Share

Cerita Aremania saat Tragedi Kanjuruhan : Lampu Penerangan Dimatikan, Gas Air Mata Disemprotkan

Avirista Midaada, Okezone · Senin 03 Oktober 2022 13:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 03 519 2679589 cerita-aremania-saat-tragedi-kanjuruhan-lampu-penerangan-dimatikan-gas-air-mata-disemprotkan-8sBonGt0ut.jpg Tragedi Kanjuruhan yang menyebabkan 125 orang meninggal/Foto: Avirista Midaada

 MALANG - Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang masih menyisakan luka mendalam bagi Aremania. Pasalnya di kejadian ini ada 125 nyawa melayang karena berdesakan untuk mencari jalan keluar pascasemprotan gas air mata oleh kepolisian.

Aremania Korwil Bantur, Slamet Sanjoko yang melihat langsung kejadian menceritakan bahwa, sebenarnya semua berjalan kondusif. Setelah pertandingan berakhir, Aremania meluapkan kekecewaan, namun situasinya masih terkendali. Pada saat itu, dirinya melihat ada dua orang Aremania yang meminta izin kepada petugas untuk minta foto.

 BACA JUGA:Bendera Rusia Dikibarkan pada Kudeta di Burkina Faso, Ada Apa?

"Saat itu kami menyampaikan ke petugas untuk tidak memberi izin. Karena dikhawatirkan akan memicu suporter lain yang kecewa. Tetapi karena memaksa akhirnya diizinkan," katanya Senin (3/10/2022).

Sanjoko menambahkan, setelah boleh masuk, ternyata dua orang tersebut tidak meminta foto. Mereka menghampiri para pemain Arema FC yang sedang mendatangi tribun Aremania untuk meminta maaf atas kekalahan tersebut.

 BACA JUGA:Polri dan Kejagung Belum Sepakati Lokasi Pelimpahan Berkas Ferdy Sambo, Ada Apa?

"Tidak tahu seperti apa penerimaan para pemain melihat ada dua Aremania mendatangi, mereka kemudian kembali ke arah ruang ganti. Hal itu kemudian memicu rekan-rekan Aremania yang berada di area tribun papan skor naik semua," tambahnya.

Situasi yang kian tak kondusif membuat Sanjoko mengumpulkan Aremania dari wilayah Korwil Bantur agar segera mengemasi bendera, termasuk juga Aremanita untuk segera mencari jalan keluar karena dikhawatirkan situasi semakin memburuk. Belum sempat gerbang darurat dibuka, tembakan gas air mata sudah dilepaskan oleh petugas keamanan ke arah tribun.

"Saat tembakan gas air mata itu kami bisa lolos dan keluar. Setelah itu, kami tidak tahu secara jelas lagi bagaimana kejadian di dalam," jelasnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Dirinya menyayangkan adanya tembakan gas air mata ke arah tribun penonton. Sementara lampu stadion juga mulai dimatikan dengan kondisi tribun masih dipenuhi suporter. Hal itu justru menimbulkan kepanikan dan banyak dari Aremania yang akhirnya terjebak di tengah kepulan asap gas air mata.

"Kalau yang masuk ke lapangan mungkin masih bisa kami terima karena mereka memang melanggar batas area. Tetapi kenapa yang di tribun juga ditembak gas air mata. Kami cinta Arema dan Kanjuruhan, tetapi dalam situasi ini malah seperti dijebak di dalam kurungan karena saat gas air mata ditembakkan pintu keluar belum dibuka. Meskipun setelah itu terbuka, namun dalam situasi kacau menjadi masalah sendiri," jelasnya.

 BACA JUGA:Pimpinan Khilafatul Muslimin dkk Diserahkan ke Kejaksaan

Sanjoko mengakui bahwa saat situasi kacau, ada Aremania yang berusaha menyerang petugas juga berhasil ia cegah. Karena memang sejak awal dirinya berupaya untuk membangun perdamaian dengan suporter manapun, termasuk Bonek.

"Saya sampaikan kalau terus terprovokasi mau seperti apa. Kami selalu menyuarakan perdamaian dengan siapapun, termasuk suporter tim rival," tandasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini