Share

Pemilik SMA SPI Kota Batu Dituntut 15 Tahun, Ini 8 Faktanya

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 28 Juli 2022 03:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 28 519 2637532 pemilik-sma-spi-kota-batu-dituntut-15-tahun-ini-8-faktanya-TpodY4K3p3.jpg Sidang tuntutan pemilik SMA SPI dalam dugaan kasus kekerasan seksual. (Avirista Midaada)

MALANG - Terdakwa kekerasan seksual akhirnya menjalani sidang tuntutan pada Rabu (27/7/2022). Sidang pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) sempat tertunda pada pekan lalu sebelum akhirnya dilakukan pada sidang ke-21 hari ini.

Pemilik sekolah SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Julianto Eka Putra, dituntut JPU Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Batu dengan penjara 15 tahun penjara. Sejumlah fakta menarik terjadi di persidangan ke-21 kasus kekerasan seksual ini.

1. Kembali Diwarnai Demonstrasi

Demonstrasi mewarnai jalannya persidangan tuntutan. Demonstrasi digelar oleh para aktivis dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), yang mendukung langkah jaksa dan hakim menegakkan keadilan bagi korban. Demonstrasi dilakukan di luar area kantor PN Malang, tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Arus lalu lintas pun sempat tersendat imbas demonstrasi ini. Namun berkat penjagaan ketat dari aparat keamanan, jalannya demonstrasi kondusif kendati ada dua kubu yang pro dan kontra, yang sempat bertemu di depan kantor PN Malang.

BACA JUGA:Selidiki Dugaan Eksploitasi Anak, Polda Jatim Olah TKP 12 Lokasi di SMA SPI 

2. Waktu Persidangan Maju

Tak seperti sidang sebelum - sebelumnya, jalannya sidang ke-21 ini waktunya maju. Sebagaimana dijadwalkan PN Malang sebelumnya sidang berlangsung pukul 10.00 WIB. Namun di persidangan Rabu ini (27/7/2022), waktu persidangan maju menjadi pukul 09.15 WIB.

Tak diketahui penyebab pasti majunya sidang yang diketuai majelis hakim Herlina Reyes ini. Namun seperti sidang-sidang sebelumnya, sidang juga berlangsung tertutup.

3. Penjagaan Tak Terlalu Ketat

Bila di persidangan ke-20 lalu, penjagaan area sekitar Kantor PN Malang begitu ketat. Namun kali ini berbeda, aparat keamanan yang berjaga tak terlalu banyak.

Bahkan di area kantor PN Malang, aparat keamanan kantor juga tak terlalu ketat menerapkan pengunjung yang masuk. Pendaftaran pengunjung masuk melalui online dengan mengisi form google document pun tidak dilakukan.

4. Persidangan Berlangsung 4 Jam

Terlihat sidang tuntutan kali ini dimulai sejak pukul 09.15 WIB pada Rabu pagi (27/7/2022). Persidangan diketuai majelis hakim Herlina Reyes berlangsung cukup lama.

Persidangan sempat diwarnai skorsing oleh majelis hakim untuk kepentingan ke toilet dan istirahat pukul 11.20 - 11.30 WIB. Sidang dilanjutkan hingga akhirnya berakhir pada pukul 12.45 WIB.

5. Tuntutan Maksimal ke Terdakwa

Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut terdakwa kekerasan seksual oleh Julianto Eka Putra dengan 15 tahun penjara. Tuntutan itu disampaikan oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Batu Agus Rujito seusai persidangan. Tuntutan ini dilayangkan jaksa sebagaimana ancaman maksimal yang tercantum dalam Pasal 81 Undang-undang Nomor 23 tentang Perlindungan Anak.

"Tadi sudah berlangsung sidang pembacaan tuntutan kepada terdakwa, dan JPU menuntut terdakwa 15 tahun," kata Agus Rujito, seusai jalannya persidangan.

6. Terdakwa juga Dituntut Membayar Denda

Terdakwa Julianto Eka Putra juga dituntut membayar denda Rp 300 juta subsider enam bulan penjara. Pemilik SMA SPI Kota Batu ini juga diharuskan membayar pidana restitusi kepada korban sebesar Rp 44.744.623.

"(Sesuai) Pasal 81 ayat 2, UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Bujuk rayu untuk melakukan persetubuhan terhadap anak," tutur Agus.

7. Tuntutan yang Melegakan Korban

Tuntutan jaksa kepada terdakwa dianggap melegakan seluruh pihak termasuk para korban. Bahkan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menganggap tuntutan itu menjadi kado usai Hari Anak Nasional.

"Saya katakan, hadiah untuk anak Indonesia. Khususnya anak-anak korban predator kejahatan seksual bersamaan dengan hari anak Nasional yang jatuh pada hari Sabtu lalu, 23 Juli. Jadi sekali ini adalah hadiah untuk anak-anak Indonesia," ucap Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait seusai persidangan.

Arist berharap keputusan majelis hakim juga sama dengan tuntutan yang dibacakan jaksa. Pasalnya sepekan ke depan masih akan dilanjutkan dengan pembacaan nota pembelaan atau pleidoi oleh kuasa hukum terdakwa.

"Tentu kita masih menunggu hasil keputusan majelis hakim, yang akan mungkin seminggu yang akan datang, mungkin juga akan diberikan hak untuk jawab atau pledoi terhadap tuntutan JPU," kata dia.

8. Kuasa Hukum Tetap Kukuh Kliennya Tak Bersalah

Tim kuasa hukum terdakwa kekerasan seksual masih belum bersedia mengomentari tuntutan yang dilayangkan jaksa. Namun ia menegaskan, persidangan bukan perkara soal siapa yang bakal menang dan siapa yang kalah.

"Komentar akan kita sampaikan saat membuat nota pembelaan kita. Saya berbicara persidangan ini bukan mencari menang atau tidak menang, kita datang ke pengadilan proses pengadilan untuk mencari keadilan, bukan untuk menang - menangan," ucap Hotma Sitompul Ketua tim kuasa hukum JE.

Hotma juga bakal mempersiapkan diri untuk melakukan pembelaan terhadap kliennya dengan menyiapkan sejumlah barang bukti pamungkas. Barang bukti itu diklaim mampu meloloskan kliennya dari tuntutan jaksa tersebut.

"Harus selalu Nanti kita bicara, nanti kita akan buka semua bukti-bukti kita. Ini baru surat tuntutan, banyak orang bergembira kalau dituntut tinggi. Kalau dituntut bebas ribut juga. Harus selalu yakin (kliennya tidak terjerat tuntutan)," jelasnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini