Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Penyelundup Manusia, Dilema dalam Pusaran Bisnis yang Menguntungkan

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Rabu, 14 September 2022 |07:01 WIB
Kisah Penyelundup Manusia, Dilema dalam Pusaran Bisnis yang Menguntungkan
Elham Noor (Foto: BBC)
A
A
A

JAKARTA - Elham Noor, salah seorang penyelundup manusia dari Afghanistan ke Eropa. Dia menceritakan bagaimana caranya menyelundupkan manusia.

Dalam sebuah kesempatan, BBC mewancarainya dan menanyakan soal adakah penyesalan ketika mendengar orang yang diselundupkan tenggelam, dan apakah dia merasa tanggung jawab atas kematian mereka.

"Menyakitkan bagi saya ketika keluarga mereka menanyakan tentang orang-orang yang mereka cintai. Dua mayat ditemukan dari kapal (yang tenggelam), sementara dua orang masih hilang," ujar sang penyelundup.

"Mereka cukup muda dan mencari keamanan serta masa depan yang lebih baik, yang merupakan hak semua orang, saya pikir," imbuhnya.

Kendati dirinya tetap tak menerima bila harus bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Ia hanya meminta maaf kepada para keluarga, karena itu terjadi bukan karena niatnya. "Saya sudah memberitahu mereka di awal, banyak hal bisa terjadi di tengah perjalanan,"

"Mereka bisa ditangkap dan dideportasi oleh polisi, diculik oleh milisi dan bahkan meninggal karena kecelakaan. Mereka telah menerima ini,"

"Tuhan yang akan memutuskan untuk memaafkan saya atau tidak," 

Terorganisir

Dalam menjalankan aksinya, Noor terbilang terorganisir. Bahkan dirinya mengklaim memiliki tingkat keberhasilan tinggi dalam menyelundupkan orang ke Italia, Prancis, dan Inggris. Keberhasilan itu tentunya didukung oleh jaringannya.

"Penyelundupan bukan bisnis perorangan, namun sebuah jaringan yang besar. Kami memiliki hubungan satu sama lain. Kendati begitu, saya tidak pergi bersama para migran - semuanya diatur melalui telepon," ujarnya.

Banyak orang Afghanistan yang putus asa dan ingin meninggalkan negara mereka, bahkan PBB mengatakan 2,7 juta orang Afghanistan saat ini tinggal di luar negeri sebagai pengungsi - dengan jumlah dibawah Suriah dan Venezuela sebagai negara sumber pengungsi. Hal inilah yang membuat Noor tak pernah kehilangan klien. 

Noor tak perlu mempromosikan jasanya, karena para kliennya yang akan menelponnya. Noor merupakan salah satu penyelundup telah lama menjalankan bisnis ini.

Meski, hanya sebagian yang mencoba mencapai Eropa berhasil. Beberapa dari mereka bahkan menghilang selamanya. 

Bisnis Menguntungkan

Meski tragedi tenggelamnya kliennya menambah keraguan Noor tentang profesinya. Namun, tidak mudah untuk meninggalkan jaringan perdagangan yang telah menguntungkannya selama bertahun-tahun.

"Kami mengenakan biaya US$1.000 (sekitar Rp14,2 juta) untuk Afghanistan ke Turki," kata Noor. 

"Dari Turki ke Serbia, biayanya US$4.000 (Rp56,7 juta). Dari sana ke Italia, kami menagih US$3.500 (Rp49,6 juta) lagi. Semuanya US$8.500 (Rp120 juta)," imbuhnya.

Ini adalah jumlah uang yang sangat besar di negara di mana pendapatan tahunan per kapita rata-rata hanya di atas US$500 (Rp7,1 juta).

Noor mengantongi mulai dari US$3.000 (Rp42,6 juta) hingga US$3.500 (Rp49,7) untuk setiap migran yang berhasil mencapai Italia.

Yang harus dia lakukan adalah mengangkat telepon, mengatur pengiriman uang, dan sesekali membayar suap kepada pihak berwenang Afghanistan.

Dia tidak pernah bertemu seseorang secara langsung yang tidak dikenalnya atau kerabat dekat atau teman mereka.

Dia mengandalkan reputasinya untuk mendatangkan klien dan berhati-hati dalam berbicara dengan orang asing. Ini adalah kehidupan yang nyaman (yang tidak mudah didapat di Afghanistan) dan ornamen kekayaan terlihat jelas - mobil, pakaian, rumah.

BBC mengetahui ada penyelundup manusia lain yang memutuskan untuk berhenti melakukan bisnis ini, tetapi kembali pada jaringan penyelundupan hanya setahun kemudian.

Rumah-rumah aman

Sang penyelundup mengakui bahwa para migran menghadapi perjalanan ilegal yang berisiko tanpa dokumen perjalanan, dan mengatakan mereka harus bersembunyi di siang hari dan baru bisa melanjutkan perjalanan pada malam hari.

Jaringannya menggunakan rumah-rumah aman yang ada di sepanjang perjalanan, seperti yang ada di kota Teheran dan Istanbul, katanya.

Mereka tak diperbolehkan membawa barang berharga seperti perhiasan atau jam tangan mahal yang bisa menarik perhatian para pencuri. Noor biasanya berkata pada para migran untuk tidak membawa uang tunai lebih dari $100 (Rp1,4 juta).

"Saya tidak bertanggung jawab kalau mereka tertangkap polisi, tapi jika mereka diculik milisi atau kelompok bersenjata kami membayar tebusan agar mereka dilepaskan," ujar Noor.

Tergantung pada intensitas patroli polisi, perjalanan ke Turki bisa ditempuh sekitar sepekan hingga dua bulan. Negara itu menjadi pusat dari pejalanan orang-orang Afghanistan ke Eropa. 

Melarikan diri dari Taliban

Salah satu migran yang berhasil mencapai Istanbul dalam perjalanannya ke Barat adalah Hazrat Shah, mantan tentara Afghanistinan.

Setelah desanya dikuasai Taliban, pria berusia 25 tahun takut akan serangan balasan terhadap keluarganya, jadi dia meninggalkan unitnya di militer dan memutuskan untuk meninggalkan negara itu.

Dia berangkat dari Nangarhar di Afghanistan timur awal tahun ini dan mengatakan kepada BBC tentang usahanya untuk mencapai Italia melalui rute yang dilaluinya. Meskipun dia tidak dikirim oleh Noor, dia punya banyak kisah tentang penyelundup orang.

"Setelah tiba di perbatasan (antara Turki dan Iran), butuh waktu satu bulan untuk mencapai Istanbul. Saya tinggal di sana selama beberapa bulan dan bekerja di hotel demi mendapat uang untuk membayar para penyelundup," tutur Shah kepada BBC.

Rute Mediterania timur, yang melibatkan penyeberangan laut antara Turki dan Yunani, sangat populer di kalangan orang Afghanistan. Badan perbatasan Eropa memperkirakan bahwa dalam delapan bulan pertama tahun ini, lebih dari 14.000 orang menyeberang ke Eropa melalui rute ini - dan hampir seperempat dari jumlah tersebut dianggap orang Afghanistan.

Sangat sulit menempuh perjalanan dari Yunani ke Bosnia - Shah dideportasi beberapa kali sebelum akhirnya berhasil - tapi upayanya melanjutkan perjalanan dari Bosnia kerap menemui kegagalan.

"Itu mengerikan. Dalam upaya terakhir saya juga terluka. Polisi memukuli saya berkali-kali. Mereka mengambil sepatu dan baju hangat kami. Kami dipaska untuk kembali dalam kondisi gelap gulita. Sangat sulit untuk melaluinya," kenangnya. 

Penyelundup tak bisa membantu

Dia tak yakin apakah dia bisa mencapai Italia, tapi Shah tidak berminat memanggil penyelundup manusia di Afghanistan untuk meminta bantuan. Dia mengatakan mereka menghilang begitu saja saat tanda pertama ada masalah, dan banyak yang melakukan perjalanan menyesal mempercayai mereka.

"Ada kemungkinan Anda bisa mati atau terluka atau diculik di setiap tahap perjalanan - dan tidak ada yang bisa membantu Anda," katanya.

"Tidak mungkin bagi mereka (para penyelundup manusia) untuk membantu karena mereka takut pada polisi. Ini permainan kotor."

Dia telah hidup dalam kondisi yang mengerikan selama berbulan-bulan dan telah melihat banyak yang meninggal dalam perjalanan.

"Anda hanya memiliki sedikit makanan dan air agar bisa bertahan hidup. Saya melihat orang-orang sekarat karena kehausan tanpa air. Migran lainnya tak bisa menolongnya karena jika Anda memberikan air kepada mereka, Anda akan menghadapi situasi yang sama."

