Mayoritas warga Karanggede adalah penganut Islam. Dari 137 kepala keluarga (KK), hanya ada tiga KK yang menganut agama Kristen, dan empat KK beragama Katolik. Sementara meski ada pura di kampung itu, warga Karanggede sama sekali tidak ada yang beragama Hindu. “Dulu ada yang beragama Hindu tapi sekarang sudah tidak ada,” kata Ketua RT 01 Heri Joko.
Meski mayoritas beragama Islam, namun warga Karanggede juga selalu membantu jika ada penganut agama lain tengah ada sembahyangan. Seperti di Pura Karanggede. Setiap purnama sekali, di lokasi itu digelar sembahyang oleh umat Hindu yang semuanya berasal dari luar daerah di Karanggede. “Kami tetap bantu mulai dari parkir hingga keamanan. Saya juga tak terganggu. Pokoknya los dol ,” ujar Samsu.
Hal yang sama juga dilakukan saat di Susteran Gembala Baik digelar ibadah. Meski statusnya semacam asrama bagi para suster namun dalam waktu-waktu tertentu di tempat itu juga digelar ibadah dengan mendatangkan jemaat banyak. Warga Karanggede juga berbondong-bondong membantu.
Dengan adnya empat tempat ibadah dalam satu kampung itu, Karanggede dinobatkan sebagai Desa Sadar Kerukunan oleh Kementerian Agama. Peresmian sebagai Desa Sadar Kerukunan ini dilakukan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada November 2021 silam.
Tak hanya itu, Kampung Karanggede juga menjadi lokasi studi banding tentang kerukunan beragama dan toleransi. Ini seiring dengan Tahun 2022 yang dicanangkan sebagai Tahun Toleransi oleh Kementerian Agama.