Share

Menyeruaknya Islamofobia Seiring dengan Ambruknya WTC pada Serangan 11 September 2001

Tim Okezone, Okezone · Rabu 21 September 2022 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 20 18 2671577 menyeruaknya-islamofobia-seiring-dengan-ambruknya-wtc-pada-serangan-11-september-2001-idboPBtJWg.JPG Gedung WTC saat mendapatkan serangan pada 11 September 2001/Foto: BBC

JAKARTA - Kepanikan mengguncang warga kota New York pada 11 September 2001, saat dua serangan atas Twin Towers World Trade Centre (WTC) terjadi.

Saat itu telah tersiar kabar kelompok ekstremis al-Qaeda yang bertanggung jawab atas serangan paling mengerikan dalam sejarah Amerika Serikat dan dunia.

 BACA JUGA:Mengenal Silsilah Jaka Tingkir, Masa Pemerintahan dan Sejarahnya

Imam Indonesia, Shamsi Ali, yang pagi itu tengah menuju tempat kerjanya di PTRI, PBB, termasuk di antara yang merasakan dampaknya, bukan secara fisik, namun berupa cacian.

"Sangat menyedihkan… sangat mencekam," cerita Shamsi Ali mengenang kejadian pagi hari, 20 tahun lalu itu, dikutip dari BBC, Selasa (20/9/2022).

Dua pesawat menabrakkan Gedung Twin Towers World Trade Centre New York. North Tower yang pertama ditabrak pada 08:46 waktu setempat dan South Tower pada pukul 09:03. Serangan di dua gedung ini menewaskan lebih dari 2.600 orang.

 BACA JUGA:Forum Kyai, Nyai, Gus, dan Ning Pesantren se-Indonesia Gelar Musyawarah, Lahirkan 9 Poin Penting

Dua momen yang sering diceritakan dan selalu diingat Shamsi Ali, yang saat ini menjadi direktur Jamaica Muslim Centre, adalah ketika mendengar cacian supir taksi yang tak tahu dirinya Muslim, dan pelukan oleh tetangga Katolik yang menyadarkannya akan hal yang menurutnya sangat penting.

Persepsi tentang Islam yang salah. Islam dan Muslim dikaitkan dengan kekerasan.

Ketika berjalan kaki pulang ke rumahnya dari Manhattan ke Queens yang cukup jauh, karena transportasi umum dihentikan semua, ada taksi yang mau berhenti dan mengantarnya.

Supir taksi yang tidak mengetahui dirinya Muslim "Bersedia mengantar saya dengan senang hati… Namun ketika di mobil, dia mulai mencaci maki Islam dan orang Islam."

Saat itu telah santer diberitakan kelompok ekstremis al-Qaida yang bertanggung jawab.

Ketika tiba di rumah tetangganya, suami istri yang sudah sepuh, bergegas menghampiri dan memeluknya.

"Dia mengatakan tiga kali, 'Saya tak percaya', sambil menangis. 'Saya tak percaya kalau orang Islam yang melakukan ini. Kalau semua orang Islam seperti kamu tak mungkin dia melakukan itu'," cerita Shamsi mengutip tetangganya.

"Saat dipeluk orang tersebut, betul-betul perasaan saya bercampur aduk, saya memikirkan hari-hari yang akan datang, mencekam," katanya lagi.

Sang tetangga, pemeluk Katolik yang berasal dari Irlandia, sempat dicurigai Shamsi saat awal pindah ke Amerika Serikat pada 1996.

"Saya mengistilahkan, saya diajari menjadi Muslim yang lebih baik, tidak diajari Islam, tetapi diajari menjadi Muslim yang baik," katanya.

Sejak beberapa tahun sebelumnya, tetangga suami istri yang berusia 70an itu, selalu menyapu di depan rumah, termasuk di depan kediaman keluarga Shamsi.

"Ada kecurigaan di benak saya, ini non-Muslim, tapi kok baik sekali, menyapu depan rumah saya… Awalnya kita tidak pernah interaksi dengan non-Muslim, saya jadi curiga, sebentar lagi mereka akan menggoda saya. Ternyata berhari-hari, berbulan-bulan kemudian, mereka tak pernah ngomong soal agama."

Sikap tetangganya ini, kata Shamsi, justru, "mengingatkan saya, arti agama yang sesungguhnya. Agama itu bukan yang kita lakukan di rumah-rumah ibadah, tapi agama itu adalah apa yang kita lakukan di tengah masyarakat, menampilkan perilaku yang baik."

"Dua hal ini adalah pelajaran penting yang saya bawa dalam langkah dakwah-dakwah saya di Amerika. Betapa banyak teman-teman kita di luar sana yang salah paham dan kewajiban kita untuk memberitahu Islam yang sesungguhnya.

"Yang paling efektif bukan ceramah berapi-api tapi bagaimana menampilkan Islam dengan perilaku dan karakter," katanya lagi.

Tantangan, "paling berat" menyusul Serangan 11 September, kata Shamsi, adalah "persepsi yang terbalik, bagaimana ketika orang Muslim duduk di subway (kereta bawah tanah), di bus, orang pasti akan berpikir, subway akan diledakkan atau dia akan menusuk orang."

"Luar biasa citra yang terbangun ketika itu," kata Shamsi — yang disebut dalam New York Magazine, terbitan Mei 2006, sebagai salah seorang pemuka Islam berpengaruh.

New York Magazine menyebutnya sebagai ulama moderat yang "memimpin 1.000 jemaah di Indonesian Culture Centre di Woodside, 4.000 jemaah di Jamaican Muslim Centre dan berkhotbah di depan 6.000 jemaah di Masjid 96th Street. Sejak 9/11". Ia menjadi utusan tak resmi penegak hukum dan kantor wali kota.

"Seandainya Islam itu seperti Gedung WTC, Islam ketika itu sedang runtuh juga."

 BACA JUGA:Terbakar Cemburu, Mantan Suami Bacok Wajah Istri Berulang Kali di Pinggir Jalan

"Saya merasakan beratnya ketika itu, bagaimana membangun lagi. Kalau WTC secara fisik bisa dibangun lagi, tapi membangun image [citra] yang diruntuhkan ini… Bagaimana image yang selama ini kita bangun diruntuhkan. Sangat menyedihkan."

Hari itu, komunitasnya banyak mendengar "teman-teman yang menghadapi kekerasan. Ada masjid yang dirusak, ada perempuan yang dipukuli. Macam-macam kekerasan yang terjadi pada hari pertama."

Menurut catatan Biro Penyelidik Federal, FBI, terdapat 28 laporan kejahatan anti-Muslim pada tahun 2000 dan jumlahnya pada tahun 2001, naik hampir 500.

Sejumlah masjid yang sempat diserang, menurut Shamsi, termasuk yang menutup diri dan tidak berupaya mengenalkan diri ke para tetangga.

"Akhirnya orang yang dibombardir dengan informasi yang salah tentang Islam, jadi curiga… Terkadang ketidaktahuan orang, kebencian orang, disebabkan karena kita yang kurang berinteraksi atau bergaul dengan orang," cerita putra kelahiran Makassar ini.

Namun ia mengatakan masjid Indonesia al-Hikmah yang dipimpinnya, justru didatangi dua pendeta dari gereja yang terletak tak jauh.

 BACA JUGA:Running Text Homestay di Borobudur Diretas, Tulisannya Menjadi Hacker by Bjorkanism Kw

"Mereka membawa karangan bunga ke kita, ada masjid yang diserang, tapi masjid kita dibawakan karangan bunga. Pendeta itu mengatakan, 'Saya tahu kamu dalam situasi sulit, apa yang dapat kami bantu?', justru gereja menawarkan."

Melalui kunjungan ini, kata Shamsi, pihaknya kemudian menjalin komunikasi dan dialog.

Imam Shamsi juga merasa dirinya "terekspos".

"Saya sendiri, yang telah tinggal di New York beberapa tahun sebelum Serangan 11 September, terekspos karena sebelumnya saya tak bisa membayangkan berkomunikasi dengan pemeluk agama lain secara masif, bahkan dengan masyarakat Yahudi.

"Kapan kita bisa bermimpi akan berkomunikasi, berdialog, bahkan menulis buku dengan pendeta Yahudi. Ini kan belum pernah kita impikan. Tapi ketika terjadi Serangan 11 September, semua ini membuka [peluang]," tambahnya lagi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini