Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Raja Kediri Kertajaya yang Mengaku Dewa dan Minta Disembah

Septi Kurnia , Jurnalis-Sabtu, 16 Juli 2022 |07:36 WIB
Kisah Raja Kediri Kertajaya yang Mengaku Dewa dan Minta Disembah
Ilustrasi. (Foto: historyofcirebon.id)
A
A
A

RAJA Kertajaya merupakan raja terakhir Kerajaan Kediri, yang berkuasa pada 1194-1222. Sosok dengan nama lengkap Sri Maharaja Kertajaya ini memiliki kesaktian yang luar biasa. Kisahnya termuat dalam kitab Pararaton, yang menyebutkan bahwa Raja Kertajaya dikenal dengan sebutan Prabu Dandhang Gendis.

Selain itu, dalam beberapa prasasti yang mengisahkan Raja Kertajaya, seperti Prasasti Galunggung berangka tahun 1194 Masehi, Prasasti Kamulan tahun 1194 Masehi, Prasasti Palah tahun 1197 Masehi, Prasasti Biri dan Prasasti Lawadan berangka tahun 1205 Masehi, disebutkan pula bahwa Raja Kertajaya memiliki gelar Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa.

Konon, Raja Kertajaya dapat duduk di ujung sebatang tombak tajam yang berdiri tegak. Sang Raja juga tidak mempunyai rasa takut kepada siapa pun, karena dia merasa bahwa dia adalah Tuhan. Raja Kertajaya mengaku yang dapat mengalahkan dirinya hanyalah Dewa Siwa.

 Baca juga; Momen Pasukan Mongol Tagih Janji Perang Berujung Kemenangan Raden Wijaya

Raja Kertajaya kemudian meminta para pendeta Hindu dan Buddha untuk menyembah dirinya. Hal itu tentu saja mendapat perlawanan dari para pendeta atau kaum Brahmana yang merupakan kasta tertinggi di ajaran Hindu.

Sementara Raja, bersama dengan pejabat istana lainnya, termasuk ke dalam kasta Ksatria. Kasta Ksatria berada di bawah kasta Brahmana. Namun, Raja Kertajaya tidak peduli. Bahkan, orang-orang yang tidak mau mengakui Raja Kertajaya sebagai Tuhan akan disiksa hingga dihukum mati.

Para Brahmana yang membenci perilaku Raja Kertajaya lalu memilih meninggalkan ibu kota Kerajaan Kediri. Mereka melarikan diri ke Tumapel untuk mencari perlindungan pada sosok Ken Arok, yang merupakan Akuwu Tumapel. Tumapel saat itu masih berada di bawah naungan Kerajaan Kediri. Para Brahmana kemudian merestui Ken Arok sebagai Raja Tumapel, yang kekuasaannya terpisah dari Kediri.

Dari para Brahmana, Ken Arok mendapatkan gelar Batara Guru, yang merupakan nama lain dari Dewa Siwa. Ken Arok pun melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Kediri, hingga akhirnya pasukan Ken Arok dan pasukan Raja Kertajaya saling bertempur. 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement