Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Hidup Tabrani, Pencetus Nama Bahasa Indonesia

Alfilya Tri Maulina , Jurnalis-Jum'at, 04 November 2022 |18:08 WIB
Kisah Hidup Tabrani, Pencetus Nama Bahasa Indonesia
M. Tabrani/Wikipedia
A
A
A

JAKARTA - Tanggal 10 November selalu diperingati sebagai hari pahlawan Nasional Indonesia. Tanggal tersebut menjadi tanggal bersejarah bagi bangsa Indonesia atas jasa para pahlawan yang sudah gugur agar tetap terkenang perjuangannya.

Banyak dari mereka yang tidak terkenang namanya sebagai pahlawan Nasional tapi ikut andil dalam perjuangan bangsa Indonesia.

Contohnya seperti nama M. Tabrani sebagai pencetus nama bahasa Indonesia mungkin tidak begitu populer bagi masyarakat Indonesia.

Mohammad Tabrani Soerjowitjitro atau disingkat M. Tabrani S lahir 12 Oktober 1904 di Pamekasan, Madura.

Dia adalah jurnalis dan politikus Indonesia. Tabrani dikenal sebagai seorang wartawan.

Hindia Baroe, Pemandangan, Suluh Indonesia, Koran Tjahaja, dan Indonesia Merdeka adalah sederet nama media massa yang pernah beliau naungi.

Dikutip melalui Wikipedia, M. Tabrani boleh digolongkan sebagai wartawan yang sudah tua sekaligus pelopor pemakaian bahasa Indonesia.

Sepanjang pergerakan nasional Indonesia, nama M. Tabrani selalu tercatat.Ia dikenal sebagai salah satu tokoh Jong Java dan pemimpin redaksi Harian Pemandangan pada periode Juli 1936 hingga Oktober 1940.

Ia menamatkan pendidikan di MULO dan OSVIA. Minat jurnalistik Tabrani muncul ketika ia menamatkan OSVIA. Pada tahun 1925, Tabrani sudah memimpin harian Hindia Baroe.

Sewaktu belajar di Eropa, di Universitas Köln (Universitas zu Koln), dia membantu beberapa surat kabar di Indonesia pada periode 1926 hingga 1930.

Pada waktu itu, masih jarang pemuda Indonesia menuntut pelajaran ilmu jurnalistik di luar negeri dan hanya beberapa orang seperti, Djamaluddin Adinegoro, Jusuf Jahja dan Tabrani.

Sekembalinya ke tanah Indonesia, karier jurnalistik Tabrani mulai melonjak, momen paling dikenal adalah dirinya memberi usulan terkait penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mematahkan argumen M. Yamin yang ingin menggunakan bahasa Melayu.

Pada Kongres Pemuda I Tabrani menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan bangsa.

Konsep kebangsaan yang muncul tersebut merujuk pada kondisi nyata keberagaman manusia Indonesia yang masih bersifat kedaerahan atau kesukuan dan masih mengutamakan kepentingan suku atau pun daerahnya masing-masing sebagaimana terbentuknya organisasi-organisasi pemuda pada masa itu.

Dalam Kongres Pemuda I tersebut, Tabrani memiliki pendapat yang berbeda dengan Mohammad Yamin yang ingin menggunakan Bahasa Melayu.

Menurut Tabrani pada saat itu, jika sudah mempunyai Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia maka bahasa juga Bahasa Indonesia.

Tabrani menjadi pemimpin majalah Revue Politik di Jakarta tahun (1930-1932) dan menjadi pemimpin surat kabar Sekolah Kita di Pamekasan tahun (1932-1936), juga menjadi direktur sekaligus pemimpin Harian Pemandangan dan Mingguan Pembangunan. Ketika memimpin Reveu Politik, Tabrani membawakan kepentingan Partai Rakyat Indonesia (PRI) yang didirikannya sendiri.

PRI mendapat tantangan keras dari golongan pemuda mahasiswa yang menganggap PRI kurang revolusioner.

Tabrani menjabat sebagai pemimpin redaksi Surat Kabar Pemandangan selama dua periode yaitu (1936-1940) dan (1951-1952) dirinya tidak dapat dipisahkan dengan surat kabar tersebut .

Selain dibesarkan oleh surat kabar itu, melalui surat kabar Pemandangan, Tabrani memperjuangkan Petisi Sutardjo yang berisi tuntutan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar Indonesia diberi kesempatan membentuk parlemen sendiri pada tahun 1936.

Tahun 1940, Tabrani bergabung dengan Dinas Penerangan Pemerintah bagian Jurnalistik dan selanjutnya pindah ke bagian kartotek dan dokumentasi.

Tahun yang sama, Tabrani menjabat sebagai ketua umum Persatuan Djurnalis Indonesia(PERDI) di Jakarta (1939-1940).

Ketika Indonesia Merdeka, ia sempat mengelola Koran Suluh Indonesia milik Partai Nasional Indonesia.

Dalam perjalanan hidupnya, Tabrani juga ikut mendirikan Institut Jurnalistik dan Pengetahuan Umum bersama Mr. Wilopo di Jakarta.

Murid-muridnya antara lain Anwar Tjokroaminoto dan Sjamsuddin Sutan Makmur. Tabrani wafat di Jakarta, 12 Januari 1984 pada usia 80 tahun dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

(Natalia Bulan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement