JAKARTA – Presiden RI ke-4 KH. Abdurrahman Wahid atau kerap disapa Gus Dur diketahui suka melontarkan humor segar nan kritis. Humor sarat makna ini biasanya ditujukan untuk meredakan ketegangan suasana politik kala itu.
Salah satu kisahnya yakni tentang pengalaman Gus Dur menjadi seorang dosen yang dikutip dari NU Online.
Suatu saat, Gus Dur diketahui pernah menjadi dosen mata kuliah Islam Kontemporer. Hal ini diungkapkan dosen senior UIN Bandung yang pernah menjadi Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), sekarang PSI, Aam Abdillah. Aam mengaku pernah diajar Gus Dur.
Baca juga: Humor Gus Dur: Gelar Gus, Kiai dan Ulama Tidak Ada Kuliah dan Wisudanya
Dia pun masih mengenang cara Gus Dur mengajar. Kalau sekarang bisa disebut cara belajar merdeka. Cerita ini berawal saat jadwal tatap muka usai dan tiba waktu ujian.
Namun, karena saat itu waktu untuk bisa berkomunikasi dengan Gus Dur masih sulit. Aam mewakil teman-temannya mendatangi kediaman Gus Dur.
Baca juga: Humor Gus Dur: Pengalaman Disopiri Mbah Wahab, Dagdigdug Rasanya!
“Gus, sudah waktunya ujian, kami mau minta soal,” terang Aam.
“Sudahlah, kalian buat saja karya mandiri,” jawab Gus Dur singkat.
Aam menyampaikan hal itu kepada teman sekelasnya. Tanpa banyak tanya, mereka langsung mengerjakan karya tulis sebagaimana arahan sang dosen.
Setelah mengerjakan karya tulis, mereka langsung mengumpulkannya. Aam pun kembali kebagian mandat mengantarkan tugas akhir kuliah itu ke rumah Gus Dur.
“Gus, ini kawan-kawan sudah selesai mengerjakan tugas. Sekarang mau minta nilai,” ujarnya.
“Isi saja sendiri, nanti saya tanda tangan,” jawab Gus Dur.
“Maksudnya, Gus?,” tanya Aam lagi.
“Iya, kalian isi saja sendiri nilainya,” terang Gus Dur.
“Waduh,” kata Aam spontan.
Aam pun kembali menemui teman-teman sekelasnya sambil membawa lembar penilaian. Pertama-tama dia datangi Facry Ali yang dianggap paling pintar di kelas.
“Fachry, kamu mau nulis nilai apa?
“Aku B saja,” jawab Facry Ali dengan datar.
Lalu Aam menemui Iqbal Saimima yang juga dikenal pandai.Iqbal pun memilih nilai B.
Karena dua jagoan di kelasnya memilih nilai B, maka kawan-kawan sekelasnya, termasuk dirinya, kompak memilih nilai C. Setelah semua mengisi nilai, Gus Dur tanpa memeriksa lagi langsung tanda tangan.
“Lha Fachry Ali saja milih B, masak saya pilih A,” kenang Aam.
“Saya terpaksa deh pilih nilai C,” lanjutnya.
Bagi Aam, pengalaman tersebut begitu mengesankan. Menurut dia, kewibawaan seorang Gus Dur, mungkin juga karena kesungguhan dan keikhlasannya dalam mengajar, menempa mahasiswa didiknya untuk jujur pada kemampuan diri sendiri.
“Saya pernah mencoba hal yang sama ke mahasiswa saya, tapi gagal. Mereka ngisi A semua,” ujar Aam sambil tertawa.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.