Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengulas 3 Kerajaan Islam yang Pernah Ada di Kalimantan, Apa Saja?

Tim Litbang MPI , Jurnalis-Senin, 21 Maret 2022 |05:34 WIB
Mengulas 3 Kerajaan Islam yang Pernah Ada di Kalimantan, Apa Saja?
Bangunan peninggalan Kerajaan Kotawaringin. (Foto: Sigit Dzakwan/Okezone.com)
A
A
A

NDONESIA merupakan negara kepulauan yang pada zaman dahulu memiliki banyak kerajaan. Kerajaan-kerajaan tersebut tersebar di berbagai pulau, salah satunya di Pulau Kalimantan.

Berikut beberapa kerajaan Islam yang pernah ada di Kalimantan.

1. Kerajaan Kotawaringin

Kerajaan Kotawaringin merupakan kerajaan Islam yang wilayah intinya saat ini adalah Kabupaten Kotawaringin Barat di Kalimantan Tengah. Menurut catatan Istana al-Nursari, kerajaan ini didirikan pada tahun 1615. Ketika Belanda melaksanakan perjanjian dengan Kotawaringin pada 1637, saat itu juga dianggap sebagai awal mulanya Kotawaringin diperintah oleh seorang raja.

Awalnya kerajaan ini merupakan keadipatian yang dipimpin oleh Dipati Ngganding. Sultan Mustainbillah dari Kesultanan Banjar kemudian menyerahkannya kepada putranya, Pangeran Dipati Anta-Kasuma.

Dalam Hikayat Banjar dijelaskan bahwa wilayah Kotawaringin merupakan seluruh desa-desa di sebelah barat Banjar hingga sungai Jelai.

Sultan Alidin menetapkan Pangkalan Bun sebagai nama ibu kotanya. Sejarah menceritakan, Tiang Sangga Benua yang ditancapkan oleh Sultan Kutawaringin IX Pangeran Ratu Imanuddin menjadi simbol dipindahkannya ibu kota Kesultanan Kutawaringin dari Kotawaringin Lama ke Pangkalan Bun pada 1811.

Baca juga:  Majapahit hingga Sriwijaya, Ini Daftar Kerajaan Nusantara dengan Wilayah Paling Luas

Kotawaringin secara langsung merupakan bagian dari Kesultanan Banjar, sehingga sultan-sultannya memakai gelar Pangeran jika berada di Banjar. Namun dalam lingkungan Kotawaringin, para pangeran yang menjadi raja juga disebut dengan Sultan. Keruntuhan kerajaan ini ialah karena usia yang sudah tua dan juga tumbangya Tiang Sangga Benua.

2. Kerajaan Jongkong

Kerajaan Jongkong merupakan kerajaan kecil yang berada di pedalaman Pulau Kalimantan. Kerajaan Jongkong juga dikenal dengan nama Kerajaan Embau. Kerajaan ini berdiri di Kalimantan Barat, tepatnya di wilayah yang kini menjadi bagian Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Kerajaan Jongkong didirikan oleh Abang Jembu yang bergelar Kyai Patih Uda, kira-kira awal 1800-an. Kyai Patih Uda merupakan anak bangsawan Dayak Embaluh atau Embaloh yang berasal dari sekitar Sungai Palin. Beberapa raja yang pernah memerintah kerajaan ini di antaranya Abang Jambu bergelar Kiai Dipati Uda, Abang Abdullah bin Abang Joemboe bergelar Raden Nata, Abang Abdul Arab bin Buja bergelar Pangeran Muda, Abang Unang bin Abang Abdul Arab bergelar Pangeran Sulaiman Suria Negara, dan Abang Alam atau Abang Abdullah bin Abang Unang bergelar Pangeran Hadji Muda Gusti Alam.

Pada masa kepemimpinan Kyai Patih Uda, Jongkong sudah menandatangani kontrak politik dengan pemerintah Belanda. Kyai Patih Uda kemudian digantikan putranya bernama Abang Abdullah. Pangeran yang terakhir ialah Pangeran Alam dan sesudah masa pemerintahannya kerajaan ini dihapuskan oleh kolonial Belanda pada tahun 1917. Selama berdiri, kerajaan ini memberikan banyak pengaruh agama Islam kepada masyarakat Embau.

3. Kerajaan Kubu

Kerajaan Kubu merupakan kerajaan Islam yang letaknya saat ini termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Kubu Raya. Asal-muasal berdiri kerajaan ini ialah saat kedatangan rombongan dari Yaman Selatan untuk menyebarkan agama Islam.

Dalam buku Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, ditulis oleh J.U.

Lontaan, dijelaskan beberapa nama tokoh yang mempelopori perjalanan rombongan. Mereka adalah Syarif Habib Hussein Alqadrie, Syarif Idrus, Syarif Abdurrakhman As Sagaf dan Syarif Akhmad. Ketiganya melakukan perjalanan ke negeri-negeri Timur untuk menemukan daerah subur sekaligus menyebarkan agama Islam. Selama dalam perjalanannya itu, mereka menetap paling lama di Palembang. Bahkan Syarif Idrus dinikahkan dengan putri Sultan Palembang

Melansir pada laman karimunting, Syarif Idrus mendirikan permukiman baru dan didatangi banyak orang. Suku Dayak pun tertarik pada permukiman tersebut. Lama-kelamaan permukiman menjadi semakin besar. Pada tahun 1722, warga sepakat mengangkat Syarif Idrus sebagai pemimpin.

Karena semakin makmur, wilayah ini sering kedatangan perompak. Syarif Idrus membangun kubu berupa benteng pertahanan untuk mengatasinya. Sejak benteng dibangun, wilayah ini mulai dikenal dengan sebutan Kubu, yang kemudian menjadi Kesultanan Kubu. Kesultanan ini berakhir ketika diruntuhkan secara paksa oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Melansir dari berbagai sumber,

Maria Alexandra Fedho/Litbang MPI

(Qur'anul Hidayat)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement