Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jenderal Kopassus yang Tidak Pernah Kalah Perang Ini Andalkan Lonceng di Hari Tuanya

Alyssa Nazira , Jurnalis-Kamis, 07 April 2022 |06:01 WIB
Jenderal Kopassus yang Tidak Pernah Kalah Perang Ini Andalkan Lonceng di Hari Tuanya
Benny Moerdani.
A
A
A

JAKARTA - Benny Moerdani tidak memiliki kantor dan tidak menjadi seorang komisaris seperti banyak kawannya sesama pensiunan militer. Benny lebih banyak menghabiskan hari-harinya dengan mengobrol bersama kawan-kawannya di CSIS, seperti Harry Tjan Silalahi, Clara, dan Jusuf Wanandi.

BACA JUGA: Benny Moerdani, "Anak Emas" 2 Presiden yang Kesepian di Usia Senja

Menurut Clara yang merupakan mantan sekretaris Benny, jika bertemu dengan geng CSIS, Benny seperti "hidup kembali". Benny banyak bertanya soal perubahan politik, kondisi negara, dan masalah dunia internasional kepada mereka.

Di kediamannya di Hang Lekir, Jakarta Selatan, Benny Moerdani ditemani sang istri, Theresia Hartini; anak tunggalnya, Irene Ria Moerdani; juga seorang perawat. Untuk berkomunikasi, ia dibantu lonceng, karena ketika itu hidupnya bergerak di atas kursi roda.

BACA JUGA: Kala Air Mata Benny Moerdani Tumpah Sampai Berikan Pesan Khusus ke Putrinya

Jenderal Kopassus yang tidak pernah kalah dalam berperang itu terpaksa mengandalkan lonceng jika ingin berkomunikasi dengan orang lain. Hal tersebut dikarenakan tubuh Benny yang kian hari semakin melemah, sehingga harus menggunakan kursi roda.

Meskipun tubuh Benny semakin lemah, ia tetap tak bisa berhenti merokok. Padahal komplikasi bronkitis dan stroke sudah melemahkannya.

Pernah suatu kali, menurut Clara, Benny menonton film di rumah sembari merokok. Nahas, puntung rokok yang masih menyala itu jatuh di kaus nilonnya, tepat di dada. Benny berteriak, menahan sakit, sementara bara api rokok terus membakar dadanya. Lonceng sudah digerakkan, tapi tak ada yang muncul.

Kian hari tubuh Benny kian lemah, sementara sejarah bergerak. Soeharto pun lengser pada 1998, "menyusul" Benny yang lebih dulu menjauh dari kekuasaan. Hubungan mereka yang sempat beku akhirnya mencair. Benny dan Soeharto saling mengunjungi. Dari atas kursi roda, keduanya kerap diam tanpa kata. Hanya air mata yang menitik dari keduanya.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement