Share

Kerajaan Abisal, Kawasan Laut yang Paling Jarang Diungkap

Tim Okezone, Okezone · Selasa 09 Agustus 2022 03:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 08 18 2644261 kerajaan-abisal-kawasan-laut-yang-paling-jarang-diungkap-PPudwFnzQu.JPG Ilustrasi/ Foto: BBC

JAKARTA - Zona abisal adalah wilayah yang paling jarang dieksplorasi di planet ini, meskipun kawasan ini mengandung 60% kerak bumi.

Zona yang juga sering disebut dengan istilah 'kerajaan abisal' ini merupakan lapisan laut dalam. Sebagian besar dasar laut ditemukan pada zona ini.

 BACA JUGA:Kubur Paket Sabu, Mahasiswa Politeknik Pelayaran di Makassar Ditangkap

Zona abisal adalah sebuah dunia dengan kondisi ekstrem yang menyimpan banyak kekayaan kehidupan.

Penelitian terbesar yang pernah dilakukan di zona ini dilakukan periset dari delapan negara. Mereka menguji air dan sedimen di laut dalam.

Kajian tersebut kemudian diterbitkan dalam jurnal Science Advances. Para peneliti itu mengungkap bahwa banyak spesies yang hidup di zona abisal sama sekali baru bagi sains.

Tiga peneliti dari Spanyol yang terlibat dalam studi itu menjelaskan temuan utama mereka kepada BBC Mundo, sekaligus menuturkan alasan penting untuk melindungi dunia yang hampir tidak dikenal ini.

 BACA JUGA:Lagi, Pengurus PMI Ilegal Ditangkap terkait Perdagangan Manusia

Bagaimana Kerajaan abisal terbentuk?

"Ini adalah zona lautan yang dimulai pada kedalaman 4.000 meter," kata Covadonga Orejas Saco del Valle, peneliti di Pusat Oseanografi Gijon, bagian dari Institut Oseanografi Spanyol (CSIC) sebagaimana dinukil dari BBC, Senin (8/8/2022).

Covadonga berkata, sangat sedikit data yang telah diketahui tentang zona ini.

Sebagai perbandingan, permukaan Bulan dan Mars sudah sepenuhnya dipetakan, tapi baru 20% dasar laut yang telah eksplorasi.

Zona abisal mencapai hingga kedalaman 6.000 meter. Lapisan berikutnya disebut zona hadal.

Sebagian besar dasar laut berada pada kedalaman sekitar 4.000 hingga 5.500 meter.

"Ada bagian lain dalam sebuah palung di mana Anda dapat mencapai kedalaman 10.000 sampai 15.000 meter, tapi itu hanya 5 atau 6% dari planet ini," kata Pedro Martínez Arbizu, ahli biologi kelautan dan peneliti di Senckenberg Natural History Museum, Jerman.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Lantas seperti kondisi dunia ekstrem itu dan siapa yang tinggal di sana? Tekanan air di zona abisal sangat besar.

"Tekanannya mencapai 500 sampai 600 atmosfer. Itu setara 500 hingga 600 kali lebih besar dari tekanan atmosfer di permukaan Bumi," kata Martínez.

Di sisi lain, kata Covadonga, suhu di zona abisal sangat rendah, antara 2 dan 3 derajat celsius. Di lapisan laut ini juga sama sekali tidak terdapat cahaya.

 BACA JUGA:Lagi, Pengurus PMI Ilegal Ditangkap terkait Perdagangan Manusia

"Fauna yang hidup di zona ini bervariasi dan tergolong dalam berbagai kelompok taksonomi, dari organisme kecil hingga spesies ikan yang berbeda," ujar Cavadonga.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa binatang yang hidup di sana lebih beragam dari yang pernah diperkirakan sebelumnya," kata dia.

Karena tidak ada cahaya yang mencapai kedalaman ini, fotosintesis tidak mungkin terjadi di zona abisal.

Martínez Arbizu berkata, organisme di zona abisal hanya memakan yang jatuh dari permukaan laut atau yang biasa disebut dengan terminologi salju laut.

"Yang tersedia untuk dikonsumsi adalah sisa-sisa ganggang dan bangkai penghuni kecil zooplankton yang jatuh sedikit demi sedikit dan mencapai kedalaman itu," ucapnya.

Walau begitu, Martinez menyebut hanya 5% dari sumber makanan itu yang dapat mencapai zona ini. Sisanya dikonsumsi penghuni laut lainnya saat masih di permukaan atau dalam perjalanan melalui kolom air.

 BACA JUGA:POBSI Pool Circuit Seri II Banjarmasin: Feri Tumbang di 16 Besar, Perburuan Ranking Nasional Makin Sengit

Ramon Massana, peneliti di Institut de Ciencies del Mar (CSIC) di Barcelona, menjelaskan bahwa organisme yang hidup di zona abisal adalah berbagai macam binatang seperti nematoda, krustasea, dan annelida.

Ada juga eukariota mikroba dan prokariota. "Mereka adalah spesies yang sudah sepenuhnya beradaptasi dengan kondisi ekstrem ini," kata Ramon.

Eukariota adalah organisme, yang sama seperti tumbuhan, hewan, dan manusia, terdiri dari sel-sel eukariotik dengan nukleus yang dilindungi membran.

Adapun prokariota merupakan mikroorganisme seperti bakteri, yang selnya (prokariota) tidak memiliki nukleus yang pasti.

Mengapa begitu sedikit yang diketahui tentang zona bawah laut ini?

Studi terbesar tentang zona abisal ini merupakan hasil dari kolaborasi internasional. Sampel yang dikaji para peneliti berasal dari 15 ekspedisi berbeda.

"Ini adalah ekosistem yang sulit diakses, itu sebabnya hanya sedikit yang telah kita ketahui," kata Cavadonga.

"Dan anggaran penelitian ini sangat besar. Oleh karena itulah penyatuan riset dan sumber daya serta membangun kolaborasi internasional seperti ini sangat penting," tuturnya.

Martínez Arbizu mencontohkan, untuk mengambil sampel dengan kapal keruk di kedalaman 5.000 meter, dibutuhkan kabel sepanjang lebih dari 10 kilometer. Dia berkata, hanya sedikit kapal yang memiliki kapasitas seperti itu.

Apa yang terungkap dalam riset itu?

Para ilmuwan menganalisis 1.700 sampel air dan sedimen dari zona abisal. Mereka juga meneliti dua miliar sekuens DNA.

Hasil pengurutan besar-besaran ini kemudian dibandingkan dengan sampel dari berbagai tingkat kolom air di semua lautan dunia.

"Temuan utama riset ini bertujuan menemukan ciri keragaman besar yang mendiami zona abisal dan hadal, sekaligus memprediksi seberapa banyak yang masih harus ditemukan di sana," kata Cavadonga.

"Studi ini menunjukkan bahwa keanekaragaman di dasar laut ternyata sangat tinggi, bahkan hingga tiga kali lebih besar.

"Semua ini menunjukkan kepada kita gambaran baru kehidupan di sedimen bawah laut," ujarnya.

"Temuan ini mengejutkan," kata Martínez Arbizu, "karena pada kenyataannya hampir semua kelompok hewan memiliki keluarga di zona abyssal."

"Mereka bisa berupa bintang laut, krustasea seperti udang kecil, karang, bunga karang, walau bentuknya berbeda dari apa yang kita ketahui di permukaan," ujar Martinez.

Sekitar dua pertiga dari satwa di zona ini tidak dapat dimasukkan ke kelompok yang selama ini sudah dikenal.

"Spesies ini baru, belum ada yang menyelidikinya, tidak ada referensi di pusat data internasional. Sering kali kita tidak tahu mereka berasal dari kelompok hewan yang mana," ucap Martínez.

Cavadonga berkata, DNA purba yang tersimpan di zona ini akan berkontribusi untuk merekonstruksi karakteristik samudera pada masa lalu.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini