Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

KPK Perpanjang Masa Tahanan Hakim Nonaktif MA Sudrajad Dimyati Cs

Arie Dwi Satrio , Jurnalis-Kamis, 13 Oktober 2022 |22:58 WIB
KPK Perpanjang Masa Tahanan Hakim Nonaktif MA Sudrajad Dimyati Cs
Ali Fikri/Foto: Okezone
A
A
A

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang masa tahanan delapan tersangka kasus dugaan suap terkait pengurusan perkara di Mahkamah Agung (MA). Mereka diperpanjang masa penahanannya selama 40 hari ke depan karena tim penyidik masih butuh waktu untuk mengumpulkan bukti tambahan.

"Proses pengumpulan alat bukti yang saat ini masih terus dilakukan, tim penyidik KPK memperpanjang masa penahanan tersangka SD (Sudrajad Dimyati) dkk. untuk masing-masing selama 40 hari kedepan," kata Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Kamis (13/10/2022).

 BACA JUGA:Hujan Deras Guyur Jakarta, 4 Ruas Jalan dan 4 RT Tergenang Malam Ini

Adapun, delapan tersangka tersebut yakni, Hakim nonaktif Mahkamah Agung, Sudrajad Dimyati (SD) ditahan di Rutan KPK pada Kavling C1; Hakim Yustisial sekaligus Panitera Pengganti MA, Elly Tri Pangestu (ETP) ditahan di Rutan Gedung Merah Putih KPK.

Kemudian, empat PNS MA, Desy Yustria (DS) ditahan di Rutan Gedung Merah Putih KPK; Muhajir Habibie (MH) ditahan di Rutan Polres Metro Jakarta Pusat; Nurmanto Akmal (NA) ditahan di Rutan Polres Metro Jakarta Timur; dan Albasri (AB) ditahan di Rutan Polres Metro Jakarta Timur.

 BACA JUGA:Rayakan HUT ke-8 di Bangka Barat, Partai Perindo Luncurkan Kartu Pemeriksaan USG Gratis

Selanjutnya, dua Pengacara Theodorus Yosep Parera (TYP) ditahan di Rutan Polres Metro Jakarta Pusat, dan Eko Suparno (ES) ditahan di Rutan Polres Metro Jakarta Pusat. "Masa penahanan lanjutan tersebut terhitung mulai 13 Oktober 2022 sampai dengan 21 November 2022," ucap Ali.

Sebelumnya, KPK telah menetapkan 10 orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap terkait pengurusan perkara di Mahkamah Agung (MA). 10 orang tersebut yakni, Hakim Agung, Sudrajad Dimyati (SD); Hakim Yustisial sekaligus Panitera Pengganti MA, Elly Tri Pangestu (ETP).

Kemudian, empat PNS MA, Desy Yustria (DS), Muhajir Habibie (MH), Nurmanto Akmal (NA), dan Albasri (AB). Selanjutnya, dua Pengacara Theodorus Yosep Parera (TYP) dan Eko Suparno (ES). Terakhir, dua Debitur Koperasi Simpan Pinjam Intidana, Heryanto Tanaka (HT) dan Ivan Dwi Kusuma Sujanto (IDKS).

Dalam kasus ini, Sudrajad, Elly, Desy Yustria, Muhajir Habibie, Nurmanto Akmal, dan Albasri diduga telah menerima sejumlah uang dari Heryanto Tanaka serta Ivan Dwi Kusuma Sujanto. Uang itu diserahkan Heryanto dan Ivan melalui Pengacaranya, Yosep dan Eko Suparno.

Sejumlah uang tersebut diduga terkait pengurusan upaya kasasi di MA atas putusan pailit Koperasi Simpan Pinjam Intidana. Adapun, total uang tunai yang diserahkan oleh Yosep Parera dan Eko Suparno terkait pengurusan perkara tersebut yakni sekira 202 ribu dolar Singapura atau setara Rp2,2 miliar.

Uang tersebut kemudian dibagi-bagi kepada hakim serta pegawai MA. Rinciannya, Desy Yustria mendapatkan jatah sebesar Rp250 juta; Muhajir Habibie sebesar Rp850 juta; Elly Tri Pangestu sebesar Rp100 juta; dan Sudrajad Dimyati sebesar Rp800 juta.

 BACA JUGA:Autopsi Korban Tragedi Kanjuruhan, Polri Konfirmasi ke Keluarga

Sebagai pemberi suap, Heryanto, Yosep, Eko, dan Ivan Dwi disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 atau Pasal 6 huruf a Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Sedangkan Sudrajad, Desy, Elly, Muhajir, Nurmanto Akmal, dan Albasri yang merupakan pihak penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 12 huruf a atau b Jo Pasal 11 UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

(Nanda Aria)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement