"Kalau hamba melihatnya berbeda, Sinuwun," kata Naya Genggong sembari menghaturkan sembah bekti, "Bahwa kita semua harus memperbanyak tirakat dan prihatin memang benar. Sudah semestinya kalau kita memperbanyak semadi untuk penyembahan kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi,” tutur Naya Genggong.
Naya Genggong juga percaya, perkara hancur atau jayanya suatu kerajaan, hal itu sebenarnya semata-mata kehendak Sang Hyang Widhi.
“Bagaimanapun manusia akan mengupayakan secara sungguh-sungguh, tetapi jika Sang Hyang Widhi sudah menghendaki kehancuran suatu negeri, niscaya tak ada seorang manusia pun yang dapat mengatasinya. Demikian halnya dengan Majapahit. Jika Sang Hyang Widhi sudah menghendaki kehancurannya, tentu kita tidak bisa mengatasinya," ucap Naya Genggong.
"Iya Paman Naya Genggong, tetapi bukankah kita harus tetap berusaha?" Prabu Brawijaya V menanggapi.
"O...iya Gusti Prabu!" jawab Naya Genggong, "Bagaimanapun kita harus tetap bekerja keras dengan diiringi memperbanyak semadi. Yang hamba maksudkan tadi, yakni bagaimanapun usaha manusia, tetapi jika Sang Hyang Widhi telah menghendaki sesuatu, maka manusia tak bisa berkutik sedikit pun. Demikian halnya dengan kejayaan Majapahit ini, kita hanya sebatas mengupayakan seoptimal mungkin jangan sampai istana Majapahit menjadi kacau-balau. Tetapi bukankah kita harus pasrah kepada Sang Hyang Widhi bahwa semua keputusan berada dalam genggamannya?" jelas Naya Genggong.
"Baiklah Paman Sabda Palon dan Naya Genggong, bagaimanapun aku mengucapkan terima kasih atas informasimu. Aku pun akan memperbanyak semadi, apalagi setelah kalian berdua telah menginformasikan mengenai kabar buruk dalam wisik yang kalian dapatkan." ujar Prabu Brawijaya V serius.
Sumber: Buku Brawijaya Moksa Detik-Detik Perjalanan Hidup Prabu Majapahit
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.