Saat memerintah Kerajaan Klungkung di tahun 1849, militer Belanda melakukan serangan ke kerajaan tersebut. Belanda bergerak di bawah kepemimpinan Jenderal AV Michiels. Tidak ada satu pun perempuan di Bali yang berani untuk berperang saat itu. Tanpa ragu, Dewa Agung Istri Kanya maju dan berperang melawan tentara Belanda. Bahkan, ia memimpin pasukan hingga disebut sebagai keturunan ksatria.
Di pihak musuh, kematian sang jenderal membuat militer Belanda tak bisa berbuat banyak. Alhasil, Kerajaan Klungkung pun tidak mampu dikuasai dan aman dari serangan. Sejarah mencatat, Kerajaan Klungkung baru bisa dikuasai dan tunduk pada Belanda di tahun 1908, jauh setelah kepemimpinan Dewa Agung Istri Kanya.
Belanda menjuluki Dewa Agung Istri Kanya sebagai Raja Berkepala Batu. Karena ia dianggap sosok yang sangat tangguh dan feminis. Dewa Agung tidak menikah dan memilih untuk fokus menjaga rakyat dan kerajaannya. Satu prinsip yang sangat terkenal dari Dewa Agung Istri Kanya adalah, lebih baik mati daripada menyerah. Menurutnya, menyerah sama halnya dengan menurunkan harga diri seorang raja. Dewa Agung Istri Kanya wafat tahun 1868. Sebelum ia berpulang, kepemimpinan Kerajaan Klungkung sudah dipegang oleh Ida Dewa Agung Putra III, sepupunya.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.