Share

Sidang Pencabulan Santriwati Berlangsung Tertutup, Istri Mas Bechi Setia Dampingi

Hari Tambayong, iNews · Senin 15 Agustus 2022 14:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 15 519 2648122 sidang-pencabulan-santriwati-berlangsung-tertutup-istri-mas-bechi-setia-dampingi-d4uABp94OW.jpg Mas Bechi/Foto: MNC Media

SURABAYA- Pengadilan Negeri Surabaya kembali menggelar sidang lanjutan dengan terdakwa Moch Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Mas Bechi (42) (MSAT) atas dugaan perkara asusila yang dilakukan terhadap sejumlah santriwati.

(Baca juga: Tangan Diborgol, Ini Penampakan Mas Bechi Hadiri Sidang Pencabulan Santriwati)

Sidang kelima ini berlangsung tertutup dengan agenda pemeriksaan saksi. Informasi yang dihimpun, ada sekitar empat hingga lima orang saksi yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum (JPU).

Sidang hari ini dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Sutrisno, bersama dua Hakim Anggota yaitu Titik Budi Winarti, dan Khadwanto dan seorang Panitera Pengganti, Achmad Fajarisman.

Terdakwa Mas Bechi hadir dengan didampingi istri dan penasehat hukumnya. Kedua tangan Bechi terlihat diborgol dan mengenakan rompi tahanan dengan dikawal ketat polisi.

Terdakwa langsung memasuki ruang Cakra, tempat persidangan kasusnya digelar. Namun saat ditanya keadaannya, Bechi menyebut dirinya sehat dan baik-baik saja.

“Alhamdulillah sehat mas. Enggeh (seger waras),” ujarnya di PN Surabaya, Senin (15/8/2022).

Kuasa hukum terdakwa, I Gede Pasek Suardika, sebelumnya menyatakan, dengan sidang offline ini pihaknya bisa menguji fakta fakta persidangan yang sebelumnya didakwakan jaksa. 

Dalam perkara ini, Mas Bechi dijerat dengan pasal 285 KUHP junto pasal 65 KUHP ancaman pidana 12 tahun. Atau pasal 294 ayat 2 KUHP junto 65 ancaman pidana 9 tahun atau pasal 285 KUHP juncto pasal 65 KUHP dengan ancaman pidana 7 tahun.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Sekadar diketahui, Mas Bechi diduga melakukan pencabulan terhadap santriwati yang ada di Pondok Pesantren Shidiqiyah, Jombang, Jawa Timur.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, petugas kepolisian Polda Jatim sempat kesulitan menangkap tersangka MSAT karena mendapat penolakan dari santri di pondok pesantren setempat.

Beberapa kali petugas kepolisian ingin menangkap tersangka tetapi selalu lolos karena adanya perlawanan dari santri setempat.

Kasus ini menjadi semakin mendapatkan sorotan publik setelah petugas Polda Jatim menerjunkan seribuan personel untuk menyisir bagian dalam pondok pesantren guna menangkap tersangka.

Hingga akhirnya, tersangka menyerahkan diri dan dilakukan penahanan di Rutan Kelas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo Jawa Timur.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini