JAKARTA - Covid-19 memang terlihat mereda, walau varian Omicron XBB kini kembali merebak. Pandemi yang awalnya terasa begitu mengikat kini terasa longgar.
Aktivitas masyarakat mulai bergeliat. Berbagai acara mulai digelar. Termasuk diperbolehkannya menonton pertandingan sepakbola secara langsung, konser musik dan berbagai event yang bisa dihadiri banyak orang. Masyarakat seperti gegap gempita merayakan pandemi yang mulai berakhir.
Tragedi Kanjuruhan menjadi bukti nyata betapa animo masyarakat begitu tinggi untuk kegiatan di luar ruangan. Manajemen yang buruk membuat Kanjuruhan menjadi saksi dari ratusan nyawa melayang.
Di luar negeri, insiden Hollyween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan membuktikan jika manajemen acara yang buruk lagi-lagi makan banyak korban jiwa.
Kini sebuah acara konser musik "Berdendang Bergoyang" menjadi pusat perhatian masyarakat. Konser ini disebut berpotensi mengulang peristiwa Tragedi Kanjuruhan.
Karena itu, Polda Metro Jaya telah membatalkan konser musik "Berdendang Bergoyang" di Istora Senayan Jakarta pada Minggu 30 Oktober demi keselamatan penonton.
"Polda menyatakan kegiatan itu kita hentikan, karena mempertimbangkan keselamatan jiwa penonton. Kita tidak ingin adanya korban jatuh," kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Endra Zulpan pada Senin 31 Oktober 2022.
Awalnya, konser tersebut digelar selama tiga hari, yakni 28-30 Oktober 2022. Namun membeludaknya pengunjung di hari kedua membuat pihak Kepolisian memutuskan untuk membatalkan konser di hari ketiga.
Pada Sabtu 29 Oktober 2022, penonton acara konser di Istora Senayan ini sudah over kapasitas penonton. Sempat terjadi sumbatan di pintu masuk, yang menjadi faktor utama adanya gesekan antara penonton yang ingin masuk dan keluar.
"Sumbatan penonton, dari dalam gak bisa keluar, dari luar gak bisa masuk. Mereka saling dorong-dorongan, meminta yang di dalam segera keluar, karena yang di luar pengen masuk juga," ujar Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Komarudin, Sabtu 29 Oktober 2022.
Hal ini yang menjadi alasan Konser Berdendang Bergoyang dihentikan pada Sabtu 29 Oktober 2022 sekitar pukul 22.10 WIB. Sebab, penonton tumpah ruah hingga ke atas gedung Istora. Bahkan, sejumlah penonton pingsan akibat kepadatan yang terjadi.
Kombes Pol Endra Zulpan mengatakan, data jumlah penonton tak tanggung-tanggung mencapai 21 ribu pengunjung. "Kapasitas 10 ribu tapi yang ada itu 21 ribu orang. Ini tentunya melanggar," kata dia.
Dia menduga, ada persoalan penjualan tiket yang tidak sesuai dengan izin yang telah diajukan panitia.
"Yang ada di lapangan adalah orang yang masuk itu 21 ribu dan memiliki tiket, ada gelang di tangan, dan sebagainya. Tentunya sesuatu yang masih didalami kepolisian kenapa sampai terjadi seperti itu," tutur Zulpan.
Panitia, kata dia, diduga mencetak tiket konser Konser Berdendang Bergoyang melebihi izin permohonan. Atas hal tersebut polisi melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah orang, termasuk pihak event organizer (EO).
Paling tidak, belajar dari pengalaman yang ada, termasuk Tragedi Kanjuruhan hingga insiden Hollyween di Itaewon, penghentian konser musik 'Berdendang Bergoyang' merupakan hal yang sangat logis untuk dilakukan.
Apalagi rangkaian konser musik yang dikonsepkan ini berjalan selama tiga hari. Dan biasanya, acara puncak atau penutupan dari konser ini akan dilakukan pada hari terakhir yang jatuh pada Minggu 30 Oktober 2022. Dan tentu saja, biasanya, hari terakhir acara akan menjadi lebih padat dari sebelumnya.
Pada Sabtu 29 Oktober 2022 konser yang dihelat ini sudah terdeteksi Polisi over kapasitas. Yakni dari kapasitas Istora Senayan yang 10 ribu orang tetapi yang masuk ke arena konser mencapai 21 ribu.
Tidak terbayangkan tingkat kepadatan penonton konser ini pada acara puncak atau penutupan yang digelar pada Minggu 30 Oktober 2022 jika jadi digelar.
Belajar dari berbagai kejadian yang ada, Tragedi Kanjuruhan, Insiden Hollyween di Itaewon hingga Konser Musik Berdendang Bergoyang ini, paling tidak ada beberapa hal yang harus menjadi pelajaran.
Bagi para pemegang otoritas, baik itu Kepolisian hingga Pemda yang berwenang memberikan izin, tentu diharapkan bisa menjadi pengawas yang baik dan efektif. Jika memang acara yang diajukan terlihat 'berbahaya', tidak perlu ragu untuk tidak memberikan izin.
Pengawasan juga penting dilakukan saat berlangsungnya acara. Jika memang ada hal yang dilakukan panitia acara tidak sesuai proposal yang diajukan, terlebih membuat penonton menjadi tidak aman, diharap segera ambil langkah tegas.
Jangan sampai hal-hal yang tidak baik menjadi viral dulu, baru mengambil sikap. Karena jika otoritas terlambat mengambil sikap, bisa berdampak sangat vital terutama jika terkait keamanan pengunjung.
Bagi masyarakat, paling tidak harus meningkatkan tingkat awareness terhadap kepadatan jika menghadiri sebuah acara. Jika memang terlihat membuat tidak aman dan nyaman, barangkali lebih baik dihindari.
Selain itu, perlu jiwa besar jika ternyata sudah memiliki tiket tetapi acara dibatalkan. Dalam konser musik Berdendang Bergoyang ini, mereka yang sudah membeli tiket harus rela batal menonton pemusik favoritnya secara langsung. Toh, tiket juga bisa ditukar kembali atau refund.
Jiwa besar dan ikhlas juga harus ada di pengisi acara, mungkin karena tidak jadi tampil.
Misalnya yang disampaikan oleh The Panturas, salah satu musisi yang seharusnya tampil di hari ketiga penyelenggaraan Berdendang Bergoyang Festival pada Minggu, 30 Oktober 2022.
"Melihat kapasitas yang berlebih, banyak penonton yang pingsan, kami ikhlas banget Berdendang Bergoyang dibatalkan," tulis The Panturas dikutip dari akun Twitter miliknya, Minggu, 30 Oktober 2022.
"Kalian berhak kecewa dan marah, tapi itu mungkin malah jadi berkah kita masih diberi keselamatan. Bulan lalu kita baru saja kehilangan banyak nyawa, nggak boleh terulang," ungkap band tersebut.
(Widi Agustian)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.