Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Diduga Ada Perbedaan Kandungan Gas Air Mata saat Tragedi Kanjuruhan, Ini Alasannya

Avirista Midaada , Jurnalis-Selasa, 11 Oktober 2022 |03:00 WIB
Diduga Ada Perbedaan Kandungan Gas Air Mata saat Tragedi Kanjuruhan, Ini Alasannya
Salah seorang korban dalam tragedi Kanjuruhan yang matanya masih merah (Foto: MPI)
A
A
A

MALANG - Semprotan gas air mata diduga kuat menjadi pemicu jatuhnya korban Tragedi Kanjuruhan Malang. Pasalnya dari gas air mata membuat para penonton di tribun panik dan mencari jalan keluar sehingga menimbulkan desak-desakan antarpenonton.

Koordinator Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya Pos Malang Daniel Siagian menyebut, faktor utama gas air mata menyebabkan kepanikan yang dialami penonton lainnya di tribun. Hal ini yang membuat ribuan penonton berdesakan mencari jalan keluar menyelamatkan diri. Bahkan ada dugaan gas air mata yang digunakan saat pengamanan pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya berbeda dengan yang digunakan saat pengamanan demonstrasi.

"Memang ada yang melihat gas air matanya sedikit banyak berbeda, kenapa karena efeknya luar biasa. Kita masih menelusur, apa karakteristik gas air mata, yang kemarin ditembakkan itu. Ada yang bilang itu sesak, nggak kena asapnya saja perih katanya, sama napas sesak," kata Daniel Siagian, saat dikonfirmasi MPI, pada Senin petang (10/10/2022).

Sejauh ini Koalisi masyarakat sipil dari LBH Surabaya, LBH Surabaya Pos Malang, YLBHI, KontraS, Lokataru, dan IM 57+ Instute masih mendalami karakteristik gas air mata yang digunakan saat pengamanan pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya, berdasarkan pengakuan para korban yang ditemui.

Baca juga: Tepis Pernyataan Polri, TGIPF Justru Sebut Gas Air Mata Mematikan di Tragedi Kanjuruhan

Baca juga: Seminggu Paska Tragedi Kanjuruhan, Mata Raffi Masih Merah Akibat Gas Air Mata

"Terkait karakteristik gas air mata kita masih mendalami. Jenis apa, bentuknya seperti apa, tembakannya sekali tembak berapa ini masih kita dalami. Karena nggak berani kita menyimpulkan suatu temuan kalau nggak validasi dulu," ucapnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement