Share

Uniknya Kasus Pencurian Karya Seni Paling Menakjubkan di Inggris yang Dilakukan Seorang Sopir Bus

Tim Okezone, Okezone · Kamis 11 Agustus 2022 03:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 10 18 2645402 uniknya-kasus-pencurian-karya-seni-paling-menakjubkan-di-inggris-yang-dilakukan-seorang-sopir-bus-65so7dd3hF.jpg Kempton Bunton/BBC

INGGRIS - Pada 1961, sebuah lukisan potret Duke of Wellington karya pelukis Francisco Goya raib dari Museum Galeri Nasional di Inggris. Kasus pencurian lukisan buatan 1814 ini diangkat dalam film The Duke.

Dalam sebuah adegan pada film James Bond pertama, agen 007 tampak memasuki markas penjahat, Dr No. Langkah sang agen terhenti sejenak ketika dia memandangi sebuah lukisan berpigura emas.

Khalayak masa kini kemungkinan tidak paham betapa lucunya adegan beberapa detik itu bagi penonton di bioskop ketika film tersebut ditayangkan pada 1962 lampau.

Lukisan yang dipandangi Sean Connery sebagai pemeran agen 007 adalah lukisan potret Duke of Wellington karya pelukis Francisco Goya pada 1814. Lukisan itu raib dicuri dari Museum Galeri Nasional di London pada 1961, setahun sebelum film James Bond pertama ditayangkan di bioskop.

Peringatan: Artikel ini membocorkan jalan cerita dan isi film The Duke

Pencurian lukisan potret Duke of Wellington benar-benar membingungkan.

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

Lukisan tersebut sebelumnya dimiliki John Osborne, Duke of Leeds. Dia menjualnya kepada seorang kolektor asal Amerika Serikat, Charles Wrightsman, seharga £140.000 (Rp2,7 miliar) melalui lelang.

Namun, pemerintah Inggris berupaya mencegah agar lukisan itu tidak sampai meninggalkan Britania Raya.

Untuk itu, Kementerian Keuangan Inggris bekerja sama dengan lembaga amal the Wofson Foundation guna menyamai tawaran Charles Wrightsman.

Rentetan kejadian ini membuat lukisan itu tiba-tiba menjadi lukisan paling terkenal di Inggris.

Warga berbondong-bondong ke Museum Galeri Nasional untuk menyaksikan lukisan mahal itu sehingga penjagaan pun berlangsung ketat.

Akan tetapi, sesaat sebelum Galeri dibuka pada pagi hari tanggal 21 Agustus 1961, para penjaga menyadari lukisan itu telah raib.

Mereka tidak melihat ada penyusup, tiada kerusakan, dan tiada jejak peralatan atau senjata di lokasi kejadian.

Insiden seperti ini tidak pernah terjadi selama 138 tahun sejarah Museum Galeri Nasional. Jika Dr No tidak terlibat, maka pelakunya mesti seseorang yang sama liciknya, berpengalaman, punya jaringan internasional, dan dana banyak.

Saat itu tiada yang tahu siapa yang mengambilnya dan di mana lukisan itu berada.

Karenanya, ide sutradara film James Bond bahwa lukisan itu jatuh ke tangan Dr No menjadi lelucon tersendiri.

Tapi itu hanyalah dugaan belaka. Yang terjadi pada November 1965, empat tahun setelah pencurian, benar-benar tidak disangka.

Seorang pensiunan sopir bus berusia 61 tahun dari Kota Newcastle, Inggris, datang menghadap aparat dan menyatakan bahwa dia yang mengambil lukisan potret Duke of Wellington.

Pria itu mengatakan dirinya tidak pernah berniat menyimpannya.

"Satu-satunya tujuan saya adalah mendirikan sebuah lembaga amal untuk membayar tagihan izin televisi [dana untuk mendanai BBC di Inggris] bagi orang tua dan miskin seperti saya yang sepertinya ditelantarkan di tengah masyarakat kaya." ujarnya.

Pengakuan pria bernama Kempton Bunton ini meruntuhkan dugaan bahwa lukisan dicuri penjahat dari jaringan internasional.

Alhasil film yang mengangkat kisahnya pun bukan genre laga seperti James Bond, melainkan drama komedi berjudul The Duke.

The Duke dibintangi Jim Broadbent sebagai Bunton dan Helen Mirren sebagai istrinya yang lama menderita.

Salah satu produser eksekutif film ini adalah Chris Bunton, cucu Kempton Bunton.

"Ini adalah kisah perjuangan kelas pekerja. Keluarga [Kempton] tidak punya uang, mereka menghadapi kemiskinan serta banyak tragedi. Hal ini mempengaruhi psikis dan proses pembuatan keputusan mereka. Ini bukan kisah pencurian biasa," papar Chris kepada BBC Culture.

Seorang pemimpi dan aktivis

Kempton Bunton adalah seorang penduduk lama Newcastle, jauh sebelum pencurian lukisan Goya.

Dia sering dipecat dari pekerjaannya karena membela rekan-rekan kerjanya di hadapan para atasan.

Di waktu senggangnya, dia adalah seorang penulis naskah drama. Namun, naskah-naskahnya sering ditolak berbagai pihak, termasuk BBC.

Kempton juga seorang aktivis yang menganggap televisi sebagai hiburan bagi pensiunan kesepian, khususnya bagi para veteran Perang Dunia I seperti ayahnya.

Di Inggris, memiliki televisi tanpa membayar iuran izin lisensi tahunan adalah perbuatan melanggar hukum.

Kempton merasa bahwa iuran tersebut terlalu tinggi bagi orang-orang miskin sehingga dia memprotes dengan menolak membayarnya.

Akibat perbuatan itu, dia dipenjara sebanyak tiga kali pada 1960.

"Saya suka dengan kenyataan bahwa Kempton punya mimpi-mimpi melampaui posisinya," kata Nicky Bentham, produser film The Duke.

"Dia berpegang teguh pada prinsip-prinsipnya, keyakinan pada komunitas, dan keyakinan bahwa satu orang bisa membuat perbedaan. Menurut saya, bahwasannya dia akhirnya punya tempat untuk membagikan apa yang dia inginkan katakan kepada dunia, benar-benar membuat semangat dan menginspirasi," papar Bentham.

Kehidupan Kempton juga diguncang oleh tragedi, seperti dijelaskan cucunya, Chris Bunton.

Melalui penyutradaraan Roger Michell serta penulisan naskah oleh Richard Bean dan Clive Coleman, film ini menggambarkan bagaimana tragedi kematian putrinya, Marion, dalam kecelakaan sepeda, membuat Kempton sarat duka dan perasaan bersalah.

"Saya tidak bilang bahwa hal ini membenarkan apa yang dia lakukan, tapi kejadian itu benar-benar mengerikan," kata Chris.

Belakangan Kempton memaparkan di pengadilan bahwa pada 1961 dirinya mendengar pemerintah telah membayar harga yang sangat mahal untuk sebuah lukisan kecil. Bagi Kempton, itu tidak adil.

Dia kemudian pergi ke Museum Galeri Nasional guna melihat lukisan menghebohkan tersebut.

Sesampainya di sana, dia melihat beberapa tukang yang sedang merenovasi bangunan telah meninggalkan sebuah tangga di jalan, di luar museum.

Saat itu jendela di toilet pria tidak terkunci dan sistem alarm dimatikan setiap pagi ketika para petugas pembersih datang bertugas.

Dalam waktu singkat, lukisan Goya raib dari museum dan berpindah ke lemari pakaian Kempton di rumahnya, Kota Newcastle.

Aparat terhenyak dengan raibnya lukisan Goya. Berbagai artikel di surat kabar berspekulasi bahwa sebuah kelompok bandit Italia berada di balik aksi pencurian itu, atau mungkin aristokrat yang keranjingan adrenalin.

Kempton lantas mengirim surat kaleng ke sejumlah surat kabar, berisi janji dirinya akan mengembalikan lukisan jika uang sebesar £140.000 disumbangkan ke lembaga amal.

Tapi kepolisian tidak pernah mengendus jejak Kempton, meski dia telah mengirim surat kaleng.

"Jurang antara kaum berada dan seorang sopir bus di Newcastle teramat besar. Lagipula belum pernah ada pencurian semacam ini di Inggris, jadi mereka [polisi] tidak tahu bagaimana menanganinya," kata Nicky Bentham, produser film The Duke.

"Pencurian karya seni memang telah terjadi di tempat lain, dan peristiwa-peristiwa itu selalu dikaitkan dengan sindikat kejahatan yang terorganisir dengan baik, sehingga begitulah asumsinya," lanjutnya.

Pada akhirnya Kempton memutuskan cukup sudah. Pada Mei 1965, dia menaruh lukisan itu di tempat penitipan koper di Stasiun New Street, Kota Birmingham. Kuitansinya kemudian dia kirim ke tabloid Mirror.

Enam pekan kemudian, dia melenggang ke kantor New Scotland Yard dan mengaku dirinya adalah pencuri lukisan karya Goya.

Ketika diadili, dia menggunakan rangkaian sidang sebagai kesempatan untuk menguliahi masyarakat Inggris mengenai iuran lisensi televisi.

Karena telah mengembalikan lukisan, Kempton tidak dianggap bersalah melakukan pencurian lukisan. Akan tetapi, dia dinyatakan mencuri bingkai lukisan.

Kempton menghabiskan tiga bulan di penjara dengan kepuasan bahwa dirinya sudah mengemukakan pandangan politiknya serta mengelabui para penyelidik kejahatan paling brilian di Inggris.

Bukan akhir cerita

Tapi kisah Kempton tidak berakhir di penjara. Anda yang ingin menyaksikan film The Duke, mestinya berhenti membaca artikel ini.

Orang yang mencuri lukisan Goya ternyata bukan Kempton Button, melainkan putranya yang berusia 20 tahun dan berprofesi sebagai tukang reparasi perahu, John.

Pada 1969, John menyerahkan diri ke aparat. Namun, Direktur Penuntut Umum menganggap tiada lagi bukti yang tersedia sehingga John dibebaskan. Lagipula, aparat hukum Inggris tak ingin dipermalukan lagi.

"Jika mereka mengadili John, mereka harus memanggil Kempton lagi ke pengadilan dan menyatakan dia melakukan kebohongan. Mereka tidak ingin memberikannya panggung lagi," jelas Nicky Bentham, produser film The Duke.

Pada 2012, arsip rahasia yang menjabarkan pengakuan John dirilis ke publik.

"Ayah saya tidak menyangka bisa lolos begitu saja," kata Chris, putra John, yang kini berusia 80 tahun.

"Saat itu dia bekerja di London, tinggal di kamar kos dan bertanya dalam diri, apakah mungkin [mendapat lukisan Goya]. Dia melihat jendela terbuka di toilet dan tangga di belakang Galeri. Satu aksi menuntun ke aksi berikutnya." jelasnya.

Aksi John yang masuk dan keluar Galeri Nasional hanya berlangsung beberapa menit sejak pukul 05.50 pagi.

Dia lantas membawa lukisan itu menggunakan mobilnya menuju kamar kosnya.

Dia berpikir keluarganya yang butuh uang mungkin bisa mendapat beberapa ribu pound dari perusahaan asuransi sebagai tebusan.

Di samping itu, ayahnya bisa mendapat panggung untuk bersuara.

"Ayah saya menjadikan Kempton sebagai panutan. Dia adalah satu-satunya orang yang selalu mendukungnya," ujar Chris, cucu Kempton yang merupakan salah satu produser eksekutif film The Duke.

Kempton terbukti mendukung putranya. Ketika dia mengirim surat kaleng ke sejumlah surat kabar untuk meminta sumbangan, dia berharap media akan bersimpati pada John jika dia ditangkap.

Kempton juga berkeras menjadi sosok yang disalahkan, alih-alih putranya.

"Kempton adalah karakter tercela. Dia bukanlah ayah terbaik atau suami terbaik, namun dia melakukan hal luar biasa untuk menyelamatkan anaknya. Jika ayah saya ke penjara pada usia itu, hidupnya akan hancur. Jadi saya puas film ini fokus ke hal itu."

"Ya, Kempton punya kepentingan agar suaranya didengar, namun tujuan utamanya adalah melakukan hal yang benar untuk keluarganya," papar Chris.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini