LUMAJANG - Kepala Desa (Kades) Supiturang mengakui masih ada warga yang nekat beraktivitas dengan bercocok tanam di ladangnya di lereng Gunung Semeru. Padahal secara jarak ladang perkebunan warga hanya radius 7 - 8 kilometer dari puncak kawah Gunung Semeru.
Namun diakui Kades Supiturang Nurul Yakin, pihaknya tak bisa melarang warganya karena hal itu merupakan matapencaharian mereka. Sementara yang bisa dilakukan dengan mengimbau agar warga mengikuti instruksi yang diberikan oleh petugas dari perangkat desa, kepolisian, TNI, BPBD, hingga para relawan yang berjaga. Pihaknya juga memasang banner larangan di sekitar daerah rawan bencana erupsi.
"Kita bekerjasama bekerjasama BPBD memberikan himbauan banner bahwasanya aktivitas di zona merah nggak diperbolehkan, cuma mau gimana lagi namanya warga kayak di sini banyak yang petani cabai, petani tomat, panen tomat cabai, yang penting monggo kalau ada apa-apa ya langsung lari saja, mengimbau memberikan informasi, menyosialisasikan," ungkap Nurul Yakin, dikonfirmasi pada Senin siang (5/12/2022).
Baca juga: BNPB: Letusan Semeru Sebabkan Tsunami di Jepang Dipastikan Tidak Tepat
Nurul mengakui ladang perkebunan warga berada cukup dekat dari Sungai Besuk Kobokan yang merupakan jalur lahar dingin dan jalur guguran awan panas. "Jaraknya dari sungai 2 kilometer. Kalau jarak ladang ya 7 - 8 kilometer itu, tapi masuk zona merah," tuturnya.
Baca juga: PVBMG: Erupsi Gunung Semeru Tidak Picu Tsunami, Masih Berstatus Awas Hingga Siang ini
Sejauh ini Nurul telah menyosialisasikan ke warganya, agar sadar bila ada tanda - tanda erupsi untuk segera menyelamatkan diri. Terlebih di beberapa titik di Desa Supiturang, telah terpasang sirine sebagai penanda untuk bahaya, jika sirine itu dibunyikan oleh pihak petugas, maka warga diminta untuk segera berlari menjauh dari zona merah.
"Kita sendiri Alhamdulillah desa dan posko - posko difasilitasi sirine. Bahkan kalau ada apa-apa bisa langsung dipencet, warga dikasih pemahaman, dikasih pengertian, warga sudah tahu. ada banyak relawan ngumpul di balai desa, untuk memberikan informasi kalau seandainya erupsi lagi. Itu kan bisa membantu warga," jelasnya.
Selama ini pasca erupsi gunung tertinggi di Pulau Jawa setahun lalu mitigasi itulah yang terus diperkuat agar minimnya korban seperti tahun 2021 lalu, tidak terulang. Kerjasama dengan BPBD dan instansi lainnya juga disebut lebih baik, sehingga mitigasi bisa berjalan sebagaimana mestinya.
"Sering memberikan informasi dari BPBD dan tim pantau di Gunung Sawur itu. Kita kerjasama demi keamanan masyarakat. (Kordinasi dan mitigasi) lebih bagus, dan dari warga kita yang sudah dilatih Alhamdulillah sudah banyak peningkatan. Jadi tanggap daruratnya cepat," tandasnya.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.