PADA masa penjajahan Belanda, terdapat masjid-masjid yang dibangun sebagai tempat ibadah umat Islam. Masjid-masjid tersebut masih berdiri hingga sekarang bahkan terus diperbarui dan menjadi bangunan bersejarah di Indonesia.
Masjid dibangun dengan penambahan kebudayaan daerah asal yang menjadi ciri khas. Inilah 5 masjid bersejarah yang dibangun pada masa kolonial Belanda, sebagaimana dirangkum pada Selasa (6/9/2022).
1. Masjid Agung Al-Fattah, Mojokerto
Masjid tertua yang ada di Kota Mojokerto ini berdiri pada 1877 Masehi, masa kolonial Belanda. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Kromodjojo Adinegoro III atau Raden Ersadan. Raden Ersadan ditunjuk pemerintah kolonial Belanda untuk menjadi regent (bupati era penjajahan Belanda) Mojokerto pertama, yang memerintah dari tahun 1866 hingga 1894.
Masjid yang sudah berusia 145 tahun ini dipugar dan pemugaran selesai pada awal 2020 lalu dengan memadukan budaya Islam Timur Tengah dan Majapahit. Kebudayaan Majapahit masih dipertahankan sampai saat ini yaitu berupa ukiran pada 4 tiang penyangga bangunan. Pada masing-masing soko guru dari kayu jati itu juga terdapat ukiran pewayangan.
2. Masjid Bujang Salim, Aceh
Masjid Bujang Salim ini didirikan pada 1921 oleh Teuku Bujang. Namun, saat setelah peletakan batu pertama masjid yang terletak di Desa Beringin Dua, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Teuku Bujang diasingkan ke Irian Jaya karena menentang kolonial Belanda. Kemudian pembangunan masjid dilanjutkan oleh Uleebalang asal Dewantara, Ampon Hanafiah.
Dalam perjalanannya, masyarakat sepakat menabalkan nama Teuku Bujang Slamat menjadi nama masjid jami tersebut, yaitu dengan nama Masjid Bujang Salim.
3. Masjid Ar-Rahman, Pekanbaru
Masjid yang berlokasi di Jalan Sudirman, Pekanbaru ini dibangun pada era kolonial Belanda tahun 1930. Tanah seluas 300 meter persegi yang digunakan untuk membangun Masjid Ar-Rahman ini adalah milik seorang bangsawan Jawa bernama Raden Sastro Djaya Ningrat.
Raden Sastro merupakan bekas kepala desa di Kota Pekanbaru. Ia memerintah selama tiga zaman, yaitu zaman kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan setelah kemerdekaan.
Masjid Ar-Rahman terus mengalami renovasi, hingga pada tahun 2006 diperluas setelah mendapat bantuan dari Pemerintah Provinsi Riau. Setahun setelahnya, Pemkot Pekanbaru ikut melengkapi segala sarana dan prasarana pendukung untuk Masjid Ar-Rahman.
4. Masjid Tuo Koto Nan Ampek, Payakumbuh
Masjid ini dibangun pada masa penjajahan Belanda. Berlokasi di Kelurahan Balai Nan Duo, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, masjid yang berdiri pada 1840 ini menjadi salah satu yang tertua di Indonesia.
Pembangunannya dilakukan pada masa pemerintahan Regent Tuanku Nan Cedok dari Suku Toko. Masjid Tuo Koto Nan Ampek memiliki luas bangunan 400 meter dengan kapasitas 500 jamaah.
5. Masjid Agung Al Barkah, Bekasi
Sebagai salah satu masjid tertua, Masjid Agung Al Barkah di Bekasi menyimpan sejarah panjang, terutama terkait perjuangan umat dalam meraih kemerdekaan. Masjid yang terletak di Marga Jaya, Bekasi Selatan, Bekasi, Jawa Barat ini didirikan pada 1890 di atas tanah wakaf seluas 3.000 meter persegi milik Barun, tokoh setempat.
Di masa penjajahan, masjid tersebut bukan sekadar menjadi tempat shalat, namun para pejuang juga memanfaatkannya sebagai tempat untuk menyusun strategi dalam menghadapi penjajah. Masjid yang semula bernama Masjid Al Barkah ini telah mengalami beberapa kali renovasi, bahkan diperluas dan dipugar hingga menjadi megah seperti yang terlihat sekarang ini. (Diolah dari berbagai sumber/Litbang MPI/Risa Maharani Putri)
(Erha Aprili Ramadhoni)