JAKARTA – Kisruh televisi (tv) analog yang ‘disuntik mati’ pemerintah terus dirasakan di masyarakat. Seperti diketahui, pemerintah, lewat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), resmi mengubah pendekatan penghentian siaran televisi (TV) analog atau Analog Switch Off (ASO). Penerapan ASO secara nasional ini dilaksanakan paling lambat pada 2 November lalu, sebagaimana diamanatkan oleh pasal 60A Undang-Undang (UU) No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran melalui UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
Masyarakat pun berama-ramai merespons kebijakan pemerintah ini dengan banyak luapan kekecewaan dan kemarahan. Media sosial pun ramai membahas hal ini.
Salah satunya adalah akun TikTok milik hardjosyakieb. “Yang matiin tv analog lagi senyum-senyum pastinya, tanpa mikirin perasaan rakyat kecil,” tulisnya.
Baca juga: ASO Bikin Susah, Warga: Mau Nonton 'Upin Ipin' Aja Enggak Bisa
Sontak saja, posting-an ini langsung menuai banyak komentar dari para warganet.
“Iya aku dapet bingung anak aku buat noton Upin Ipin teryata masih ada bersukur masih ada,” tulis Ricki Kurniawan765.
“Betul Bun Alhamdulillah MNC group masih mengudara,” tulis Lican@hs1979.
“Itu TVnya sudah digital tinggal scan ke DTV,” tulis Kurniawan.
“Buat ngumpulin uang aja kadang susah🥺,” tulis Mu'awanaAl.
“Jangankan yang di pelosok. saya yang di Bekasi sini aja belum bisa beli. Gaji suami sekarang iap bulan minus, mana cicilan motor, makan, air, listrik, biaya anak di Jatim,” tulis Tri Intan Rahayu Safii.
“Kan sudah di-notice dari beberapa bulan yg lalu ... masa ngumpulin duit Rp200 ribu aja gak bisa ... buat beli kuota bisa,” tulis Eza Eriano.
Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika Usman Kansong mengatakan Analog Switch Off (ASO) atau penghentian siaran TV analog dan beralih ke siaran digital di Jabodetabek dimulai 2 November 2022.
Ia menyebut, posisi pemerintah dalam program ASO adalah memfasilitasi dan mendukung industri untuk menghadapi disrupsi digital.
"ASO ini justeru kita lakukan agar industri pertelevisian bisa bersaing dengan disrupsi digital," tuturnya.
(sst)
(Kemas Irawan Nurrachman)