Menurut IOM, sedikitnya 672 orang telah meninggal di Mediterania tahun ini, terutama karena mereka terpaksa menempuh perjalanan dalam kapal yang penuh sesak ketika kondisi cuaca buruk.

Yang lain, seperti Shaifullah, meninggal sebelum mencapai Mediterania, dan tidak termasuk dalam angka itu. "Banyak orang meninggal, tentu saja. Kecuali Anda benar-benar putus asa, Anda seharusnya tak menempuh perjalanan berbahaya ini sama sekali," kata Shah.

Tapi tidak Afghanistan yang tidak putus asa. Menyusul ledakan besar di dekat kedutaan besar Jerman di Kabul pada tahun 2017 yang menewaskan sedikitnya 150 orang, sebagian besar negara Eropa menutup pusat aplikasi visa mereka di Afghanistan, yang membuat perjalanan secara legal ke Eropa menjadi sangat bermasalah.

Ini hanya meningkatkan arus klien yang mencari layanan penyelundup seperti Noor, terlepas dari risikonya.

Dari migran menjadi penyelundup

Noor sendiri dulu menghadapi situasi yang sama. Seperti orang-orang lainya, dia bermimpi memiliki kehidupan yang nyaman di Inggris dan menempuh perjalanan yang sama ketika dia berusisa 14 tahun. Ayahnya membayar $5,000 (Rp71 juta) untuk penyelundup.

"Saya masih ingat kesulitan yang saya hadapi dalam perjalanan saya, terutama di Bulgaria di mana kami disembunyikan di dalam kereta api - Saya bahkan dipaksa untuk lompat dari kereta yang berjalan," kenang Noor.

Dia melihat banyak kematian sebelum akhirnya berhasil mencapai kota Calais di pesisir Prancis. Di sana, dia melihat kesempatan untuk menghasilkan uang dengan mudah.

"Saya memperkenalkan migran kepada penyelundup lain di kamp Calais. Saya diberi komisi 100 Euro (Rp1,6 juta)per migran." Begitulah cara Noor memulai bisnis perdagangan manusia.

Dia mencapai Inggris secara ilegal dan terus bekerja dengan penyelundup. Namun dia mengatakan dia kembali ke Afghanistan pada usia 21 tahun karena dia menyadari polisi sedang mencarinya. 

"Karena saya sudah terkenal saat melakukan bisnis ini dari Inggris, banyak yang mendekati saya dan meminta bantuan saya setelah saya kembali," katanya.

Beberapa migran yang berhasil tiba di Eropa melalui jaringan Noor memberi tahu orang lain. Itu membuat reputasi Noor dan jaringannya terus berkembang.

"Terlepas dari ketidakpastian dari rute yang sulit, orang-orang tetap mempercayai saya untuk membawa mereka keluar dari negara ini," kata dia.

Sebanyak 100 orang dari mereka yang mempercayakan Noor untuk mengirim mereka dengan selamat demi kehidupan yang lebih baik, saat ini sedang dalam perjalananya, namun Noor berkata ini akan menjadi terakhir kalinya dia melakukannya.

Dia mengatakan berhenti dari bisnisnya selamana setelah dia mendapat kabar bahwa mereka selamat tiba di tujuan mereka.

Di ujung jalan? 

Tragedi di Danau Van telah menggoyahkan hati nurani Noor. Dia mengatakan, empat orang yang berada di kapal yang terbalik itu adalah klien-klien yang meninggal dunia dalam aktivitasnya selama bertahun-tahun sebagai pedagang manusia, dan hal itu telah menyebabkan perselisihan dan masalah dengan keluarganya.

Sekarang dia ingin keluar, dan berpikir bahwa dia bisa mengakhiri urusannya dengan penyelundupan manusia akhir tahun ini. Namun, seorang rekannya mengatakan kepada BBC bahwa dia terkejut dengan keputusan Noor, dan menurutnya penyelundup itu akan kesulitan untuk meninggalkan bisnisnya.

Orang-orang akan terus meneleponnya selama bertahun-tahun yang akan datang, dan kesempatan untuk menghasilkan uang tidak akan hilang begitu saja begitu dia berhenti. Masih harus dilihat apakah Noor bisa keluar dari bisnisnya, tetapi dengan atau tanpa dia, lalu lintas manusia pasti akan terus berlanjut.

Di Jalalabad, persiapan sudah dilakukan. Meskipun mengetahui apa yang terjadi pada Shafiullah, dua kerabatnya akan melakukan perjalanan berbahaya ini, berharap bisa sampai ke Eropa.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement