Lurus ke depan, masih di jalan masuk kampung itu terdapat sebuah masjid dengan genteng bercat hijau dan dinding berwarna putih gading. Masjid ini hanya berjarak sekitar 50 meter dari pura. Lokasinya juga berada di pinggir jalan kampung. Satu jalan dengan Susteran Gembala Baik dan Pura Karanggede.
Bangunan masjid itu lumayan besar. Ada semacam menara yang digunakan untuk memasang pengeras suara yang menghadap ke sejumlah arah.
Sekitar 30 meteran dari masjid ke aarah selatan ini juga berdiri sebuah rumah ibadah yakni Gereja Pantekosta di Indonesia (Gpdi) Pendowoharjo. Gereja ini berdiri tepat di pinggir jalan, di seberang jalan ada selokan yang cukup lebar sekitar tiga meteran. Gereja ini tampak seperti rumah biasa. Sepintas tidak terlihat jika itu adaah bangunan gereja.
Saat jurnalis MNC Portal datang ke kampung itu, tampak dua pria tengah ngobrol asyik di depan rumah yang letaknya persis di depan Pura Karanggede. Mereka kemudian menyapa MNC Portal. “Orang sini los dol kok,” ujar Samsu,35, salah satu pria tersebut sambil tersenyum.
Samsu memakai istilah los dol untuk mengambarkan betapa tolerannya warga Karanggede terhadap penganut agama lain. Menurutnya isu-isu intoleran dan SARA tak mempan di kampungnya ini. “Yang di medsos-medsos itu nggak mempan kalau di sini. Itu yang di Lampung pernah ada konflik agama Islam dan Hindu di sini juga santai-santai saja. Warga sini nggak gagas, rukun-rukun saja,” ujar Samsu.