KUPANG – Angka prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya asupan gizi.
Terkait dengan hal ini, pemerintah kembali mengingatkan masyarakat pentingnya asupan gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau sejak terbentuknya janin, masa kehamilan, hingga anak berusia dua tahun.
“Kita harus bergotong royong untuk menurunkan angka prevalensi stunting. Terutama saya garis bawahi untuk diperhatikan 1000 Hari Pertama Kehidupan hingga usia Baduta atau bawah dua tahun,” kata Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (IKPMK) Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Wiryanta.
Penyataan tersebut disampaikan Wiryanta dalam Diseminasi Informasi dan Edukasi Percepatan Penurunan Stunting bertajuk 'Kepoin GenBest: Stunting Akibat Kurang Gizi? Yuk, Bongkar Rahasianya di Sini', yang diselenggarakan di Kupang, Jumat (19/8).
Menurutnya, stunting di Provinsi NTT adalah salah satu yang harus menjadi perhatian seluruh masyarakat. Dalam hal ini, perlu kerja keras untuk mencapai apa yang ditargetkan oleh pemerintah pusat yaitu angka prevalensi stunting 14 persen pada 2024.