JAKARTA – Pada malam takbiran 7 Maret 1962, menjadi kenangan manis sepanjang masa dalam hidup Habibie dan Ainun.
Saat itu Keluarga Besari dari yang paling bungsu, Melok, sampai Bapak Besari dan Ibu Besari hadir, kecuali Sahari yang tengah mengambil kuliah untuk mendapatkan Master di Universitas Cornell, Amerika Serikat.
Latar belakang Bapak Besari sebagai dosen bidang perairan dan hydrodinamika memiliki perhatian yang sangat besar dalam segala bidang teknologi, membuat banyak pertanyaan yang rinci dan kritis diajukan kepada Habibie dalam bahasa Belanda.
Habibie menjelaskan secara rinci, dalam bahasa Belanda pula.
Tanpa disadari hari mendekati shalat Ashar. Ainun yang duduk bersama anggota keluarga yang lain kadang kadang mengajukan pertanyaan dan pandangan mengenai budaya dan perilaku orang Jerman.
Mereka semua mencerminkan suasana keterbukaan, kesetaraan dan telah memberi perasaan kekeluargaan yang hangat pada diri Habibie. Demikian dilansir dari Buku Habibie & Ainun.
Pada silahturahmi yang berlanjut sampai jauh malam, kadang-kadang mata Ainun dan Habibie bertemu tanpa komentar telah memberi dan menerima perasaan bagi Habibie yang belum pernah ia rasakan dan alami.
Memang sebuah momen tanpa kata yang terjadi. Tetapi tampaknya Habibie yakin dari momentum itu jika Ainun sudah ditakdirkan untuk menjadi pasangannya dan menghabiskan umur bersama-sama.
Usai acara itu, Habibie pun sempat bicara singkat dengan Ainun. Habibie mengajak Ainun untuk bertemu besok harinya setelah shalat Magrib.
(Widi Agustian)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.