Tapi hampir sama mencoloknya dengan kontaminasi itu sendiri adalah fakta bahwa reservoir Corriental tetap murni bahkan ketika waduk Istana dan Kuil menjadi beracun.
Ketika Tankersley melihat lebih dekat pada sampel Corriental, ia menemukan empat lapisan pasir terpisah yang menampilkan potongan kuarsa kristal dan zeolit yang tidak muncul di reservoir lain mana pun.
Ketika tim mensurvei daerah sekitarnya tidak ada sumber alami pasir jenis ini, apalagi zeolit, membuat para peneliti menyimpulkan bahwa bahan tersebut sengaja dibawa untuk digunakan sebagai filter di pintu masuk reservoir.
Secara kebetulan, salah satu peneliti di proyek tersebut mengetahui adanya depresiasi sekitar 30 kilometer timur laut Tikal yang menampilkan pasir yang tampak serupa yang dikenal sebagai Bajo de Azúcar.
Menurut penduduk setempat, wilayah itu memiliki air sebening kristal dan rasanya manis.
Pengujian mengungkapkan bahwa batu dan pasir Bajo de Azúcar mengandung zeolit. Besar kemungkinan, dari sana lah zeolit di Corriental berasal.
"Tanpa mesin waktu, kami tidak tahu persis apa yang terjadi," kata Tankersley,
"Tetapi tidak perlu banyak kesimpulan untuk membayangkan seseorang dari Tikal berpikir: 'Jika air manis dan bersih keluar dari tuf vulkanik kristal ini, mungkin kita bisa mematahkannya dan menggunakannya untuk membuat air kita bersih juga.'"
Para peneliti memiliki hipotesis bahwa pasir zeolit mungkin terjepit di antara lapisan anyaman daun tanaman yang disebut petates untuk membuat filter.
"Mereka menggunakan teknologi dan pengetahuan tentang lingkungan untuk memurnikan air minum mereka."
Empat lapisan pasir yang mengandung zeolit menunjukkan bahwa filter tersebut terkikis oleh air banjir selama musim hujan yang sangat deras dan kemudian dibangun kembali beberapa kali.
(Nanda Aria)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.