Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sepeda Mahal Rebut Hati Pegowes Baru di China, Rela Rogoh Kocek hingga Rp30 Juta

Susi Susanti , Jurnalis-Selasa, 13 September 2022 |11:43 WIB
Sepeda Mahal Rebut Hati Pegowes Baru di China, Rela Rogoh Kocek hingga Rp30 Juta
Sepeda mahal jadi incaran para pegowes baru (Foto: Antara/Reuters)
A
A
A

BEIJING - Zhou Changchang suka menghabiskan waktu senggang dengan menyusuri jalan-jalan di Ibu Kota Beijing bersama teman-temannya sesama anggota klub sepeda.

Pria 42 tahun yang berprofesi sebagai guru itu menaiki sepeda Tiffany Blue buatan perusahaan Inggris Brompton.

Zhou adalah satu dari sekian banyak pegowes di China yang menggemari sepeda-sepeda premium buatan Brompton, Giant dan Specialized.

Menurut perkiraan konsultan Research & Markets, pasar sepeda premium akan mencapai USD16,5 miliar (Rp245,26 triliun) pada 2026.

Baca juga: Tidak Sekadar Gowes, Komunitas Sepeda Tua Ikut Menjaga Sejarah Indonesia

Media sosial dan platform perdagangan elektronik menyebut minat bersepeda melonjak sepanjang tahun lalu dan penjualan sepeda juga meningkat.

Baca juga: Pemprov DKI Bikin Regulasi Bagi Komunitas yang Ingin Bersepeda

Dikutip Antara, di China, pegowes akan mengeluarkan uang lebih dari 13.000 yuan (Rp27,92 juta) untuk mendapatkan sepeda lipat (city bike) merek terkenal seperti Brompton.

Sepeda balap (road bike), yang biasa dipakai untuk jarak jauh di atas jalan aspal yang mulus, dibanderol mulai 10.000 yuan (Rp21,45 juta).

Media melaporkan pada Agustus lalu bahwa sebuah sepeda mewah bermerek Hermes dijual dengan harga 165.000 yuan (Rp353,98 juta).

"Mayoritas pegowes rela berbelanja secara royal," kata platform perdagangan daring JD.com bulan lalu.

JD.com mengatakan penjualan sepeda balap di platform mereka meningkat lebih dari 100 persen dari Juni hingga Agustus ketimbang periode yang sama tahun lalu, sementara penjualan pakaian bersepeda melonjak 160 persen.

China telah lama dikenal sebagai negara pecinta sepeda dan pernah dijuluki "kerajaan sepeda".

Selama berpuluh-puluh tahun, sepeda buatan lokal seperti Flying Pigeon memenuhi jalan-jalan di China.

Ketika kelas menengah beralih ke mobil, naik sepeda kemudian dianggap kampungan.

Namun, produsen sepeda merasakan kembali kejayaan mereka pada 2014 ketika perusahaan penyewaan sepeda (bike-sharing) seperti Mobike dan Ofo muncul dengan armada mereka dan menawarkan jasa dengan tarif murah mulai 1 yuan.

Zhou, seperti kebanyakan pegowes lain, mengatakan dia bersepeda agar tubuhnya tetap bugar.

Covid-19 dan penguncian wilayah (lockdown) juga menaikkan minat bersepeda di jalan-jalan.

"Saya amat merindukan ruang terbuka dan udara segar," kata pekerja kantoran Shanghai, Lily Lu, yang memesan sebuah sepeda Brompton seharga 13.600 yuan (Rp29,19 juta) pada hari ketika dia terbebas dari lockdown tiga bulan.

Saat permintaan meningkat, para produsen berjuang memenuhi permintaan. Lu mengatakan dia harus menunggu dua bulan untuk mendapatkan sepeda pesanannya itu.

Perusahaan lokal Pardus, pembuat sepeda balap yang harganya bisa mencapai lebih dari 30.000 yuan (Rp64,39 juta), mengaku penjualannya berlipat dua dari tahun lalu dan pabriknya beroperasi terus menerus.

"Semuanya kehabisan stok," kata Direktur merek Pardus Li Weihai.

(Susi Susanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement