Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tokoh Agama Bujuk Pangeran Diponegoro untuk Menyerah ke Belanda

Avirista Midaada , Jurnalis-Sabtu, 12 November 2022 |07:32 WIB
Tokoh Agama Bujuk Pangeran Diponegoro untuk Menyerah ke Belanda
Pangeran Diponegoro (Ist)
A
A
A

PANGERAN Diponegoro menjadi buron Belanda setelah akhir tahun 1829. Ia terpaksa memasuki hutan belantara bersama dua punakawan atau pengiring Bantengwerang dan Roto. Di tangan kedua pendampingnya ini, kebutuhan sang pangeran terpenuhi.

Sang pangeran terus memasuki hutan belantara di sebelah barat Bagelen. Hujan, panas, rasa sakit akibat serangan malaria, dan luka di kakinya tak dia hiraukan. Tekadnya untuk terus melarikan diri dan tak menyerah kendati telah di ambang kekalahan jadi modalnya. Namun, seorang jenderal Belanda Cleerens mencoba membujuknya untuk berdiskusi membuka pembicaraan dengan Belanda.

Berulang kali Cleerens mengirimkan surat ke Pangeran Diponegoro, dikutip dari buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 - 1855" tulisan Peter Carey. Berulang kali pula sang pangeran menolak membaca surat dari Cleerens.

Pertahanan diri Pangeran Diponegoro akhirnya pupus setelah seorang kawan lamanya, yang juga penghulu pangeran, Kiai Pekih Ibrahim membujuknya. Sang tokoh agama ini diutus untuk bertemu Cleerens dan mengundang Pangeran Diponegoro di Remokamal, di hulu Kali Cingcingguling, pada Selasa 16 Februari.

Bahkan Belanda telah menyiapkan penyambutan sang pangeran dengan meminta kain hitam yang cukup bagi sekitar 400 prajurit, uang tunai 200 gulden, satu payung emas kebesaran untuk menandai kepulangan status Pangeran Diponegoro sebagai sultan. Dua pasang gunting cukur untuk keperluan dirinya dan para prajurit pangeran juga telah disiapkan.

Pertemuan antara Pangeran Diponegoro dengan sang Cleerens pada 16 Februari di Remokamal terlaksana. Pertemuan keduanya berlangsung cukup lancar dan akrab. Namun, dalam negosiasi ini tidak ada satu pasal persyaratan pun yang disepakati kedua belah pihak. Sang pangeran datang dengan sejumlah pengawal dan panglima tentaranya, Kiai Ageng Bondoyudo, dan berada di depan untuk menolak bala.

Cleerens datang terlambat tetapi memberlakukan Pangeran Diponegoro dengan penuh hormat. Ia turun dari kuda di tempat yang agak jauh dari pesanggrahan dan berjalan kaki sambil melepaskan topi kavalerinya, meski di tengah terik matahari. Pertemuan keduanya dalam suasana akrab, keduanya bertukar lelucon, sang pangeran bahkan mengatakan ia tidak minta disambut dengan tembakan kehormatan salvo dari Belanda, karena selama perang Belanda telah melepaskan lebih dari 100.000 kali tembakan untuk menghormatinya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement