Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengenang Empat Abad Pembangunan Jalan Daendels, Dikerjakan Pribumi di Musim Kemarau

Adi Haryanto , Jurnalis-Sabtu, 22 Oktober 2022 |19:24 WIB
Mengenang Empat Abad Pembangunan Jalan Daendels, Dikerjakan Pribumi di Musim Kemarau
A
A
A

BANDUNG BARAT - Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels tidak bisa dilepaskan jasanya dalam membuka akses jalan yang membentang dari Anyer, Provinsi Banten hingga Panarukan di Jawa Timur.

Empat abad silam Jalan Raya Pos atau De Groote Postweg mulai dibangun dan hingga kini keberadaannya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Perkembangannya pun semakin pesat meskipun ada juga yang tidak terawat karena sudah bukan lagi jalan utama.

Seperti salah satunya Jalan Raya Rajamandala Cipatat, di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang menjadi penghubung antara Cianjur, Cimahi, dan Kota Bandung. Adanya pembangunan jalan baru Tol Rajamandala tahun 1979 membuat jalan lama tidak lagi dipakai.

Terlebih ketika Jalan Tol Rajamandala dihilangkan jadi tidak berbayar dan hadirnya Tol Cipularang tahun 2005, membuat Jalan Daendels di Rajamandala KBB tidak lagi dipilih sebagai akses transportasi utama Jakarta-Bandung.

Menukil informasi dari buku Napak Tilas Jalan Daendels (2017) karya Angga Indrawan, disebutkan jika Herman Willem Daendels mulai mengintruksikan pembangunan Jalan Raya Pos, pada 5 Mei 1808, setelah sebulan sebelumnya mendapat restu dari Dewan Hindia Belanda.

Kemudian Daendels memerintahkan agar pembangunan jalan dieksekusi saat musim kemaru, serta diwajibkan diikuti penduduk sekitar setelah memanen kopi dan padi. Jumlah pekerja yang terlibat dalam pembangunan Jalan Raya Pos Rajamandala hingga Cimahi saat itu, berjumlah 200 orang dan setiap orang diberi upah 6 ringgit perak/hari.

Jalan itu termasuk wilayah yang memiliki medan cukup sulit digarap karena banyak terdapat pegunungan dan gunung kapur. Sehingga jalan di sekitaran Gunung Masigit, Cipatat, dibuat berkelok-kelok karena kondisinya menanjak. Di buku itu dicatat jika Jalur Rajamandala-Cimahi menjadi urutan kedua medan paling sulit setelah jalur Cisarua-Cianjur.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement