JAKARTA - Kisah cinta Habibie dan Ainun terjadi begitu cepat. Selama di Jakarta, mereka hampir tiap hari bertemu dan makan di tempat yang menurut selera mereka enak.
Waktu terus berlalu, hingga hubungan keduanya makin dekat dan mesra. Dalam setiap pertemuan dan perpisahan, pandangan mata mereka selalu mencerminkan kerinduan untuk pertemuan yang akan datang dan perasaan yang selalu menggetarkan hati.
Beberapa minggu setelah pertemuan pertama mereka, Habibie menjelaskan kepada Ainun bahwa akhir bulan Mei dia harus kembali ke Jerman karena cuti tiga bulannya akan berakhir.
“Apakah Ainun bersedia mendampingi dan bersama di rantau membangun keluarga sakinah, jauh dari pengaruh keluarga besar Habibie dan keluarga besar Besari?” kata Habibie seperti dikisahkan dalam buku Habibie & Ainun.
Kemudian, mereka beberapa kali berdiskusi terkait masa depan dan hingga memutuskan untuk menikah sebelum cuti tiga bulan Habibie berakhir.
Dikutip pada buku Habibie & Ainun, Keduanya menyanggupi bersama untuk menghadapi segala tantangan di manapun kami berada. Kami berkeyakinan bahwa cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi kami, Allah SWT selalu akan mendampingi kami dalam perjalanan membangun keluarga sakinah. Kami sepakat untuk bersama-sama.
“Karena Ayah saya sudah meninggal pada tahun 1950, ketika beliau sedang memimpin shalat Isya di atas sajadah, tiba-tiba mendapat serangan jantung, tepatnya 12 tahun yang lalu. Saya harus nyekar ke makamnya di Makassar. Semuanya membutuhkan persiapan dengan prasarana, dana dan waktu yang terbatas,” ujar Habibie dalam buku Habibie & Ainun.
Dengan bermodalkan keyakinan untuk menikah, niat baik Habibie dan Ainun kemudian disambut dengan baik oleh kedua keluarga besar Besari dan Habibie. Kedua keluarga besar tersebut kemudian berbagi tugas. Keluarga Besari bertugas untuk mengurus segala persiapan dan pelaksanaan akad nikah secara adat dan budaya Jawa, yang akan dilaksanakan hari Sabtu tanggal 12 Mei 1962 di Rangga Malela. Sedangkan resepsi dengan adat dan budaya Gorontalo, akan dilaksanakan pada keesokan harinya tanggal 13 Mei 1962 di Hotel Preanger, diserahkan kepada keluarga Habibie.