Share

Protes Kematian Mahsa Amini, Presiden Iran: Pemerintah Dengar Kritik Tapi Tidak Biarkan Keamanan Negara Terancam

Susi Susanti, Okezone · Sabtu 24 September 2022 12:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 24 18 2674102 protes-kematian-mahsa-amini-presiden-iran-pemerintah-dengar-kritik-tapi-tidak-biarkan-keamanan-negara-terancam-qKSRX00BEQ.jpg Presiden Iran Ebrahim Raisi (Foto: Reuters)

IRAN - Presiden Iran Ebrahim Raisi berbicara di sebuah acara pro-pemerintah jika dirinya tidak akan membiarkan keamanan negara itu "terancam". Hal ini terkait protes yang kian memanas akibat kematian Mahsa Amini dlaam tahanan polisi yang diduga karena aturan jilbab.

"Kami tidak akan membiarkan keamanan orang berisiko dalam keadaan apa pun," katanya, tak lama setelah kembali dari Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (MU PBB) di New York.

Presiden melihat "musuh" Iran ingin mengeksploitasi kerusuhan tersebut. Raisi mengatakan pemerintah akan mendengarkan kritik atas kematian Amini, tetapi tidak akan dipengaruhi oleh "kerusuhan".

Presiden mengatakan Iran memiliki kebebasan berekspresi, tetapi protes yang terjadi sekarang tidak dapat diterima karena "tindakan kekacauan".

 Baca juga: Dukung Protes Kematian Mahsa Amini, Elon Musk Aktifkan Starlink Bantu Amankan Internet Warga Iran

 "Masalah hak harus dipertimbangkan di seluruh dunia dengan standar tunggal," terangnya i pada konferensi pers di sela-sela Majelis Umum PBB.

Baca juga: Protes Kematian Mahsa Amini Kian Memanas, AS Dukung Amankan Internet Bagi Warga Iran

"Ada kebebasan berekspresi di Iran ... tetapi tindakan kekacauan tidak dapat diterima,” ujarnya.

 Dia telah memerintahkan penyelidikan atas kematian seorang wanita muda yang memicu berdarah berdarah demonstrasi.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Hal ini terkait dengan aksi protes anti-pemerintah yang terus memanas hingga ke hari ke-8 berturut-turut pada Jumat (23/9/2022). Rekaman yang dibagikan di media sosial (medsos) pada Jumat (23/9/2022) menunjukkan banyak pengunjuk rasa berkumpul di beberapa lingkungan Teheran setelah gelap, sementara insiden lain terjadi di tempat lain negara itu. Dalam protes, para wanita menantang melepas jilbab mereka dan membakarnya, atau memotong rambut mereka di depan kerumunan yang bersorak.

Seperti diketahui, setidaknya 35 orang telah terbunuh dalam kerusuhan terburuk di Iran selama bertahun -tahun.

Mahsa Amini, 22, jatuh koma minggu lalu, beberapa jam setelah polisi moral menangkapnya karena diduga melanggar aturan jilbab.

Petugas dilaporkan memukuli kepala Amini dengan tongkat dan membenturkan kepalanya ke salah satu kendaraan mereka. Polisi mengatakan tidak ada bukti penganiayaan dan bahwa dia menderita "gagal jantung mendadak".

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini