Share

Presiden Taiwan: Latihan Militer Besar-besaran China Sudah Mereda, Namun Ancaman Tetap Ada

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 12 Agustus 2022 15:29 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 12 18 2646734 presiden-taiwan-latihan-militer-besar-besaran-china-sudah-mereda-namun-ancaman-tetap-ada-BY1mg5WgTP.jpg Latihan militer China sudah mereda, namun ancaman ke Taiwan masih ada (Foto: Reuters)

TAIPEI โ€“ Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan pada hari Kamis (11 Agustus), meskipun latihan militer terbesar Beijing di sekitar pulau itu tampaknya berkurang, namun ancaman kekuatan China tidak berkurang.

"Saat ini, ancaman kekuatan militer China belum berkurang," terangnya kepada perwira angkatan udara, menurut pernyataan dari kantornya, dikutip CNA.

Kantor Tsai mengatakan Taiwan tidak akan meningkatkan konflik atau memprovokasi perselisihan.

"Kami akan dengan tegas mempertahankan kedaulatan kami dan mematuhi garis pertahanan demokrasi dan kebebasan,โ€ terangnya.

Baca juga:ย Biden Prihatin China Perpanjang Latihan Militer Besar-besaran di Sekitar Taiwan

Pemerintah Taiwan yang dipilih secara demokratis mengatakan Republik Rakyat China tidak pernah memerintah pulau itu sehingga tidak memiliki hak untuk memutuskan masa depannya atau mengklaimnya sendiri.

Baca juga:ย ย China Hentikan Latihan Militer Besar-besaran, Taiwan Masih Latihan Tembakkan Howitzer dan Suar

โ€œDalam menghadapi provokasi militer China baru-baru ini, angkatan bersenjata negara berada tepat di garis depan, dan tugasnya hanya akan lebih berat dan tekanannya akan lebih besar lagi,โ€ tambahnya.

Sebuah sumber yang diberi pengarahan tentang masalah itu mengatakan kepada Reuters bahwa jumlah kapal perang yang dekat dengan garis tengah Selat Taiwan, penyangga tidak resmi, "sangat berkurang" dari hari-hari sebelumnya.

Sebuah sumber yang mengetahui perencanaan keamanan mengatakan beberapa kapal angkatan laut China sedang melakukan misi di lepas pantai timur Taiwan dan dekat pulau Yonaguni Jepang pada Kamis (11/8/2022). Yonaguni adalah pulau Jepang yang paling dekat dengan Taiwan, sekitar 100 km jauhnya.

Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan dalam sebuah pernyataan, Kamis, pihaknya mendeteksi 21 pesawat militer China dan enam kapal angkatan laut China di dan sekitar Selat Taiwan, di mana 11 pesawat telah melintasi garis tengah.

Jumlah itu turun dari 36 pesawat dan 10 kapal yang terdeteksi sehari sebelumnya, ketika 17 pesawat melintasi garis tengah.

Taiwan juga telah melakukan latihan tahunan yang relatif kecil, dijadwalkan sebelum gejolak dan bertujuan untuk mempersiapkan diri untuk mengusir invasi.

Taiwan telah hidup di bawah ancaman invasi China sejak 1949 ketika pemerintah nasionalis Republik China yang kalah melarikan diri ke pulau itu setelah Partai Komunis Mao Zedong memenangkan perang saudara.

Sementara itu, militer China tidak membuat komentar baru tentang aktivitas militernya di sekitar Taiwan pada Kamis (11/8/2022).

Namun, kedua belah pihak melanjutkan perang kata-kata mereka, dengan Taiwan mengulangi penolakan terhadap model "satu negara, dua sistem" yang diusulkan China untuk membawa pulau itu di bawah kendali Beijing.

Juru bicara kementerian luar negeri Taiwan, Joanne Ou, dalam konferensi pers di Taipei mengatakan hanya rakyat Taiwan yang bisa memutuskan masa depannya.

Dia mengatakan China menggunakan kunjungan Pelosi ke Taipei sebagai alasan untuk menciptakan normalitas baru untuk mengintimidasi rakyat Taiwan.

Di Beijing, juru bicara kementerian luar negeri China Wang Wenbin mengatakan bahwa "penyatuan kembali" tidak dapat dihindari suatu hari nanti.

"Kami bersedia untuk menciptakan ruang yang luas untuk reunifikasi damai, tetapi kami tidak akan pernah meninggalkan ruang untuk segala bentuk kegiatan pemisahan diri untuk kemerdekaan Taiwan,โ€ ujarnya.

Diketahui, China marah terkait kunjungan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi ke Taiwan pada pekan lalu.

China meluncurkan rudal balistik dan mengerahkan beberapa pesawat dan kapal perang dalam beberapa hari terakhir untuk mensimulasikan serangan laut dan udara.

China mengatakan pada Rabu (10/8/2022) bahwa pihaknya akan terus berpatroli tetapi telah "menyelesaikan berbagai tugas" di sekitar Taiwan, menandakan kemungkinan diakhirinya latihan perang bahkan sambil terus menekan.

China mengatakan hubungannya dengan Taiwan adalah masalah internal dan berhak untuk membawa pulau itu di bawah kendalinya, dengan paksa jika perlu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini