TANGGAL 1 Juni setiap tahunnya diperingati sebagai hari lahir Pancasila. Sejarah hari lahir Pancasila ini tak bisa dilepaskan dari masa pengasingan Soekarno di Ende, Flores pada 1934-1938.
Pada masa pengasingan itu Soekarno merenungkan pemikiran yang telah diperjuangkan hingga melahirkan rumusan Pancasila.
Hal tersebut sebagaimana disampaikan akademisi, sekaligus budayawan dari Universitas Indonesia (UI) Ngatawi Al Zastrouw, saat menjadi pembicara dalam diskusi “Pembudayaan Pancasila di Sumba-Ende, NTT” yang digelar Direktorat Pembudayaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), di Rumah Pengasingan Bung Karno, Ende, Flores, NTT, pada Senin 23 November 2020.
Ngatawi Al Zastrouw mengungkapkan, Pancasila adalah produk dari rasionalitas dan spiritualitas yang dikonstruksikan, direnungkan, dan disistematisasikan melalui perenungan panjang Soekarno, baik sebelum maupun saat menjalani masa pengasingan di Ende.
Al Zastrouw menjelaskan, pada 1915, Soekarnoa sekolah di Surabaya, di Hogere Burger School (HBS), setingkat SLTA. Saat itu, Soekarno satu angkatan dengan sejumlah tokoh di antaranya, Semaoen, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Alimin, Musso, dan Tan Malaka. Saat itu, ia tinggal di rumah HOS Cokroaminoto, pemimpin politik sekaligus ketua Sarekat Islam.
Selama tinggal di rumah HOS Cokroaminoto, Soekarno juga banyak bertemu tokoh Sarekat Islam serta kerap terlibat diskusi. Dari sinilah tumbuh nasionalismenya dan terus menggelora.
Di saat itulah, Soekarno melakukan pergulatan-pergulatan, tidak hanya pemikiran tapi juga spiritual.
“Ini adalah proses internalisasi nilai pada fase awal saat Bung Karno tinggal dan belajar pada HOS Cokroaminoto, yang kemudian mengubah seluruh jalan hidupnya,” tutur Ngatawi Al Zastrouw.
Selanjutnya, pada 1920, Soekarno menjadi mahasiswa di Technische Hoge School (Institut Teknologi Bandung) di Bandung dan mengambil jurusan teknik sipil. Saat itu, ia sudah melakukan eksplorasi, menjelajah, serta bertemu dbanyak tokoh politik, masyarakat, dan para ulama berpengaruh di Bandung.
Apalagi, saat itu, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib HOS Cokroaminoto. Melalui Haji Sanusi, Soekarno muda berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.
“Saat jadi mahasiswa itulah, Bung Karno banyak membaca buku, teks, manuskrip, Alquran, hadis, dan lain-lain. Ini bentuk dari ayat Qauliyah. Selain Qauliyah, dia juga mengaktualisasikan ayat Kauniyah, berkeliling bertemu dengan banyak tokoh, bertemu masyarakat, ulama. Jadi pancasila tidak mungkin bisa dihidupkan kembali jika tidak melihat rute ini dan metode ini,” katanya.