Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sepak Terjang Laskar Hizbullah yang Beranggotakan Kiai dan Santri dalam Pertempuran Surabaya

Avirista Midaada , Jurnalis-Senin, 07 November 2022 |07:01 WIB
Sepak Terjang Laskar Hizbullah yang Beranggotakan Kiai dan Santri dalam Pertempuran Surabaya
Ilustrasi Laskar Hizbullah (Foto : nu.or.id)
A
A
A

SEKIRA seribu tentara Hizbullah berangkat dari Malang menuju Surabaya untuk membantu pejuang - pejuang mempertahankan kemerdekaan. Pertempuran Surabaya memang terjadi dua bulan pasca Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Pemerhati sejarah Malang Agung H. Buana menuturkan, ada sebanyak 168 orang yang berkumpul dari jajaran Laskar Hizbullah Malang raya. Mereka berasal dari tokoh ulama kiai dan santri pondok pesantren di Malang dan sekitarnya. Mereka berkumpul di Masjid Sabilillah yang kini berada di kawasan pertigaan Jalan Ahmad Yani, Blimbing, Kota Malang.

"Pasukan ini enggak dikumpulkan dulu, terus langsung berangkat tidak, tapi berangkat sambil mengumpulkan pasukan. Jadi 168 pasukan itu tadi berangkat, kemudian ditambahi dari pondok-pondok yang dilewati," ucap Agung H. Buana ditemui MPI.

Selama perjalanan dari Malang hingga menuju perbatasan Surabaya, terdapat tambahan - tambahan personel dari sejumlah pondok pesantren yang dilintasi mulai dari Singosari, Lawang, Pandaan, Pasuruan, hingga tiba di Sidoarjo. Total dari catatan Agung, ada sekitar 500 - 1.000 tentara gabungan dari kiai, santri, hingga Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

"Pemberhentian pertama di sebuah pabrik gula di Sidoarjo. Jadi kumpul dulu di situ, mereka menyusun rencana bagaimana cara masuk Surabaya, kalau secara logika, kalau tentara ini masuk Surabaya melewati Waru, Wonokromo, itu pasti sudah dihadang oleh tentara sekutu. Makanya mereka bergerak memutar ke arah barat," tutur mantan sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).

Rute Laskar Hizbullah dan TKR kemudian bergerak terus hingga menuju Jombang, dari sana pasukan bergerak menuju Mojokerto, melalui Balongbendo, hingga terus ke utara memasuki Surabaya melalui sisi utara. Kemudian pasukan itu berhenti di permukiman warga di daerah Tembok Dukuh di wilayah Surabaya utara.

"Jadi pasukannya Malang itu tidak berada di front bagian selatan, dia muter melambung. Di situlah pasukan Hizbullah dan Divisi Untung Suropati melakukan perlawanan. Perlawanan Ini akhirnya terjadilah pertempuran 10 November, selama beberapa hari pertempuran. Akhirnya pasukan mundur, mundur, persenjataan dari sekutu cukup kuat, sehingga pertempuran tidak seimbang kita mundur-mundur," jelasnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement