Bukunya menjelajahi benua-benua dan ribuan tahun, menawarkan empat situs kuno sebagai obyek pelajaran dalam kehidupan perkotaan: Angkor di Kamboja, Kota Kosmopolitan penduduk asli Amerika di Cahokia: Pompeii di masa Romawi; dan Neolithic Çatalhöyük di Turki modern sekarang.
Sementara jalinan cerita tentang kota yang hilang membuat kisah perjalanan menarik, Newitz berpendapat bahwa narasi itu terlalu sering mengaburkan kisah nyata di balik tempat-tempat paling indah bagi umat manusia.
Itu yang terjadi di Angkor, tempat saya menghabiskan sore yang cerah di tengah reruntuhan.
Newitz menjelaskan bahwa kota itu benar-benar berpenghuni ketika penjelajah Prancis Henri Mouhot tiba di sana pada tahun 1860 - memang, tempat itu tidak sepenuhnya ditinggalkan - tetapi para pengunjung tidak dapat membayangkan para leluhur bangsa Kamboja mampu menciptakan kemegahan itu.
"Pada pandangan pertama, seseorang dipenuhi kekaguman begitu dalam, dan tidak bisa tidak bertanya apa yang terjadi dengan ras yang begitu kuat, amat beradab, sangat tercerahkan, para penulis karya-karya megah ini?"
"Cerita tentang kota yang hilang menjadi begitu populer di masa modern ini - dimulai pada abad ke-19 atau ke-18 - karena itu adalah cara yang bagus untuk menyamarkan kolonialisme," kata Newitz.
"Kisah-kisah ini memungkinkan Anda membenarkan semua jenis serbuan kolonial. Untuk mengatakan 'ini bukan peradaban yang berjalan dengan baik dengan sendirinya. Dan bukti yang kita lihat dari sini adalah bahwa mereka telah jatuh dari kemegahan masa lalu yang sirna secara misterius.'"
Menemukan kota dan peradaban yang hilang merupakan obsesi bagi beberapa penjelajah dan kolonial Eropa.
Kegilaan mereka, di antaranya, didorong pencarian kota yang hilang yang paling terkenal dalam sejarah: Pulau Atlantis, yang pertama muncul dalam tulisan Plato.
Fiksinya tentang Atlantis berkembang pesat sebelum adanya kemunduran moral melahirkan hukuman ilahi.
Orang-orang yang sezaman dengan filsuf itu akan mengenali cerita itu sebagai alegori, kata sejarawan kuno Greg Woolf, penulis The Life and Death of Ancient Cities: A Natural History.
"Menceritakan mitos guna mengilustrasikan sejumlah kebenaran yang lebih besar dipahami secara luas," kata Woolf.
"Saya tidak berpikir bahwa ada orang yang benar-benar percaya [Atlantis] itu ada, tetapi hal itu adalah mitos yang paling nyaman."
"Orang-orang membaca tulisan ini pada saat yang sama dengan ketika orang-orang mendirikan koloni di Dunia Baru," jelas ahli klasik Edith Hall dalam wawancara baru-baru ini dengan History Extra Podcast BBC.
Banyak yang salah paham dengan karya Plato tersebut, karena mereka membaca kisah alegoris secara harfiah, kata Hall.
"Itu mengacak-acak pikiran mereka. Semua mengatakan kisah itu pasti di Amerika."
Ketika para pemukim Eropa bertemu dengan peradaban pribumi, tulis Newitz, mereka bergulat guna mencari koneksi ke masa lalu yang misterius, acapkali dengan gampang mengabaikan masyarakat kontemporer yang sangat nyata.
Gundukan tanah yang menjulang tinggi di sana menyaingi piramida Mesir, dan di puncak Cahokia pada tahun 1050 M, kota ini lebih besar ketimbang Paris. Pendatang baru Eropa akan sulit menerimanya.
"Travellers and adventurers would tell themselves all kinds of crazy stories, like it must have been ancient Egyptians who came here to build these," Newitz said. It was a myth that served to justify stealing Native lands widely described as "empty", they explained. Meanwhile, as in Angkor, the descendants of Cahokia's builders were dismissed as incapable of such projects.
"Para pelancong dan petualang akan menceritakan sendiri semua jenis kisah gila, seperti orang Mesir kuno yang datang dan membangun semua ini di sini," kata Newitz.
Itu adalah mitos yang berfungsi untuk membenarkan pencurian tanah-tanah penduduk asli yang secara luas digambarkan sebagai "tanah kosong", jelas mereka.
Kisah kota yang hilang juga dapat menyembunyikan kebenaran lain, tulis Newitz, seperti cara orang kuno menemukan kembali diri mereka sendiri ketika mereka meninggalkan tempat itu. Bencana dan kehancuran sering disajikan sebagai akhir dari cerita, tetapi di Pompeii dan Çatalhöyük, Newitz menemukan secercah awal baru di tengah pergolakan sosial.
Setelah gas vulkanik yang sangat panas mengubah Pompeii menjadi kuburan pada tahun 79M, penduduk Pompeii yang trauma segera mulai membangun kembali kehidupan baru di dekat Napoli dan Cumae.
Mengutip karya klasik Steven Tuck, Newiz menceritakan bahwa banyak pengungsi yang dikenal sejarawan memiliki nama yang menandai mereka sebagai liberti, budak yang dibebaskan.