JAKARTA - Pada Rabu 7 Maret 1962, sekitar pukul 10 pagi, Fanny (JE Habibie) mengajak BJ Habibie untuk berkunjung ke Keluarga Besari. Fanny merupakan adik BJ Habibie.
Terakhir ia berkunjung ke Keluarga Besari pada tahun 1954 di rumah mereka di Ciumbuleuit, Bandung. Pada waktu itu Habibie pertama kalinya melihat tanaman salak di kebun milik Keluarga Besari. Mereka dikenal sebagai keluarga yang ramah dan intelektual terpelajar.
Khususnya Bapak dan Ibu Besari terbuka bagi siapa saja tapa membedakan siapapun. Putra-putri Keluarga Besari bersekolah di SMA-Kristen di Jalan Dago, ditempat yang sama Habibie juga bersekolah.
Sahari putra tertuanya dari kelas 2 SMA sebagai extrané langsung tamat SMA dan diterima di Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung yang sekarang bernama ITB. Habibie baru beberapa hari di Indonesia, ia tinggal bersama ibunya di Jalan Imam Bonjol Bandung.
Dengan menggunakan mobil milik ibunya, Habibie dan Fanny berangkat menuju rumah keluarga Besari. Ternyata rumah keluarga Besari yang mereka tuju, tidak lagi di Ciumbuleuit, tetapi sudah pindah ke Jalan Rangga Malela no11 B, yang hanya Sekitar 15 menit dari rumah Habibie.
Setibanya di rumah Keluara Besari, Fanny tidak mengajak Habibie ikut ke dalam rumah. Ia meninggalkan Habibie di mobil sambil mengatakan agar menunggunya di dalam mobil.
Habibie akan diajak masuk, jika ternyata tidak mengganggu persiapan untuk malam Takbiran dan Hari ldul Fitri. Tentunya Ibu Besari sibuk dengan berbagai kegiatan. Hampir setengah jam Habibie menunggu, Fanny tidak kunjung datang. Demikian terungkap dalam Buku berjudul "Habibie & Ainun" karya Bacharuddin Jusuf Habibie.
Dalam keadaan tidak menentu itu, Habibie keluar dari mobil dan mengetuk pintu sambil berucap, "hallo, hallo, hallo". Namun, ia sama sekali tidak mendapatkan reaksi.
Lalu ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah. Saat Habibie memasuki ruang makan, ternyata Ainun, putri Bapak Besari duduk seorang diri. Ainun pula yang kelak menjadi istri Habibie.
Saat itu, Ainun sedang menjahit dan bercelana panjang blue jeans. Habibie tidak menyangka bertemu dengan Ainun dan tampaknya demikian pula Ainun.
“Ainun, kamu cantik, dari gula jawa menjadi gula pasir," ucap Habibie yang kaget melihat Ainun.
”Rudy, kapan kamu tiba dari Jerman?” tanya Ainun dengan tenang dan penuh senyum.
Terkenang tujuh tahun yang lalu ketika Ainun sedang duduk bersama beberapa wanita dari kelasnya menikmati sarapan pagi bersama.
Tiba-tiba Habibie datang mengucapkan kepada Ainun, “Mengapa kamu begitu hitam dan gemuk?"
Ainun pada waktu itu hanya kaget saat Habibie datangi dan mengucapkan pertanyaan yang tidak sopan itu. Ainun dan kawan-kawannya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala saja.
Mengenai peristiwa tersebut, kemudian Ainun menulis dalam buku A. Makmur Makka "Setengah Abad Prof. Dr-Ing. B.J. Habibie Kesan & Kenangan" 1986 (SABJH) sebagai berikut:
Ada satu ucapannya yang tak pernah saya lupakan. He, kenapa sih kamu kok gendut dan hitam? Kami gadis-gadis, semuanya kaget. Eh kok begitu, mau apa dia? Saya dan teman-teman lagi duduk-duduk ngobrol Waktu itu. Tiba-tiba saja ia datang menghampiri dan mengatakannya.
Mungkin ada maksudnya. Entahlah. Memang, kita berdua sudah saling tahu-mengetahui sejak dari SMP 5 dan SMP2 kita yang bersebelahan di Bandung itu. Katakanlah saling kenal mata. Keluarga kami berkenalan baik dan saling datang ke rumah, keluarganya di Jalan Imam Bonjol, orang tua saya di Ciumbuleuit.
Namun dapat dikatakan bahwa kami baru saling memperhatikan di SMA Kristen di Jalan Dago.
Bagaimana tidak. Karena kita dua-duanya sama kecil dan sama-sama paling muda di kelas masing-masing, kita selalu dijodoh-jodohkan oleh para guru “Itu lho yang cocok buat kamu."
Dia setahun lehih tua dan selalu satu kelas lebih tinggi. Tetapi kami tidak pernah berpacaran. Malah Fanny, adiknya lebih akrab dengan saya. Fanny kuanggap "konco", dia sendiri teman biasa.
la banyak disenangi gadis-gadis yang sedikit lebih tua. Saya ingat ia suka bersepatu roda. Saya sendiri suka berolah-raga: softball, volley, berenang, uga suka makan. Jadi kulit memang agak hitam, badan memang berisi.
Bukan dia satu-satunya lelaki yanq menjadi perhatian saya, buat anak gadis umur 16 tahun para mahasiswa yang hebat-hebat dan gagah-gagah memakai sepeda motor Harley Davidson tentu lebih menarik.
Dia masih bersepeda waktu itu. Apakah a minta lebih kuperhatikan lebih banyak? Tidak tahulah. Sehabis SMA kami jalan sendiri-sendiri, dia ke Jerman belajar menjadi insinyur, saya ke Jakarta masuk Fakultas Kedokteran UI.
Indekos mula-mula pada keluarga Harjono MT di Jalan Borobudur, kemudian pada keluarga Abidin di Jalan Lembanq.
Hidup cepat berlalu, tahun 1961 saya lulus, lalu bekerja di bagian Kedokteran Anak FKUI. Saya pindah rumah ke Jalan Kimia agar dekat ke tempat kerja.
Tahun 1960 ia selesai. Kata tante Habibie (saat itu belum saya panggil mami) ia baru sakit dua tahun lamanya. Sudah tujuh tahun dia tidak pulang.
Kata tante ada baiknya ia pulang berlibur dulu sebelum meneruskan promosinya, siapa tahu ia bertemu jodohnya wanita Indonesia di sini.
(Widi Agustian)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.