Pimpin Pasukan Baret Merah

Aulia Oktavia Rengganis , Jurnalis-Jum'at, 04 Maret 2022 |07:01 WIB
Anak Emas Jenderal Yani, Sarwo Edhie Malah Diragukan Pimpin Pasukan Baret Merah
Sarwo Edhie dan Ahmad Yani/ ist
A
A
A

JAKARTA - Naiknya Sarwo Edhie  sebagai Komandan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) menuai keraguan. Ken Conboy menuturkan, Leonardus Benyamin "Benny" Moerdani. yang lama menjabat Komandan Batalion I memiliki pengikut setia di kalangan perwira RPKAD.

(Baca juga: Ajaib! Jenderal Kopassus Ini Selamat Usai Ditembak Bazoka di Pondok Gede)

Dikutip dari buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965, kelompok pengikut setia Benny, menganggap Sarwo mengambil keuntungan dari perseteruan antara Benny dan Kolonel Mung Parhadimulyo.

Sebelumnya, terjadi konflik antara Benny dan Mung yang diduga mencuat gara-gara urusan uang. Ujung dari konflik tersebut Benny ditendang dari RPKAD. Sedangkan Mung dimutasi menjadi Panglima Daerah Militer di Kalimantan Timur. Dan, Sarwo Edhie Wibowo dilantik sebagai Komandan RPKAD yang baru.

Beberapa yang menilai, naiknya Sarwo tidak lebih karena kedekatannya dengan Ahmad Yani, padahal dia tidak memiliki kompetensi atau kemampuan menjadi komando.

 (Baca juga: Tak Ada Nama Soeharto, Ini Isi Lengkap Keppres Serangan Umum 1 Maret)

Ada aturan tidak tertulis di Resimen, seorang Komandan RPKAD harus berasal dari kalangan perwira yang berlatih komando di Batujajar, Jawa Barat, atau pelatihan setara di luar negeri.

Pendidikan yang pernah dijalani Sarwo pada 1963 bukanlah sekolah komando. Dia adalah siswa pendidikan staf militer di Australia.

Kemampuan Sarwo diragukan, bahkan seorang perwira RPKAD berharap Jenderal Yani dapat mengangkat orang lain yang lebih kompeten menjadi komandan.

"Banyak orang dalam Resimen berharap Sarwo hanya pemimpin transisi sebelum Yani mengangkat orang lain yang lebih kompeten,"ujarnya.

Belakangan, demi melengkapi syarat itu, Sarwo dikirim ke Batujajar menjalani pelatihan singkat komando.

Dengan adanya rentetan peristiwa setelah 30 September 1965 membuktikan kemampuan operasinya sehingga karier Sarwo Edhie semakin bersinar.

(Fahmi Firdaus )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement