Share

Belanda Bercermin Atas Kekejian Kolonialisme yang Dilakukannya di Masa Lalu Lewat Lukisan dan Artefak

Tim Okezone, Okezone · Selasa 29 November 2022 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 28 18 2716524 belanda-bercermin-atas-kekejian-kolonialisme-yang-dilakukannya-di-masa-lalu-lewat-lukisan-dan-artefak-itOn9x7CzE.JPG Ilustrasi/ Foto: BBC

JAKARTA - Sebuah pameran di Rijksmuseum berupaya menjelajahi kisah kelam perbudakan dengan menampilkan karya-karya seni yang dibuat di era Zaman Keemasan Belanda. Cath Pond menelisiknya.

Potret berukuran besar karya Rembrandt yang menampilkan Oopjen Coppit dan suaminya, Marten Soolmans, adalah dua di antara sederet harta tak ternilai milik Rijksmuseum di Amsterdam, museum seni dan sejarah Belanda paling bergengsi.

 BACA JUGA:Kawasan Lubang Buaya Tergenang Air 1,2 Meter, Imbas Meluapnya Kali Molek Pondok Gede

Dengan balutan busana mewah dan dilukis menggunakan teknik yang hanya bisa dipesan orang-orang kaya zaman itu, pasangan tersebut adalah wujud nyata era kemakmuran ekonomi dan kejayaan artistik yang biasa disebut 'Zaman Keemasan Belanda'.

Namun, jika diselami lebih dalam, kedua potret ini juga membeberkan kisah yang rumit dan meresahkan. Pasangan Soolmans menumpuk kekayaan dengan berinvestasi pada pemurnian gula yang diproduksi para budak di sejumlah perkebunan di Brasil.

Lebih dari 250 tahun Belanda menjajah beberapa wilayah yang kini menjadi Indonesia, Afrika Selatan, Curaçao, dan lain sebagainya. Di tempat-tempat inilah, Belanda memperlakukan budak pria, perempuan, dan anak-anak tidak selayaknya manusia.

 BACA JUGA:Hujan Lebat Guyur Jakarta, 4 Ruas Jalan Terendam Banjir

Perbudakan kerap disangka sebagai sesuatu yang dilakukan sekelompok kecil komunitas di luar negeri Belanda. Namun, sebuah pameran baru di Rijksmuseum membuat terobosan dengan mengungkap bagaimana perbudakan menyebar ke setiap bidang masyarakat, baik di wilayah jajahan maupun di Belanda. Perbudakan pun menjadi warisan yang masih berimbas ke masyarakat Belanda hingga kini.

"Bukan hanya elite (yang terlibat perbudakan), tapi juga para tukang yang hidup sebagai subkontraktor, seperti pandai besi atau tukang kayu yang bekerja di galangan kapal, atau juru tulis yang membuat kontrak. Jika Anda melihat seluruh rantainya, maka (perbudakan) meresap lebih dalam di masyarakat Belanda dari yang kita kira sebelumnya. Saya pikir penting untuk memberitahu para pengunjung bahwa sejarah bukan hanya terjadi di tempat yang jauh di wilayah jajahan, tapi ini adalah sejarah nasional kami dan melibatkan kita semua," kata kurator sejarah Rijksmuseum, Eveline Sint Nicolaas, dilansir dari BBC, Senin (28/11/2022).

Kaum Protestan Belanda awalnya enggan melibatkan diri ke dalam perdagangan budak. Bahkan, seorang pendeta menyebut perbudakan sebagai "penyimpangan kepausan" yang dilakukan orang Spanyol dan Portugis.

Akan tetapi sikap ini mulai berubah ketika Belanda meluaskan penjelajahan ke luar negeri.

"Menjadi jelas jika kita ingin bersaing dan merebut dari Portugis, maka Belanda harus berpartisipasi dalam perdagangan budak. Itu menyebabkan perubahan dalam pesan yang disebarkan gereja," kata Sint Nicolaas.

"Mereka (pihak gereja) mencari kisah-kisah dalam Alkitab untuk membenarkan perbudakan dan berargumen bahwa Perjanjian Lama menyebutkan perbudakan diterima ketika Nabi Nuh mengutuk keturunan Ham menjadi budak," sambungnya.

Dalam kisah itu, Alkitab sama sekali tidak menyebut bahwa Ham adalah kulit hitam.

"Argumen ini sedemikian pelik sehingga saya selalu sulit memahami mengapa itu dimungkinkan...tapi hanya sedikit pendeta yang mempertanyakannya, padahal ada bagian menurunkan derajat 'kaum lain' sebagai manusia," ujar Sint Nicolaas.

"Saya pikir penting untuk menyebutkan rasialisme bukanlah sesuatu yang selalu eksis," kata kepala bidang sejarah Rijksmuseum, Valika Smeulders.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

"Diskriminasi bersifat universal, namun melegalisasinya sebagai sistem yang membuat sebuah kelompok manusia tertentu melayani kelompok lainnya, itu adalah sesuatu yang diterapkan penjajahan. Pada akhirnya penjajahan dikuatkan oleh gagasan-gagasan rasis yang 'ilmiah'. Rasialisme dilahirkan penjajahan, bukan sebaliknya."

Bagi rakyat Belanda, memahami sejarah ini sama dengan menghadapi kebenaran yang menyakitkan. Apalagi rakyat Belanda lama menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang toleran.

Pihak Rijksmuseum sendiri menyadari bahwa mereka lamban dalam mengisahkan cerita-cerita perbudakan. "Kami pikir tidak ada obyek untuk menceritakan kisah ini dan itu adalah halangan besar di awal," jelas Sint Nicolaas.

Sejarah yang personal

Pameran ini sudah direncanakan selama bertahun-tahun. Bahkan, Rijksmuseum sampai harus memperkerjakan sejumlah staf baru yang profesional di bidangnya serta punya riwayat keluarga yang relevan.

Ambil contoh kepala bidang sejarah Rijksmuseum, Valika Smeulders. Dia lahir di Curaçao, kemudian hijrah dari Belanda ke Suriname pada 1976 ketika negara itu merdeka.

"Nenek moyang saya berasal dari Eropa, Afrika, dan Asia. Mereka orang yang memperbudak, diperbudak, dan pekerja migran. Sejarah kolonial rumit ini diterima di Karibia pada laju yang lebih cepat ketimbang di Eropa. Namun kini kami mengikuti hal serupa," katanya.

Pihak museum kemudian memutuskan untuk fokus pada kisah-kisah individu yang terlibat dalam sistem perbudakan, mereka yang diuntungkan, mereka yang menderita, dan mereka yang memberontak melawan.

Fokus pada aspek sosial, alih-alih sejarah ekonomi perbudakan, adalah hal penting ketika hendak memaparkan kisah mereka yang diperbudak, "orang-orang dengan nama dan kisah, ketimbang 'budak' tanpa nama yang dilabeli 'kargo' dalam arsip," ujar Sint Nicolaas.

Kesaksian langsung dari orang-orang uang diperbudak sungguh jarang mengingat membaca dan menulis dilarang di sebagian besar wilayah jajahan. Karena itu, tim museum harus memeriksa ulang semua objek koleksi secara kritis, memaknai sumber tulisan kontemporer secara hati-hati, dan menggunakan sejarah lisan guna memaparkan kisah mereka.

Koleksi benda-benda di museum, seperti "troncos" yang digunakan untuk membelenggu kaki budak serta "kappa" yang digunakan sebagai ceret di perkebunan gula, membantu orang-orang memvisualisasikan pengalaman mereka yang dperbudak.

Kappa terkait dengan kisah Wally, seorang budak pria yang dipaksa bekerja di perkebunan gula di Suriname.

Kisah bermula ketika pemilik baru meniadakan libur hari Sabtu sembari menerapkan sistem izin untuk meninggalkan perkebunan. Tindakan ini memicu seluruh budak kabur beramai-ramai ke wilayah hutan di sekitar perkebunan.

Saat para budak ditangkap, 19 orang diampuni. Namun, pemimpin mereka, termasuk Wally, disiksa hingga meninggal perlahan.

Kehororan kisah ini menjadi lebih mengena karena bersifat personal. Apalagi Wally dan rekan-rekannya diperlakukan secara keji atas dasar argumen agama yang diciptakan untuk kekayaan.

Mengingat Marten Soolmans membeli bahan baku gula dari makelar, apakah dia mengetahui kebrutalan sistem yang memproduksinya?

Seberapa jauh rakyat Belanda memahami penyiksaan di wilayah jajahan diakui Smulders perlu dikaji lebih dalam.

"Orang-orang bisa tahu melalui keluarga. Orang-orang kelas atas yang pergi ke wilayah jajahan bisa melihat perbudakan dan awak kapal bisa melihat perbudakan dari dekat. Jadi khalayak bukannya tidak tahu apa yang sedang terjadi saat itu," kata Smulders.

Kalaupun dia dan istrinya, Oopjen, tidak tahu kekejian perbudakan, mereka mestinya tahu ada orang-orang yang lolos dari perbudakan karena mereka kemungkinan melihat mereka saat menuju studio Rembrandt.

Pasalnya, studio milik pelukis tersohor itu berada di area yang dihuni komunitas orang-orang kulit hitam terbanyak di Amsterdam pada abad ke-17.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini