Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Berlian Koh-I-Noor yang Menjadi Incaran Para Penguasa Dunia, Bawa Kejayaan Sekaligus Kutukan

Tim Okezone , Jurnalis-Kamis, 15 September 2022 |17:05 WIB
Kisah Berlian Koh-I-Noor yang Menjadi Incaran Para Penguasa Dunia, Bawa Kejayaan Sekaligus Kutukan
Berlian Koh-I-Noor yang menjadi incaran para penguasa dunia (Foto: The Royal Collection Trust)
A
A
A

Intan tersebut kemudian diwariskan turun-temurun. Lalu kehebatannya terdengar hingga Negeri Mongol. Kesultanan Delhi diacak-acak dan jatuhlah Koh-I-Noor ke genggaman Raja Babur pada 1526. Sekaligus, ia melahap Kerajaan India menjadi bagian dari Kerajaan Mughal atau Mongol (sekarang Kabul, Afghanistan).

Sejak saat itu juga, berlian tersebut diklaim menjadi Batu Permata Babur dan dihijrahkan kepada keturunannya hingga Raja Kelima, Shah Jahan, yang dikenal sebagai pembangun Taj Mahal. Pada masa pemerintahan Shah Jahan (1628–1658), kristal putih itu diletakkan sebagai hiasan pada dudukan berlian megah yang disebutnya Peacock Throne di Red Fort, Delhi.

Setelah Shah Jahan mangkat, kepemilikan Koh-I-Noor diambil oleh putra mahkotanya, Aurangazeb. Saat dipegang raja keenam Moghul inilah berlian terbesar di dunia itu terpecah tanpa sengaja oleh Hortenso Borgio, pemahat batuan berharga dari Venezia, menjadi 186 karat dengan berat 37,2 gram. Akibat kecorobohannya, raja pun berang dan mendendanya 10.000 rupee, jumlah yang sangat besar pada masa itu.

Singkat cerita, setelah runtuhnya Kerajaan India akibat kalah perang dari pasukan Persia, semua kekayaan India dirampas oleh Raja Nader Shah. Sampai pada 1747, ia dibunuh dan berlian itu jatuh ke tangan jenderalnya Ahmad Shah Durani yang kemudian mendirikan Kerajaan Emir di Afghanistan.

Durani sangat menyukai berlian itu dan menyimpannya sendiri selama bertahun-tahun, hingga suatu hari kerajaannya terpojok. Ia pun lari meminta bantuan ke Kerajaan India. Maharaja Ranjit Singh yang tahu bahwa berlian leluhurnya direbut Durani, bersedia bekerja sama dengan satu syarat yakni menyerahkan Koh-I-Noor.

Tentu saja Durani menolak, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia akhirnya sepakat setelah wajahnya dilempari sepatu maharaja dan diancam dibunuh.

Maharaja Ranjit Singh sebagai pemilik yang sah pun akhirnya wafat pada 1839. Sayangnya, tidak ada lagi pemimpin yang kuat untuk meneruskan takhtanya. India pun berakhir dalam penjajahan Inggris. Ditandai dengan berkibarnya Bendera Britania Raya di Lahore (sekarang kota terbesar kedua di Pakistan) pada 1849.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement