Share

Strategi Jitu Sekutu Menumbangkan Nazi dengan Menggunakan Trik Sulap

Tim Okezone, Okezone · Selasa 06 September 2022 05:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 05 18 2661317 strategi-jitu-sekutu-menumbangkan-nazi-dengan-menggunakan-trik-sulap-hlkM0IkqCJ.JPG Seniman diaggap berjasa menumbangkan Nazi yang dipimpin Adolf Hitler/ Foto: BBC

JAKARTA - Dalam masa perang, seniman secara tradisional memiliki peran kecil untuk dimainkan.

Sejak Perang Dunia Pertama dan seterusnya, militer menyadari manfaat pengetahuan seniman tentang ilusi visual. Pengawasan dari udara kerap dilakukan, maka penyamaran sangat dibutuhkan.

Wawasan seniman tentang cahaya dan bayangan pun menjadi penting. Untuk pertama kalinya, keterampilan artistik dijadikan senjata.

Salah satu seniman ahli kamuflase di Inggris yang paling penting dalam Perang Dunia Pertama adalah Solomon J Solomon, anggota Royal Academy yang pernah belajar di bawah bimbingan pelukis Prancis terkenal Alexandre Cabanel.

Dalam Perang Besar, Solomon dengan penuh semangat menyusun taktik kamuflase militer di front Barat. Dia mengembangkan jaring kamuflase sebagai metode menutupi parit dan metode ini menjadi sangat berpengaruh.

Dilansir dari BBC, dia mengerjakan banyak skema penipuan lainnya termasuk "pohon observasi", replika batang pohon berongga yang ditempatkan di tanah tak bertuan, tempat pasukan dapat mengamati parit musuh.

Pematung dan pelukis Leon Underwood, yang pernah belajar di Royal College of Art sebelum perang, membantu merancang dan merakit pohon-pohon ini, pekerjaan yang sangat berisiko saat itu.

Seniman lain yang berkontribusi dalam upaya perang dalam Perang Dunia Pertama adalah Norman Wilkinson. Sebelum perang, ia telah menghasilkan seni rupa serta poster dan ilustrasi untuk koran seperti The Illustrated London News.

Tetapi pengabdian aktif di Royal Navy mendorong ide-ide artistiknya ke wilayah yang sama sekali lebih radikal, dan dia mulai mengerjakan ide-ide untuk melindungi kapal dari serangan musuh.

Menyadari bahwa kapal perang terlalu mencolok untuk bisa disembunyikan sepenuhnya di laut lepas, ia mengembangkan kamuflase kapal: komposisi garis-garis abstrak berdasarkan garis perspektif, yang dirancang untuk membingungkan musuh dan mempersulit mereka mendeteksi kecepatan dan posisi kapal.

Eksperimennya dilakukan di empat studio di Royal Academy di London, tempat dia bekerja dengan tim seniman termasuk Edward Wadsworth.

Strategi-strategi ini menjadi inspirasi penting untuk operasi penipuan melawan Nazi dalam Perang Dunia Kedua. Namun, generasi seniman baru kemudian menciptakan teknik ilusi yang jauh lebih canggih.

Trik Sulap

Geoffrey Barkas dan Tony Ayrton adalah pemimpin Direktorat Kamuflase Komando Timur Tengah, sebuah unit yang didedikasikan untuk menemukan strategi menyembunyikan para pasukan dari penglihatan musuh.

Direktorat itu bukan berisi tentara yang tangguh, tetapi mantan seniman, desainer panggung, dan kartunis yang telah direkrut karena keterampilan mereka dalam tipu daya visual.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Salah satu anggotanya pernah menjadi pesulap terkenal; Ayrton adalah mantan pelukis dan Barkas adalah seorang penulis naskah film, produser dan sutradara yang memenangkan Oscar untuk film dokumenter pada tahun 1936.

Mereka kemudian diberi tahu tentang rencana rahasia untuk Pertempuran Alamein kedua. Mereka diberitahu bahwa itu adalah serangan yang dapat mengubah nasib perang.

Sebelumnya, Direktorat Kamuflase Komando Timur Tengah hanya fokus menyiapkan taktik kamuflase.

Misalnya, tanah lapangan udara dicat dengan warna hitam dan abu-abu untuk mensimulasikan bayangan meriam untuk mengelabui pesawat pengintai kubu Axis.

Atap hanggar pesawat dicat dengan perspektif ilusionis agar terlihat seperti rumah warga. Teknik itu seperti yang dirintis oleh Wilkinson dan Solomon.

Tetapi pada September 1942, Sekutu membutuhkan trik sulap yang lebih besar.

Mereka khawatir dengan mobilitas, kecerdasan taktis, dan daya tembak musuh Axis, yang dipimpin oleh Erwin Rommel yang legendaris.

Untuk menang, mereka perlu membuat musuh Jerman dan Italia lengah dengan serangan yang tak bisa diduga.

Untuk melakukan ini, banyak tank harus ditempatkan di dekat musuh tetapi disembunyikan dari pandangan dan pasukan umpan yang terdiri dari 600 kendaraan militer palsu harus dibuat.

Barkas, Ayrton dan Direktorat Kamuflase diberi waktu hanya 28 hari untuk menyulap tentara fiksi dan menyamarkan yang asli dari pandangan.

Tentara fiksi di wilayah selatan diciptakan dengan tanki palsu dan toko makanan palsu, gudang amunisi dan wadah minyak, semuanya terbuat dari kotak dan daun palem yang dilapisi terpal.

Sebuah pipa air palsu yang besar juga dibangun, semuanya dibuat agar terlihat seperti asli oleh pesawat pengintai Jerman.

Di bagian utara, kendaraan tank ditutupi kompartemen kayu yang dipasang khusus agar terlihat seperti truk biasa. Artileri ditutupi dengan cara yang sama. Sebelum menyerang, penutupnya dilepas. Bagi pasukan Axis, serangan seperti ini tak diduga.

Triknya berhasil: setelah pertempuran besar-besaran yang mematikan, Sekutu mengalahkan pasukan Rommel.

Setelah pertempuran, seorang jenderal Jerman mengakui bahwa mereka telah sepenuhnya tertipu oleh waktu dan strategi serangan Sekutu. Para seniman itu berjaya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini